Sabtu, 22 Juni 2019

LELAKI TAK BERTUAN (14)



"Mas, ada apa? Kenapa sepagi ini sudah muncul di sini?" tanpa tedeng aling-aling Susan langsung bicara begitu tiba di depan rumah.

"Assalamualaikum, Ms. . .apa kabar? Saya kangen, sudah beberapa hari kita nggak ngobrol. Ms nggak kangen saya?" Senyum mempesonanya melupakan kekhawatiran Susan. Duh mengapa dengan hatiku, batinnya.

"Saya khawatir Ms sakit, makanya langsung ke sini walau berisiko bertemu bapak" Masih dengan senyum penuh kehangatan.

Susan tak tahu harus bicara apa, segera dibukanya pintu gerbang. Anak-anak sudah berangkat semua berbarengan tadi pagi. Faisal sendiri, begitu menerima uang dari Susan semalam langsung pergi lagi, seperti biasa ke perempuan nya. Susan tak pernah lagi peduli. Tak enak juga ngobrol dengan Amar di depan pagar, apa kata tetangga. Semoga mereka tahunya Amar adalah mahasiswanya. Jadi, tidak ada yang curiga.

"Aku sedang tugas mas, ga enak meninggalkan pekerjaan di kantor" Begitu segelas air putih disorongkan di hadapan Amar.

Amar memegang tangan Susan, memintanya duduk. Susan tak mampu menutupi gejolak hatinya. Seakan berebut untuk berpacu. Kedua mata beradu pandang tak bicara, tapi cukup mewakili perasaan masing-masing.

"Jangan begitu mas, nggak enak kalau tiba-tiba ada yang datang." Susan mengalihkan wajahnya kemudian. Wajahnya terasa pias tapi malu. Menyadari sudah tak muda lagi. Ini harus diakhiri, sebelum hatinya lebih jauh berharap dan bermain api.

"Kamu pantasnya adalah adikku mas, jangan begitu! Masih banyak perempuan yang lebih muda dan lebih pantas bersamamu." Sakit sekali hatinya berkata itu di hadapan Amar.
"Memang kenapa? Salah? Saya kan sudah bilang sejak awal. Saya mencintai Ms sejak pertama mengajar di kelas saya. Tapi, sebelum sempat saya menyampaikan ms sudah pergi. Sekarang kita dipertemukan lagi, berarti Tuhan berkehendak, bukan?" Ada nada getir Amar saat menyampaikan.

"Jadi kalau yang tua harus dapat yang lebih tua? Begitu juga yang muda harus dapat yang lebih muda begitu?" desak Amar lagi.

"Ya, nggak juga sih. Kalau memang jodoh siapa yang bisa mengelak mas. Tapi ini berbeda, please . . .kita berteman saja ya." pinta Susan setengah memaksa.

Amar tak menyangka akan mendapat jawaban seperti ini, setelah apa yang terjadi antara dia dan Susan sebelumnya. Saat itu baginya begitu indah. Hanya sayang yang membuat gairah asmara antara keduanya terjadi.  Empat belas tahun Amar menyimpan rapat cintanya pada guru matematikanya yang sudah mengambil hatinya. Entah apa yang mendorong keberaniannya sepagi ini datang ke rumah Susan menemui perempuan impiannya. Tak ia pedulikan pekerjaan klien yang mendesak untuk dikerjakan. Hati Amar terlalu sibuk bahagia karena menemukan Susan lagi dalam hidupnya.

Susan harus bisa dan mampu menahan perasaannya. Ini sudah tak sehat, posisi nya sebagai kepala sekolah dan seorang ibu dari anak laki-laki yang sudah beranjak besar, memaksanya untuk menutup hatinya. Terlebih sulung, dia butuh perhatian lebih, setelah kecewa dengan ayahnya yang begitu dikaguminya ternyata menduakan umminya. Kalau kini Susan malah menambah cerita kelam keluarga, akan seperti apa rumah tangganya kelak?
Mati-matian selama ini Susan bertahan demi ketiganya. Mudah baginya pergi dari rumah, atau malah ikut bermain gila seperti Faisal. Tapi bukan itu yang diharapkannya. Susan tak ingin menyakiti anak-anak nya. Merekalah semangat terbesar membuatnya bertahan dari neraka masalah rumah tangganya.

