Jumat, 22 Februari 2019

Darinya Kubelajar Keikhlasan dan Ketulusan Bersedekah


Aku biasa memanggilnya dengan panggilan mbak is. Simpel ya ... Padahal nama lengkapnya nggak ada sedikitpun mengandung Is. Dimana letak panggilan mbak Is nya ya? Ah kadang apalah arti sebuah nama, kalau ada panggilan akrab dan familiar membuat kita lebih dekat dengan seseorang.

Awalnya berkenalan adalah ketika aku membutuhkan bekam, sebuah pengobatan yang menggunakan alat untuk kop dan pisau tipis kecil untuk mengambil darah kotor kita yang selama ini mengandung penyakit. Berbeda jauh dengan donor darah. Kalau donor darah adalah menyumbangkan darah kita ke PMI untuk bermanfaat membantu orang lain ketika membutuhkan suplai darah akibat penyakitnya.

Sedangkan bekam adalah darah kotor yang ada dibawah kulit dan pembuluh darah kita yang kotor dan mengakibatkan berbagai sumber penyakit. Bekam ini adalah metode pengobatan yang diajarkan oleh Rosulullah. Sebagai umat Islam tentu akupun mulai mengikuti jejaknya. Sejak 2010 aku telah melakukan bekam ini sebagai metode pengobatan yang kuyakini lebih mengena dan dicontohkan oleh Rosulullah. Minimal sebulan sekali atau tiga bulan sekali jika sibuk, melakukan bekam ini.

Karena aku seorang muslimah, tentu aku ingin bekam ini dilakukan oleh perempuan yang bisa bekam atau seorang terapis akhwat. Selama ini ada, tapi jauh dari perumahanku. Alhamdulillah aku baru tahu kalau lima rumah dariku ada seorang terapis bekam. Pertama kali aku kesana, kesan yang kutangkap adalah beliau enak diajak ngobrol. Gaul, murah senyum, dan humble.

Ketagihan sekali dengan caranya membekam yang begitu wise atau bijak dan tidak pernah hitungan. Sangat terbuka dengan memberitahu apa yang terjadi pada tubuh kita dan memberikan solusi apa yang harus dikerjakan secara murah dan alternatif.

Lebih berbahagia, mbak Is ini orangnya enak diajak ngobrol dan nyambung. Dia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara yang tinggal bersama suami dan anak perempuan. Ibunya yang sudah ditinggal alm ayahnya tinggal sendiri di rumahnya. Untuk itu mbak is meminta izin suaminya untuk mendampingi ibunya serta mengurus di hari tua ibunya. Alhamdulillah ternyata suaminya pun mengizinkan.

Memiliki seorang anak perempuan yang saat ini duduk di kelas sembilan di sebuah pesantren di Setu Kabupaten Bekasi. Pernah melahirkan anak laki-laki dua kali tapi kedua-duanya meninggal pada saat umur setahun lebih. Adalah sebuah kesedihan yang mendalam kehilangan bayi yang sempat dikandung dan dibesarkan setahun lebih lamanya. Namun, beliau adalah seorang perempuan tegar yang percaya, bila anak adalah amanah. Titipan yang bisa sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya.

Bahkan bisa menjadi tabungan amal Sholeh bila kita mengikhlaskan anak yang meninggal saat sebelum Akil baligh. Wah berarti tabungannya sudah dua dong, subhanallah semoga menjadi surga baginya ya aamiin yra. Teringat diriku yang juga memiliki satu tabungan. Bayiku meninggal sebelum sempat kulahirkan saat berusia 4 bulan dua Minggu di kandungan. Semoga menjadi surga ya seperti janji-Nya.

