Usai sudah perhatian dan fokus kami kepada sang Kakak sulung tercinta. Segala daya upaya, doa, dan harapan, penuh harap meminta kebaikan Sang Pencipta agar kakak kami bisa kembali pulih dan melakukan silaturahmi kembali yang terbaik dengan keluarga di Lampung dan Bekasi ini lebih baik lagi.  Ternyata Sang Maha lebih sayang dan berkehendak lain.

Walau aku memiliki keinginan berbeda. Inginnya dirimu sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan kami adik-adik mu di Bekasi. Tapi, tak mungkin aku menolak takdir. Delapan belas tahun kita terpisah oleh jarak dan waktu. Ternyata Allah pertemukan kita di detik terakhir umurmu berakhir. Itu sangat kusyukuri, betapa Allah memberi momentum terbaik aku bertemu denganmu mbak Yeni Ika Widayanti. Kakak sulung kami dari mama Chamdanah dan papah Poniman Karyoredjo.

Sebulan penuh perhatian dan segala cinta tercurah padanya, sejak mulai sakitnya, hingga masuk ruang ICU, serta berkumpulnya kami justru pada saat sakitnya. Kesibukan dan segala faktor yang membuat kami terpisah 18 tahun lamanya karena beliau menikah dan tinggal di Lampung hingga akhir hayatnya. Dialah satu-satunya kakak kami di atasku langsung yang jauh terpisah di Lampung begitu menikah. Sementara kami adik-adik nya termasuk aku berempat kumpul di Bekasi. Qodarullah sudah takdir dan jalan kita begini ya mbak.

Kami harus mengikhlaskan kepergiannya, di 24 Januari 2019 tepat dua hari setelah miladnya di 22 Januari. Allah punya cara meminta kembali titipan amanahnya, dan mengajaknya kembali pulang ke pangkuan-Nya. Semoga Allah memberi tempat-Nya yang terbaik. Setiap kita akan kembali, harapan dan doa kembali dalam keadaan Khusnul khatimah. Begitu suaminya mas Naryo mengabarkan, bahwa paginya beliau senang karena ketiga anak-anak berkumpul dan memberi ucapan selamat ulang tahun dan menyemangati sehatnya, mbak kemudian drop jam 9 paginya. Seolah pertanda pamit.

Aku sangat shock, mendengar kabar itu, gelisah dan rasanya ingin segera terbang ke sana. Tapi tanteku dan mas memahami keadaan kami di sini. Sambil mereka berusaha untuk terus berupaya yang terbaik. Cerita mas adalah, bersyukur tidak di ruang ICU jadi mas bisa total mengurus di ruangan. Beliau sudah cuti lama sejak mbakkuh masuk rumah sakit dan kritis di ICU dua Minggu lalu. Lelah dan sedih pasti sudah terbayang, mana keponakanku masih kecil-kecil lagi duh gusti ya Allah. Kuatkan akuuuh dalam batin dan malam-malam ku yang tak pernah bisa tidur memikirkannya.

Rabu malam keadaan mbak semakin kritis, aku sempat panik dan ingin segera meluncur bersama adik-adik. Sekali lagi Tante bilang bahwa sudah ada pendonor darah segar, dan badan mbak kembali menghangat alhamdulillah. Tangis dan doa bercampur baur dalam dukaku teramat panjang di malam itu. Namun, bagai petir menyambar, begitu Kamis jam 12.10 aku dikabarkan tapi tak terbangun kusesali. Mengapa, kebetulan hari itu aku pulang cepat karena acara maulid nabi di sekolah. Pulangnya badanku panas dingin dan membuatku tertidur, dan terbangun jam 13 siang. Allahu Akbar tangisku pecah membahana. Allah telah memanggilnya, dan kami harus merelakan mengikhlaskan kepergiannya.


Selamat jalan mbak, terimakasih atas dedikasimu kepada kami adik-adik mu ini. Kita memang pernah berselisih paham, pernah berbeda pendapat, tapi itu sudah usai.  Akhir pertemuan  kita seminggu jelang kepergianmu, pelukan  kita penuh makna. Telah mbak lepas  semua ganjalan, dan kerinduan mu terpendam untuk bertemu kami semua adik-adikmu. Selamat jalan, semoga Allah memberi mu tempat yang tebaik di sisi-Nya.  Seluruh civitas akademika Muhamadiyah Lampung Fisip yang telah 15 tahun menerima pengabdianmu sebagai dosen juga merasa kehilangan. 


Pengabdianmu telah terpatri di hati kelg besar ini dan para mahasiswa yang turut mengantar kepergian mu.
Pergilah dengan tenang, telah usai semua sakit yang kau rasa, kan kujaga amanah-amanahmu yang tertinggal. Semoga kita bisa dipersatukan dalam surga-Nya, aamiiin aamiiin yra.

#Lampung, 25 Januari 2019
#selamat