"Ms, kok malah bengong" sapa Amar menyadarkannya.

Susan meminta Amar untuk meninggalkannya. Adalah kebahagiaan bisa bertemu dengan Amar, namun saat ini bukan waktu yang tepat. Susan tak ingin merusak karir dan rumah tangganya yang memang sudah rusak menjadi lebih dalam lagi. Pasti berat buat keduanya untuk menyatakan tidak ada apa-apa. Kenangan di kamar waktu itu adalah saksi betapa Susan menikmati pesona Amar walau perbuatan itu terlarang untuk mereka.
Seperti lagu Fathin . .

Inilah akhirnya harus kuakhiri . . .
Sebelum cintamu begitu dalam
Maafkan diriku . . .memilih setia
Walaupun kutahu cintamu . . .lebih besar darinya

Loh kok malah nyanyi sih hati Susan . . .sementara di sudut mata Amar ada yang tergenang berkaca-kaca.

KALI INI TENTANG ZONASI





Bicara zonasi, pasti lagi ngomongin tentang PPDB yang lagi ngehitz, bukan? Lagi viral ya, Mak? Ada yang punya masalah?

Aku mau cerita dulu tentang masa SD dan SMP ku yang sekolah dengan menggunakan sistem zonasi dan nem dulunya. Artinya, begitu lulus SD dan SMP mau ke jenjang berikutnya menggunakan sistem ini juga, hanya nem juga jadi pertimbangan.

Mengapa begitu? Di Jakarta aku memulai pendidikan ini. Lahir dan dibesarkan di kota Jakarta yang menjadi impian orang banyak. Papahku mengajak keluarga tinggal di daerah Otista III dekat pasar Istrat Jakarta Timur. Lokasinya enak mau kemana-mana, aksesnya. Ke pasar, ke sekolah, ke daerah lain, semua mudah dijangkau untuk bepergian dengan biaya minimalis.

Hanya satu kekurangannya, daerah ini dikenal dengan daerah hitam. Mengapa begitu? Karena banyak pelaku kriminal pun kumpul di sini. Tapi, bangganya dulu Mara Karma adiknya Oma Irama juga tinggal di sini sehingga berkontribusi untuk kemajuan seni, dimana aku juga senang dengan hal itu.

Lalu? Apa hubungannya? Nggak ada hubungannya sih hanya mau bercerita bahwa, dengan daerahku ini, aku mendapat SD, SMP, dan SMA yang dekat secara zonasi juga nem pendukung. Untuk SD, dulu aku  baru diterima setelah tanganku mencapai kuping. Waah cara jadul ya, iyalah. Tapi, secara usia dan akte matang yaitu umur 7 tahun.

Mamah cukup mendaftarkan setelah itu aku harus mandiri berangkat ke sekolah. Walaupun daerah hitam, toleransi dan empati orang di situ itu sangat tinggi. Maklum mungkin karena ekonominya rata-rata senasib kali, ya. Aku sih memandangnya positif ke sana. Walau secara pergaulan sempat sedikit terdampak, heu malu kalau aku bercerita masa kecilku itu.
Kenapa nem juga mendukung? Ketika aku mulai masuk SMP, setiap anak mengajukan 3 pilihan sekolah yang dekat dengan wilayahnya dan tujuan. Aku memilih tiga sekolah yang memang mudah terjangkau dengan jalan kaki atau transport murah seperti mikrolet di Jakarta sampai sekarang. Kalau di Bekasi dikenal dengan angkot istilahnya.

Nah Nem itu menyesuaikan, karena urutan terpilih adalah sekolah favorit, sedang, dan biasa. Ya, dulu ada sekolah pilihan favorit. Tapi bukan itu tujuanku, karena selain jauh mama juga menyarankan seperti itu. Aku dikenal sejak kecil dengan bronchitis. Penyakit paru-paru kering. Bila kena debu, panas ekstrem dan dingin pasti kumat. Kalau sudah sakit bisa hampir 3 minggu lamanya. Jadi dokter menyarankan agar aku banyak olahraga dan berjalan kaki.