Kembali ke mbak Is. Semakin mengenal beliau semakin memahami, betapa baiknya beliau sebagai seorang muslimah. Tidak pernah berhitung atas rezeki-Nya. Memang sudah ada acuan, tetapi ketika kita tidak punya uang sakit dan meminta bekam, beliau dengan ikhlas dan suka cita melakukan bekam tanpa hitungan berapa titik yang harus diambil darahnya.
Bahkan, usai bekam pasti kami disuruh minum air mineral kemasan gelas sampai habis, kemudian disodori makanan atau camilan untuk dimakan. Kebetulan kakaknya yang membuka toko roti sering menitipkan roti yang hari itu tidak habis untuk dibagikan kepada siapa saja. Mashaallah, rotinya enak tanpa pengawet dan besar. Kalau dihitung harganya bisa diatas 6000 rupiah. Jika tidak ada roti apa saja disuruh ambil makanan yang banyak terhidang di mejanya.

Subhanallah saya banyak belajar tentang keikhlasan dari beliau. Bahwa beliau tidak bekerja selama ini, hanya mengandalkan bekam dan berkeliling menjajakan makanan atau lauk matang yang dimasak oleh ibunya. Ada beberapa dagangan seperti Tupperware, pokoknya palugada deh. Apa sih? Segala Apa Lu Mau Gua Ada. Tapi, karena dilakukan dengan keikhlasan dan niat shodaqoh untuk beramal, rizkinya ada saja. Suaminya sendiri sudah lama tidak memberinya nafkah setelah merantau ke negri Brunai Darussalam. Entah alasan apa aku tidak pernah berani menanyakan lebih jauh, karena khawatir ghibah.

Beliau percaya dan ikhlas bahwa rezekinya adalah milik Allah semata. Allah terlalu baik padanya, yang selalu melimpahkan kasih sayangnya melalui orang-orang sekitar untuk memberikan kasih sayangnya dan kepeduliannya. Ada saja rezeki berupa makanan, jasa bekam, pesanan lauk matang yang banyak, atau pesanan dagangan lainnya berdasarkan kepercayaan.

Di situ aku banyak belajar dan mengamati sedikit kehidupannya. Bukan mengorek atau kepo ya. Tapi, untuk diambil hikmah dan ditiru bagi diri pribadi ini. Ibunya yang ridho padanyapun menjadi jalan keberkahan utamanya. Sehingga,  dengan kemauan kuat dan ringan tangannya, membuat mbak is begitu banyak dipercaya orang. Terlebih beliau murah senyum, membuat siapapun menyukai keramahannya dan sikapnya yang mudah menolong siapapun.

Itu yang bisa kupelajari dari kehidupannya dan tanya jawabnya selama ini padanya. Padahal kami hanya bisa bertemu saat aku melakukan sesi bekam bersamanya. Kadang sering kuledek dengan sayang, "Kamu tuh mbak kaya artis. Kalah malah artis juga," Susah bikin janji dengannya. Tapi kalau bertemu, sudah seperti saudara yang nggak ketemu bertahun-tahun lamanya. Kami bisa bicara dengan akrab sekali sehingga banyak tukar ilmu dan diskusi masalah setiap bertemu. Pokoknya, nggak pernah bosan selalu ingin lagi dan lagi bertemu.

Walau badannya besar dan overweight, tapi jangan salah loh, beliau begitu sehat, energik, dan murah senyum. Suamiku sering cemburu jika aku sudah bekam bisa dua sampai tiga jam ngobrol bersamanya. He he, maafin ibu ya ayah, batinku. Tak terasa enam tahun sudah kebersamaan kami. Karena kami tinggal satu RT, satu gang, makanya kamipun satu grup di WAG RT kami 02.

Walau begitu, jarang kami saling komentar atau bicara. Itu terjadi karena kesibukan kami masing-masing. Kini dia semakin mengenal bagian tubuhku ini. Tahu titik-titik mana kelemahan ku, walau sambil ngomel karena aku baru ke beliau saat tubuh ini sudah teriak sakit. Pernah sampai hampir empat bulan nggak ketemu, begitu dibekam beliau geleng-geleng kepala. Habis badanku dihajar banyak titik karena tahu aku sudah kelelahan dan masuk angin kelewatan.

Begitu sayangnya beliau padaku, sampai tempat yang tak kumintapun di bekam nya. Sungguh beliau tidak pernah hitung-hitungan. Padahal, uang yang kuberikan sejak pertama hingga saat ini tak pernah ada kenaikan. Bahkan kalau aku terus terang belum gajian beliau bilang, "Halah gampang, kaya sama siapa aja"
Aku sering malu, kalau dia menolak saat belum gajian memberikan ala kadarnya. Beliau bilang "Sudah simpan saja buat tambahan di rumah"  Sebagai bentuk balas budinya, sering aku merekomendasikan teman-temanku yang ingin melakukan bekam dengannya. Alhamdulillah banyak teman yang sudah aku referensi kan untuknya.

Semua itu belajar dari keikhlasan dan beramal yang diajarkannya. Ternyata, begitu banyak keajaiban yang perlahan kini aku tuai.

#griyabekasi, 12 Februari 2019

Sabtu, 16 Februari 2019

Ketika Panggung Resital Memanggil Kembali



Resital tak lagi melambungkan
Hanya mampu membuat bergoyang
Tak mampu lagi memaksakan
Menarik kejahiliahan melupakan

Tak perlu penyesalan
Syar'i nya telah mengiringi hijrah
Dalam balutan tanpa niqob
Abaikan kesinisan menggoda untuk kembali

Hijrahmu bukan untuk manusia
Terpilih karena-Nya bukan untuk persembahannya
Tak perlu pandangan melenakan
Nikmatnya hanya sesaat membutakan

Ya Allah, tempatku kembali hanya Lubang-Mu
Dengan pakaian kebesaran tak bersaku
Giliran ku menanti genderang-Mu
Dalam genta tanpa sorai kehidupan memanggil
Dalam sepi mengiring, 

Menggigil serpihan ucapan melayakkan . . .
Bekasi, 14 Februari 2019




Jumat, 15 Februari 2019

Ada Apa Dengan Ms Santi?


                        Sumber Foto: Google

"Pak, Ms Santi pingsan" Alizha berteriak panik. 

"Wah, saya lagi makan nih" Mr Zay dengan santai. 

"Trus gimana nih pak, Bu . . ." Alizha gemas rasanya, kok cuek aja sih, batinnya.

Segera bersama Saskia mengambil tandu di ruang UKS, melewati beberapa rekan guru yang cuek seakan tak peduli dengan kejadian, kalau boleh dibilang langka. Ms Lia yang baru selesai sholat langsung kaget dan segera panik. Segera naik ke atas.

Tak pernah terjadi sebelumnya, Ms Santi sakit apalagi sampai pingsan. Terlebih dengan tubuhnya yang besar, butuh tenaga untuk menurunkan dari lantai dua ke bawah. Tapi, untuk Alizha dan temannya sekelas adalah satu kesedihan. Ms Santi adalah guru kesayangan yang sangat perhatian dan mau mengajar dengan maksimal di kelas 12.

Sejak mengajar di kelas 11 tahun lalu, Alizha dan kelasnya jatuh cinta dengan cara Ms Santi mengajar. Detil dan mau mengajarkan dengan sabar cara matematika yang mudah. Padahal, saat kelas sepuluh mereka sudah hampir putus asa dengan cara guru sebelumnya yang lebih banyak muter-muter cara mengajarnya dan, baper habiiiis. Tapi guru satu ini, sangat disiplin namun bikin anak mau tertantang menakhlukkan matematika.

Memang sih, kami jadi terbiasa dan nyaman untuk belajar tertib dan disiplin. Kelas rapih, hening, dan disiplin, itu yang dikehendaki oleh Ms Santi. Beliau akan marah jika masuk kelas kotor, baju kami berantakan, melanggar peraturan sekolah dan sebagainya. Tapi, di balik itu semua, pada dasarnya beliau baik. Mau menyediakan waktu ekstra untuk kami bertanya dan mengoreksi semua pekerjaan kami.

Nilai yang diberikan juga terbuka, memberi kesempatan kami untuk mengejar ketinggalan. Itu yang membuat kami jatuh cinta. Syaratnya juga sebenarnya nggak sulit, kecuali memang dasarnya saja kami yang malas selama ini. Sering kali beliau memotivasi manfaat disiplin dan kebersihan. Terlebih, buat kelas kami yang jumlahnya 95 persen adalah perempuan. Jadi banyak sekali nasehat hal-hal yang berhubungan dengan keperempuanan.