Sesuai dugaan dan doaku, aku diterima di SMP 36 yang dekat dengan rumah dan pilihan kedua. Sekolah yang sedang dan cukuplah. Kata guru-guru SD ku berkata seperti itu. Soal ambisi memang aku tidak ke sana. Bisa bersekolah dan dekat buatku sudah Alhamdulillah sekali. Begitu juga saat masuk SMA, malah aku sempat kecewa saat diterima di pilihan ke-3. Tapi belakangan aku sangat bersyukur, karena aku justru jadi dapat panggilan universitas negri IPB karena sainganku lebih sedikit.

Anak papah itu lima orang. Walau kerja di Garuda Indonesia Airways (GIA), tidak seperti prasangka siapapun. Anak yang ditanggung untuk berobat hanya dua, jadi kalau sakit kami bergantian menggunakannya. Juga fasilitas lain, istilahnya berat keuangan papah dengan 5 anak. Kalau tidak mendapat negeri akan berat sekali buat papah untuk bisa menyekolahkan ke-5 anaknya. Jadi, walau aku tidak cocok dengan jurusan D-3 Pendidikan Matematika, harus kuambil demi membahagiakan papah dan mamah ku. Selain, tidak punya pilihan kalau tidak ingin menganggur di rumah.

Jadi kembali soal zonasi, saat ini nem ternyata tidak memiliki pengaruh apapun. Tapi dengan sistem zonasi anak kurang Nem pun harus diterima demi pemerataan. Beberapa tahun ke belakang memang sekolah favorit jadi pilihan, sehingga masyarakat di lokasi dekat sekolah tersebut jarang yang bisa diterima karena nilainya tidak mencukupi.

Pengalaman, sebagai pengajar memang nilai NEM jadi persoalan sendiri. Selain menghabiskan dana, juga menimbulkan karakter menghalalkan segala cara. Dari pembocoran soal, ke dukun, Bimbel yang harganya gila-gilaan, sampai protes belajar sekian tahun hanya ditentukan oleh ujian sekian hari. Benar sekarang kelulusan dikembalikan ke sekolah. Tapi, memang kemarin kami masih mendengar bahwa Nem adalah indikator untuk diterima di sekolah atau universitas.

Sedangkan kelulusan untuk melihat ketuntasan siswa belajar. Namun, dengan sistem zonasi yang sosialisasinya belum khatam dipelajari oleh seluruh stake holder menimbulkan kerancuan di lapangan. Wajar kalau kemudian timbul keluh kesah tak berkesudahan seperti inilah.

Ramai nian kan soal zonasi yaa, sebenarnya mengerti ujungnya ingin mengatakan hapuskan UN, tapi ditentang penguasa. UN dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan belajar siswa, padahal yang lebih penting itu adalah ketuntasan, dan yang lebih tahu adalah sekolah dan guru di kelas. Terpenting adalah indikator ketuntasan.

Semoga negeri ini semakin memperbaiki. Setiap ide seharusnya tersosialisasi dengan baik dan dipahami bersama seluruh stake holder pendidikan. Jangan serba ujug-ujug yang akhirnya timbul prasangka dan miskom. Mamak, ada yang punya pengalaman?

Jumat, 14 Juni 2019

LELAKI TAK BERTUAN (13)



Susan hanya bisa menatap wajah di hadapannya dengan diam. Sepagi ini kantornya sudah kedatangan masalah. Masalah yang datang dari seorang gurunya, bukan sibuk mengajar malah melaporkan pekerjaan rekan kerja sesama kelas  dua.

"Sekarang, Ms Muji inginnya bagaimana? Kan Luis tanggung jawab ibu! Masa harus Ms Fitri yang menangani siswa di kelas? Kita semua sudah punya tanggungjawab masing-masing, Ms." tutup Susan dengan pungkas.