Sebagai wanita Jawa, beliau dididik ibunya untuk sangat memperhatikan penampilan, kebersihan, dan kejujuran. Walau usianya hampir 50 tahun tapi beliau tetap terlihat energik dan muda dari usianya. Itu kenapa kami sedih sekali begitu melihat beliau pingsan.

Sampainya di kelas, sudah ada Abi Iwan demikian kami memanggilnya, sebagai guru agama. Juga OB yang sudah bersiap membantunya. Ms Santi sudah mulai sadar dan menangis. Menolak untuk turun dan minta istirahat saja di kelas Alizha. 

Semua siswa di kelas Alizha serempak berteriak, "Kami saja yang akan menjaganya selama di kelas, Bii."
Siswa kelas lain yang awalnya ngerubung, bahkan perwalian Ms Santi juga ikut panik dan menangis merasa bersalah. Selama ini perwaliannya memang cuek dan susah dibilangin menurut cerita Ms Santi. Kasihan Ms kalau sudah marah hanya diam tak mampu bicara. Begitu melihat Ms Santi pingsan dan kelas Alizha begitu care, baru Baltik siswi otomotif perempuan satu-satunya di kelas perwalian Ms jadi cemburu dan merasa salah.

Begitu Ms sudah enakkan dan mampu berdiri, beliau minta pulang saja. Sempat beliau agak bingung bagaimana karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Suaminya ditelpon berkali-kali tidak mengangkat dan di SMS tidak menjawab. Tapi Ms Santi mengerti, karena suami beliau sedang kejar deadline kerjaaan. Akhirnya, kami mendampingi beliau turun ke bawah. Lalu oleh Ms Lia dipesankan grab car, sedangkan motornya dibawa siswa perwalian untuk diantar ke rumah.

"Yang Alizha heran Ms, kenapa guru-guru pada cuek sama Ms Santi?" Sedang ms adalah guru tercare sama siswa kalau ada yang sakit atau kesulitan"

Alizha menyampaikan uneg-uneg nya saat Ms Santi sudah masuk dan mengajar lagi seperti biasa. Ms Santi hanya berucap, " Tidak usah dihiraukan mbak, Ms yang salah merepotkan kalian".

Ms Santi seperti menyimpan sesuatu . . .tak mampu berucap. Hanya Alizha yang masih terus penasaran, tapi tak mampu mendesak.

Bekasi, 6 Februari 2019

Rabu, 13 Februari 2019

KARENA GURU ADALAH ORANGTUA DI SEKOLAH



Beberapa saat ini kita dihadapkan pada berita yang menyedihkan dari dunia pendidikan seperti pembulian yang dilakukan siswa baik terhadap guru dan staf pendidikan di sekolah.
Contohnya seorang siswa yang melawan guru saat dilarang merokok di kelas, atau siswa yang bersama rekan nya dan orangtuanya mengeroyok staf pendidikan di sekolah. Ada apa denganmu anakku? Dimana adab yang selama ini diajarkan.

Bicara tentang adab adalah bicara tentang karakter yang sepakat ditanamkan dalam pendidikan di sekolah juga di rumah. Dimanapun anak atau  siswa berada menghargai orang yang lebih tua atau orangtua yang mendidiknya. Kepada yang lebih tua saja harus hormat, terlebih terhadap guru yang notabene adalah orangtuanya di sekolah, juga seluruh stakeholder di sekolah seperti tenaga pendidik yaitu bagian kebersihan, keamanan, TU dan lainnya.

Sadarilah anakku, sekolah tanpa stakeholder takkan mungkin berjalan. Seluruh stakeholder ada untuk saling melengkapi dalam menghasilkan output lulusan yang diharapkan memiliki karakter yang baik, dan siap menjadi warga dunia nantinya.

Namun, berita yang beredar dan viral saat ini menjadi sebuah renungan dan evaluasi bagi kita semua. Seluruh stakeholder yang ada di sekolah, termasuk orangtua. Lihat berita seperti ini miris banget Mak, guru adalah orang tua di sekolah. Saya selalu bilang pada anak-anak,  bahwa kalau kamu nggak bisa menghargai orang tua di sekolah, mengurangi keberkahan ilmu yang akan kelak diperoleh.