"Ah, Ms Susan memang selalu membela. Mentang-mentang temennya," katanya dengan sengit.

"Loh, kok begitu komentarnya Ms, nggak boleh begitu! Saya menyampaikan sesuai profesionalisme kerja saja. Sejujurnya, Ms nggak mampu menghadapi Luis kan? Mengapa harus menyalahkan Ms Fitri?" sanggah Susan lagi.

"Tapi, Ms Fitri kan pegangan Luis waktu kelas satunya, tentu dia lebih paham dan mampu memegangnya. Kembalikan saja ke kelas beliau" celetuk Ms Muji dengan tanpa dosa.

Belum sempat Susan untuk menjawab, tiba-tiba gawainya bergetar. Diliriknya layar tertera, Amar! Ada apa pagi-pagi ini menghubunginya. Waktu yang tidak tepat, hatinya sedang kesal dengan guru yang katanya senior ini, tapi ternyata mau lepas tangan terhadap siswa berkebutuhan khusus di kelasnya. Sesuai kesepakatan setelah naik kelas dua, wali kelasnya adalah beliau. Setelah sebelumnya koar-koar dihadapan yayasan bahwa dia mampu 
menangani siswa khusus ini. 

Selama di kelas satu, dia selalu mengkritik dan menyalahkan Ms Fitri selaku wali kelasnya. Kini, di kelas dua setelah diserahkan ke Ms Muji, ternyata . .
 .
"Ya mas, waalaikumusallam apa kabar? Ada yang bisa kubantu?" katanya sopan menjawab salam Amar.

Sementara Susan sibuk mengatur hatinya yang begitu berdegup kencang. Susah payah Susan menahan senyumnya seperti ABG yang baru saja ditelpon pacar. Bisa tersebar luas gosip yang akan diterimanya, Ms Muji adalah guru yang lebih suka mencari sesuatu untuk digosipkan ke teman-teman genknya. Bangkunya diputar untuk menghindar terlihat raut wajahnya yang berbunga-bunga saat itu. Ah Amar, mengapa aku jadi kangen sama kamu sih, rutuk Susan tanpa sebal.

"Apa? Kamu sudah di sana? Memang kamu nggak kerja? Mengapa sepagi ini? Aku sudah di sekolah untuk bekerja, Mas" Susan begitu kaget. Rupanya Amar sudah berada di depan rumahnya. Susan harus segera pulang untuk menghindari fitnah. Tapi langkah pertama tentu harus mengusir guru senior usil ini dahulu. Setelah berjanji untuk segera tiba di rumahnya, Amar menutup telponnya.

"Baik Ma Muji, kita akan lanjutkan lagi di rapat mingguan kita Jumat besok ya. Karena kita tidak ada titik temu, kita akan selesaikan dengan bertemu segitiga langsung dengan Ms Fitri. Terimakasih buat pengertiannya, mohon segera bertugas lagi di kelas, anak-anak sudah menunggu sejak tadi, ok?" tutup Susan pembicaraan dipercepat.

"Saya ada tamu di rumah sudah menunggu, kasihan nggak ada orang. Saya harus menemui dulu setelah itu kembali lagi ke sekolah, oke ya!" tanpa meminta persetujuan Ms Muji, Susan segera mengambil kunci motornya di meja.

Rasanya ingin segera terbang secepat kilat bagai gadis ABG yang diapeli pacarnya. Langkahnya sedemikian tidak teratur, begitu terburu-buru. Disempatkannya mampir ke ruang TU, pamit pada salah satunya tentang keperluannya. Tak dipedulikan godaan Eneng yang selalu usil menggodanya. Begitu juga ketika melewati satpam. Bang Dasril seperti biasa sigap membukakan gerbang untuknya.

"Terimakasih ya bang, jangan lupa ditutup lagi, kalau ada tamu atau bapak Purwanto sampaikan saya ada keperluan keluarga dulu yang harus diselesaikan" Susan dengan senyum ramah dan sopan.

"Siap Ms, jangan lupa oleh-olehnya ya he he" goda Bang Dasril seperti biasa. Alhamdulillah walau berat menjadi kepsek bagi guru senior, namun rekan kerja lain seperti TU, Satpam, dan OB kebersihan begitu welcome padanya. Selain siswa, merekalah justru yang membuatnya bertahan.

BOM WAKTU KEADILAN

Andai hati bisa kupindah
Takkan mungkin semerana ini.
Bukan perempuan yang mudah ke lain hati,
Walau mungkin ada yang lebih mencintai dan mendamaikan hati

Mengapa ego besar sekali
Mencintai dengan caramu.
Berontakku tak pernah mampu
Emosimu seperti tembok Cina bagiku

Tak adil sejak dalam pikiran.
Jiwa raga pikiran dan usaha tak pernah cukup
Membuat keadilan berpijak pada pelukan
Terlalu banyak persembunyian hatimu

Katakan caraku bertahan
Melewati perjalanan tanpa kecemburuan dan tangisan
Tanyakan hatimu, mampukah bahagia
Di atas puing kesakitan yang ditaburkan?

Terbuat apakah hatimu?
Setega itu memperlakukan dan mencintai
Sedangkan perjuangan telah habis peluru tak bersisa
Bertahan demi ibadah surgaNya semata

Bila . . .
Bahagia terus dipertaruhkan
Elegi nestapa tanpa . . .

Kamis, 13 Juni 2019

LELAKI TAK BERTUAN (12)



Cerita sebelumnya:
"Siapa nama laki-laki yang barusan umi sebut? Senyum-senyum sendiri! Ayah peluk malah menyebut nama laki-laki lain. Maksud ummi apa? Jadi kepala sekolah jadi ganjen gitu? " brondong Faisal penuh amarah.

Lanjutan berikutnya:
Susan terbangun kaget, di hadapannya dengan jarak sekian senti begitu merah wajahnya menahan marah. Susan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sesungguhnya. Hanya mengingat mimpinya tadi begitu indah . . .Amar datang ke sekolah memeluknya. Susan begitu menikmati mimpi itu dengan penuh kerinduan, lalu mengapa Faisal ada di hadapannya kini?

Baru tersadar, tadi sebelum Susan tertidur Faisal sudah tiduran lebih dulu di kasurnya. Entah mengapa, tumben. Biasanya menunggu TV mati baru menyusulnya tidur itupun berhadapan punggung tanpa disadarinya. Mungkinkah Faisal merindukannya? Entahlah . . .Susan sudah lupa kapan terakhir kali ia digauli suaminya itu.

"Jawab, ummi! Siapa itu Amar? Mengapa kamu menyebut namanya saat tertidur tadi? Jawab!" Dengan galak Faisal menatapnya.

"Ah nggak kok, itukan perasaan ayah saja. Masa ummi nyebut begitu. Ngaco nih ayah," katanya pura-pura tak peduli

"Ayah sedang memelukmu, ummi! Saat kamu menyebut namanya. Ayah kangen, sudah lama kita tidak pernah saling bicara dalam pelukan mesra, kenapa?" seakan protes Faisal meluapkan emosinya.

"Entahlah, ayah tanya pada diri  sendiri. Sudah berapa lama nggak pulang ke rumah? Sudah berapa lama ayah melupakan kami?"

"Mengapa ummi yang ayah salahkan?" Giliran Susan kini mencecarnya dengan gugatan yang sama.

Belum juga Susan sempat bicara kelanjutannya tiba-tiba suara gawai berbunyi kencang seakan memekakkan telinga. Hp Faisal berbunyi rupanya, sepertinya kakaknya menghubunginya. Terlihat wajah khawatir tampak di mata Faisal.

"Iya bang Ir, gua coba jemput Bapak di sana. Tapi gua nggak punya uang, bang" kata Faisal dengan suara lirih.

Susan hanya terdiam di tempat tidurnya, tapi tak bisa melanjutkan lagi tidurnya. Padahal ngantuk sekali dia, seharian ini adalah hal yang menguras energinya. Pengawas dan yayasan seharian ini menggodanya dengan segala tugas dan masalah. Lelah dan berat matanya, tapi kejadian tadi membuat kantuknya seakan menguap entah kemana?