Kami menjadi guru bukan karena tidak punya pilihan, atau tidak ada pekerjaan yang lebih bagus lagi. Kami memilih menjadi guru karena kami mencintai siswa, ingin berkontribusi dalam pendidikan di Indonesia. Karena menjadi guru adalah ladang pahala kami untuk  menciptakan generasi dengan karakter yang lebih baik.

Saya, adalah hasil dari guru saya yang telah berhasil mendidik untuk mencintai betapa indahnya mendidik dengan hati dan ketulusan. Tak terasa 30 tahun bisa saya tuai alumni-alumni yang mulai menuai sukses satu persatu. Ingat itu ya mbak mas . . .tidak pernah ada bekas guru . ...sama halnya bekas orangtua tidak akan pernah ada.

Seharusnya tidak perlu seperti ini, jika orangtua percaya penuh kepada sekolah. Sepanjang sekolah mendidik dengan hati. Karena sesungguhnya guru adalah orangtua di sekolah. Alhamdulillah ketiga anak Sholeh saya bisa menyelesaikan sekolah tanpa perlu  intervensi ke sekolahnya. Saya didik mereka untuk belajar menghargai orangtua nya di sekolah, menghadapi permasalahan dengan lapang dada dan tanggung jawab. Itu kenapa ilmu yang mereka dapat begitu berkah alhamdulillah . . .

Adab dan peradaban itu dimulai dibangun sejak di rumah dan orang tua adalah sekolah pertama anak di rumah terutama ibu. Wajib hukumnya seorang ibu belajar dan terus belajar untuk sekolah pertamanya itu. Sekolahpun menegakkan bagaimana adab itu harus ditegakkan menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Artinya, sekolah dan rumah itu seharusnya selaras, sehati, dan sejiwa.

Tiga puluh tahun mengajar mulai jenjang pendidikan apapun, formal dan non formal. SD-SMP-SMA/ SMK hingga perguruan tinggi, tak lelah menyampaikan bahwa esensi nya pendidikan adalah proses dan pendidikan karakter. Jadi PR bersama dan harus bergandeng tangan antara sekolah dan rumah demi tercapainya hasil maksimal yang diharapkan.
Pintar itu bisa dan mudah dicapai, tapi membuat lulusan memiliki karakter untuk dipersiapkan menjadi bagian dari masyarakat dunia. Setuju ya. . .

#pendidikankarakterdimulaidarirumah
#guruadakahorangtuadisekolah

Selasa, 12 Februari 2019

Lelaki Tak Bertuan (10)



"Bagus! Dari mana saja baru pulang semalam ini?" Sebuah suara menggelegar begitu Susan dan Ammar tiba di rumah.

"Maaf pak, saya menemani ibu Susan karena acara baru selesai tadi agak malaman" Ammar dengan gagah menjawab takzim.

"Siapa kamu? Berani sekali mengantar istriku sendirian, kemana yang lain"

"Maafkan saya pak sekali lagi, Ibu Susan tidak ada barengan. Jadi, saya yang berinisiatif mengantarnya. Sayang motor saya bannya bocor, akhirnya kami menggunakan Taxi. Nggak enak malam-malam ibu Susan pulang sendiri, permisi pak" Ammar menyudahi laporannya.

"Mis, saya pulang dulu ya. Nanti saya hubungi lagi, sabar ya! Percayalah, saya tidak akan lepas tanggung jawab apa yang sudah saya perbuat ke mis." Ammar masih sempat menenangkan Susan.

Susan hanya mampu terdiam dan membayangkan apa yang akan terjadi, begitu dia masuk kamar. Heran, biasanya Faisal tidak di rumah, hanya ada anak-anak di rumah saja. Pantas tadi bungsu menghubunginya, ini toh kodenya.

"Bagus ya, rupanya sudah berani pulang dengan laki-laki brondong. Ingat ummi, nggak pantas! Kamu kepala sekolah, baru kutinggalkan rumah ini kamu sudah berani menggadaikan harga diri. Perempuan macam apa itu?" Faisal mulai memaki dengan kasar, begitu Susan masuk kamar diikuti suaminya.