"Bapak sakit, umm. Kena stroke dan susah dikendalikan etek di Panjalayan sana. Ayah harus pergi ke sana menjemput dan membawa nya berobat. Abang-abang khawatir, tapi nggak ada yang bisa pulang menjemput. Mereka minta tolong ayah untuk menjemput nya. Tapi mereka baru bisa ngirim uang besok karena belum gajian. Ummi bisa tolongkah?" Suara Faisal mulai melunak.

Ayah mertua memang sedang pulang ke kampung halamannya. Beliau tinggal di rumah adiknya yang cuma satu, sekaligus besannya. Mengapa? Karena Irnata Abang suaminya Susan menikah dengan anak adiknya ayah mertua. Dalam hati Susan bersyukur, adu mulut dan kemarahan Faisal bisa dihindari. Dia sudah malas ribut dengan suaminya, egonya selalu tidak pernah mau kalah. Buat Susan lebih baik mengalah dan diam, hatinya sudah beku.
Susan hanya diam, sambil beranjak ke celengan miliknya. Uang sebanyak satu juta rupiah diangsurkan ke suaminya. 

"Hanya itu yang ummi punya, yah!" katanya datar.

"Terimakasih, nanti ayah ganti kalau abang-abang tansfer" katanya berusaha meyakinkan.

Seperti biasa, Susan tak yakin. Kalau sudah pegang uang, mana Faisal ingat . . .mungkin yang ada membaginya ke perempuan lain, ah sudahlah. Hindari ribut Susan! Hatinya selalu mengingatkan untuk sabar. Rezeki bisa dicari, sebenci apapun dia adalah ayah dari ketiga anaknya.

"Tidurlah, maafin ayah sudah mengganggu tidurmu malam ini. Tentu ummi lelah seharian bertugas jadi kepsek di sekolah" kata Faisal dengan nada bersahabat.

Susan hanya menghela napas panjang, dan segera memejamkan matanya. Bayangan wajah Amar kembali menggodanya. Hey, ada apa? Mengapa wajah itu tak bisa pergi dari pikiran nya? Apakah ini pertanda Susan sudah jatuh cinta? Tak bisa dipungkiri, Amar begitu penuh pesona dan perhatian. Hati Susan yang selama ini kering dan vrigid seakan terbangun dari tidur panjang lelahnya berumah tangga.

Apa karena tragedi hubungan kemarin, menyisakan kupu-kupu di perut dan dadanya?.Seperti desir yang senantiasa terasa jika mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Amar? Entah, Susan begitu menikmati dan tak ingin melupakannya.

Senin, 03 Juni 2019

LEBARAN AKHIRNYA 1 SYAWAL



Sore kemarin para Mak galau seperti saya bisa duduk manis kembali, ya? Sudah tenang, kan? Tanggal 5 Juni 2019 sudah ditetapkan secara serentak untuk melaksanakan Lebaran IdulFitri tahun ini. Ya, 1 Syawal kali ini dijatuhkan pada tanggal 5 Juni besok.

Kegalauan itu wajar saja sih, secara cuaca yang cukup panas. Sehingga,
Dalam riwayat Hudzaifah Radhiyallahu anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Janganlah kalian berpuasa sebelum kalian melihat hilal (Ramadhan) atau kalian sempurnakan bilangannya (Sya’ban menjadi 30 hari). Dan janganlah kalian berhenti berpuasa (Ramadhan) sebelum kalian melihat hilal (Syawal) atau kalian sempurnakan bilangannya (Ramadhan menjadi 30 hari)” [Hadits Riwayat Abu Dawud dan An-Nasaa’i] dengan sanad shahih


Situasi di pasar sendiri sejak tanggal 2 Juni mulai dipadati oleh emak-emak yang ingin menyerbu daging dan ayam untuk persiapan lebaran. Harga mulai melonjak gila-gilaan. Pagi itu untuk pertama kali setelah hampir setahun saya kebingungan dengan situasi pasar dan harga. Norak ya? Maklum, yaa. Cuma menyentuh tulisan, papan tulis, koreksian dan sebagainya. Memang? Nggak masak? Secara empat jagoan jarang makan di rumah, begitu juga saya, cukup beli di warung saja. Kami memang menganut istilah, mau makan masak atau beli di warung yang banyak pilihan.