"Yah, aku lelah . . .bisa kita lanjutkan pembicaraannya nanti? Sejak pulang sekolah, langsung rapat sampai jam segini baru selesai. Alhamdulillah masih ada yang peduli mengantar, karena sopir sekolah sedang mengantar siswa lomba. Hari ini acaranya barengan. Aku yang ngalah demi siswa. Jadi, please, ijinkan aku istirahat ya? Boleh?" Lembut Susan berusaha menekan segala emosi dalam jiwa pemberontakannya.

Susan hanya takut anak-anak mendengar pertengkaran mereka berdua. Sulung masih suka tidur larut malam. Terlebih ujian-ujian sekolah SMA-nya sudah selesai. Lebih banyak nganggurnya. Tapi seperti biasa sih, setahu Susan kalau ada ayahnya maka dia akan selalu menghindari pertengkaran. Sama seperti dirinya.
Faisal hanya bisa menggumam tidak jelas. Belum puas melampiaskan amarahnya, sesungguhnya Faisal rindu pulang ke rumah untuk Susan dan ketiga anaknya. Tapi ego lelakinya harus ditekan agar tidak terlihat kelemahannya. Ingin segera memeluk Susan, sudah lama istrinya ini tak disentuhnya. Tapi situasinya tidak memungkinkan . . .sejenak nafsu membara yang dibawa pulang sejak sore perlahan mereda.

Malam ini Faisal harus mengalah untuk Susan, perempuan yang telah lama diabaikan perasaan dan keadaannya. Faisal sudah lama sibuk dengan dunianya bersama istri sirinya, yang mati-matian ditutupinya, dijaganya agar jangan sampai Susan pergi dari rumah ini.

Penyesalan sudah terlambat, ternyata perempuan itu justru menambah permasalahannya. Segala usaha untuk meninggalkan tak mungkin dilakukan. Perempuan itu selalu mengancamnya untuk membeberkan semua kelakuan dan aibnya di hadapan Susan.

Kali ini Faisal lemah dan melemah. Hari ini puncaknya, dia pergi dari rumah petak yang sengaja mereka sewa untuk rumah tangga siri yang terjadi. Keuangan Faisal semakin kusut, entahlah kebohongan demi kebohongan semakin terkuak delapan tahun ini. Faisal tak mampu menutupi lagi lubang-lubang keuangan yang tergali akibat rumah tangga timpang selama ini. Faisal memutuskan kembali pulang, terlebih anak-anaknya sudah menjauh darinya sejak tiga tahun belakangan ini. Mampukah dia meraih hati mereka kembali, setelah sekian lama tak punya gigi tentang keuangan dan nyali sebagai ayah mereka. . .

Senin, 11 Februari 2019

JANGAN PERNAH


Ketika rasa tak lagi tertinggal
Yang ada tinggalah kewajiban bertahan
Menunggu keputusan tak terbantahkan
Dari pemilik kebenaran . . . .

Tidak memulai, namun juga tak menginginkan
Ketika perasaan demi perasaan dimulai
Sesungguhnya menghargai tumbuhnya asa
Sayang, di seberang  tak mengerti kerinduan angan

Terlalu ego mempertahankan
Terlalu takut mengambil langkah kenyataan
Sesungguhnya . . . .hati tak pernah salah mengambil
Keputusan mutlak pasti terbimbing.

Sebelum akar tumbang
Sebelum layu tak berkembang . . .
Segeralah menggenggam kejujuran
Atas nama kesadaran bersama ibadah

Rasa tak pernah salah melangkah . . .

Kamis, 07 Februari 2019

AKHIRNYA



"Alhamdulillah, selamat tinggal S-1" Hari ini sulungku seakan berteriak pada chat WA kami sore kemarin. Akupun membalas chatnya dengan ucapan hamdalah yang sama. 

Sujud syukur dan terimakasih atas nikmat-Mu ya Allah, atas usainya perjuangan sulungku Abang Kemal Fathurrahman menyelesaikan kuliahnya di S-1 Ilmu Komunikasi Telkom Bandung, setelah berjibaku dan melewati jalan terjal berliku.