Lebaran kali ini Alhamdulillah sulung mulai banyak di rumah sejak ramadhan walau pulangnya susah ditebak. Kadang jam 1 malam subuh sudah berangkat kerja lagi. Punya empat laki-laki di rumah dengan masing-masing pekerjaannya, workaholic semua. Beruntung sekali saya jadi ibu dan perempuan tahun ini, bisa menjalankan pola sehat saat sahur dan berbuka. Jarang ada bukaan gorengan dan es di rumah.

Bukan kurus yang dikehendaki, tetapi hidup sehat lebih dikedepankan. Mengapa begitu? Makanan kalau distok atau disediakan tentunya inginnya segera dihabiskan. Sedangkan cemilan kalau disediakan nggak cukup sedikit dihabiskan, apalagi kalau sambil nonton dan sebagainya. Berbeda waktu anak-anak masih kecil, lebih banyak persediaan buah di kulkas dan kurma yang menyehatkan.

Si ayah juga begitu, kesadaran pola hidup sehat sudah mulai tertular, jadi kalau pulang yang ditanya tentu ada buah apa di kulkas? Ahayy. Alhamdulillah pengiriman buku-buku terbitan sudah selesai dan terkirim semua, sehingga sudah mulai bisa santai, dan banyak menemani saya di rumah. Hal-hal yang tertunda selama inipun bisa kami lakukan berdua. Paling tidak, kami punya banyak cukup waktu untuk bersama.

Terimakasih, ayah. Mengerti dengan pekerjaan dan bisnis yang kami rintis di dunia penerbitan, membuat saya harus memahami satu sama lain. Kalau sedang banyak kerjaan dan dikejar deadline tentu lebih banyak sendirinya di rumah, tetapi Alhamdulillah kalau sudah kosong beliau mau menemani istrinya dengan setia mengantar kemanapun saya minta. Ahayy, jangan iri dan baper ya . . .bukan sok romantis. Hanya membayar waktu yang selama ini terlewat saja. 

Libur kali ini juga adalah waktu libur terpanjang yang saya punya, maklum secara saya adalah guru. Apalagi guru kelas 12 yang setelah ujian UNBK tidak ada lagi kewajiban mengajar di kelas. Tinggal melengkapi nilai dan pembuatan raport dan persiapan transkrip siswa saja. Biasanya bimbel Nurul Amanah siswanya sudah mulai berkurang dan ramai kembali nanti menjelang tahun ajaran baru. Hanya beberapa yang masih belajar untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah rezeki memang tidak pernah tertukar.

Jadi kalau lebaran jatuh pada tanggal 1 Syawal, sudah nggak kaget dong? Secara persiapan sudah mulai digaungkan oleh pemerintah tanggal 3  Juni kemarin. Sudah mulai masak apa, Mak? Hari ini saya mulai mencicil rendang dan opor kesukaan para kesayangan di rumah. Tenang, ibu selalu tahu apa yang menjadi kerinduan keluarga di rumah. Kalau lebaran begini, ibu harus turun gunung masak sendiri kesukaan mereka. Sesungguh, cinta dan ketulusan itulah bumbu yang paling sedap sedunia. Setuju ya, Mak?

Oh ya, hari ini saya sungguh bahagia bisa menuntaskan tantangan menulis dari RWC 2019. Tantangan menulis selama tiga puluh hari, di bulan Ramadhan pula sungguh luar biasa godaannya. Sesekali saya berutang, karena sempat dalam dua Minggu berturut-turut harus mengikuti Diklat keguruan dari Kemendikbud. Tapi Alhamdulillah bisa saya kejar.