Empat semester terlewati dari waktu semestinya, dan itu tidak membuatku gundah. Hanya, bisa dalam sedih dan terus memotivasinya untuk segera menyelesaikan. Bukan hal mudah, melewatkan kedewasaannya muncul dengan kesadaran. Perdebatan, pertengkaran, Baper, dan sejuta rasa meningkahi perjalanan menujunya. 

Namun, kepada-Nya aku berpulang. Kuadukan segala tangis dan permohonan untuknya. Aku tahu, tak mudah baginya melewati masa pencarian jati dirinya episode ke sekian.

Hingga terucap sendiri kata-kata nya.
"Ibu, Abang bosan jadi mahasiswa abadi. Abang ingin selesai, maafkan Abang, bantu Abang melewati ini semua," Tangisnya pecah di telpon terakhir jelang tekatnya menyelesaikan.

"Iya, apa sih yang nggak buat Abang? Bukankah ibu dan adik-adik adalah suporter terbesar dalam hidupmu selama ini. Ayo berjuang!" Kataku menenangkan

Juga bukan hal mudah melewati perjuangan 4 semester terakhir ini jadi total 12 semester yang dijalani. Biaya, tenaga, waktu, dan air mata turut mewarnai hari-hari nya. Namun, kesadaran itulah yang membuatku bahagia. Akhirnya kujemput kedewasaannya yang penuh hikmah. Semoga Allah terus membimbingmu menjadi qurrota ayyunku  dan adik-adik mu bang dunia akhirat, lirihku dalam bisikkan doaku.

Dan, sore ini sepulang mengambil SKL nya ini kulihat ketenangan luar biasa. Ucapannya terasa haru:
"Terimakasih ibuuuu" sedikit, tapi sungguh dalam dan bermakna bagiku. Andai pembaca merasakan sedikit saja yang kurasakan saat itu, sungguh, geletar haru dan bahagia itu menjalar hingga ubun-ubun kepalaku. Terimakasih ya Allah, akhirnya. Usai juga perjuangannya tanpa huru-hara, tanpa tragedi yang melukakan siapapun di antara kami.

Aku tak ingin menghakiminya, biarlah seberat apapun aku tetap mendukungnya dan menjadi ibu yang berbesar hati mendampingi masa-masa beratnya. Biarkan ini jadi ladang amalku dan bagian doaku yang akan diaamiiinkan  Allah. Langkah ini lebih baik daripada memilih berperang dan ikut menyalahkan. Dialah kelak yang akan menggantikan aku bagi adik-adik nya. Aku ingin dia tetap mencontoh sikap bijaksana ku, bukan aroganku yang memaksa tanpa memahami.

Hari ini? BAHAGIA tak bisa kubohongi, ketiganya adalah mutiaraku terbesar. Alasan terkuat bertahan dalam melewati kerasnya membesarkan tanpa dukungan manusia dan keluarga. Akhirnya, satu persatu miracle-Nya mulai kutuai setelah yakin, bahwa Allah takkan pernah berdiam atas usaha maksimal yang kuletakkan dalam diam. Tak perlu gembar-gembornya, yang menimbulkan apapun. Prasangka baik selalu kukedepankan, keyakinan menjadi panglima kesabaran yang kugenggam dalam lautan doa yang terus kularungkan.

Ya Allah, hanya ini yang mampu kupersembahkan pada-Mu. Atas segala nikmat-Mu yang begitu indah kau limpahkan pada hamba-Mu yang dhoif ini. Maafkan atas ketidaksabaran, keluhan, tangisan, dan apapun yang menunjukkan kelemahan ku sebagai manusia. Satu hal yang kuyakini, Engkau selalu bersamaku setiap saat dan setiap waktu

Bekasi, 5 Februari 2019

Darinya Kubelajar Keikhlasan dan Ketulusan Bersedekah

Aku biasa memanggilnya dengan panggilan mbak is. Simpel ya ... Padahal nama lengkapnya nggak ada sedikitpun mengandung Is . Dimana let...