Senangnya itu karena setiap hari ada tema yang berbeda. Seperti kata kunci yang membuat kami harus terampil berpikir apa yang terlintas di benak kami untuk dituangkan, untuk satu tema tertentu. Itu membuat otak harus terus berpikir dan diasah, untuk menuangkan. So, jadi apa yang terjadi? Syarat tiga paragraf dengan minimal tiga kalimat per paragraf bisa saya lampau tanpa sadar. Seperti orang bercerita mengalir begitu saja.

Mungkin yang kurang adalah waktu untuk saling berinteraksi dengan peserta lain. Walaupun kami saling nge-tag satu sama lain dalam satu grup, dengan kesibukan masing-masing tak cukup waktu untuk chat. Maafkan ya teman, alasan klise kesibukan selalu jadi kambing hitam. Walau sebenarnya kambing guling lebih nikmat, sih! He he. Terimakasih buat teman, PJ, dan tantangan menulisnya. Semoga tahun depan saya masih bisa bergabung bersama kalian yaa . . .

#Daythirty
#RWC2019
#OneDayOnePost

Minggu, 02 Juni 2019

HILALKU BELUM KELIHATAN



Beberapa hari ini salah satu medsosku dipenuhi curhatan tentang HILAL yang belum juga sampai di semester kedua tahun ajaran 2018-2019. Duniaku memang dunia pendidikan, apa yang berkaitan dengan si Hilal? 

Hilal di sini yang dimaksud adalah tunjangan profesional dari pemerintah akibat konsekuensi meraih SIM sebagai guru profesional yang diganjar dengan sertifikat sertifikasi profesi keguruan kami. Nampaknya, pemerintah belum bisa rutin dan tepat waktu untuk menepati janji bila kami sudah meraih itu.

Terlebih bagi kami yang non swasta, dimana honor guru belum sesuai UMR seperti pekerja lainnya, jika dianggap sebagai karyawan juga. Namun, tidak demikian denganku yang secara sadar sejak awal. Bahwa guru adalah sebuah profesi untuk pengabdian, bukan mengharap uang semata. Munafik? Nggak juga sih, tapi memang seperti yang kusampaikan kepada mahasiswaku bahwa, begitu kita menasbihkan menjadi guru, jangan berharap banyak selain pengabdian. 

Jika ingin mendapatkan makna sebenarnya dari arti sebuah label PENDIDIK.
Kalau mau mendapat lebih ya lakukan kegiatan lain, seperti usaha, berdagang, atau pekerjaan lain penunjang. Tapi kalau mau mencari keberkahan, gaji gurulah tempatnya . ..yang dijalankan dengan keikhlasan. Mengapa berkah? Ada gaji lain dari Allah selain yang manusia berikan. Pengalaman di 30 tahun mengajar adalah, ketika menikmati honor guru swasta yang secara logika manusia tak mungkin, subhanallah di situlah tangan Allah berperan.

Itulah yang disebut dengan keberkahan. Honor yang tak seberapa dibanding gaji perusahaan yang  jauuuh dari pantas, ketika dengan ikhlas dilewati nyatanya mampu membesarkan tiga jagoan ku sampai dengan lulus kuliah dan kini sudah bekerja. Ada rezeki lain di luar gaji guru yang nilainya bisa berlipat berapapun yang kita mau, tergantung niat kita.

Ah gombal saja, terserah sih semua kuserahkan pada penilaian. Dengan profesi tambahan di luar keguruan, aku mampu tak menggantungkan harapan pada gaji dan janji pemerintah yang jarang ontime. Padahal segala tuntutan selalu meminta ontime. Biarlah, semoga terus mau belajar menghargai profesi seperti di negara tetangga lainnya yang lebih wise menghargai pendidik. 

Terlebih jiwa usaha dan dagang sudah terlatih sejak kecil. Mamalah yang berperan di sini untuk bisa menularkan diri sebagai perempuan pembelajar. Walau hanya lulusan SMP saja secara formal, tapi mamah mengajariku untuk terus mengupgrade diri melalui kursus dan training yang dulu beliau dapat dari PAROKI. Pasti ada yang tahu apa itu paroki, ya kecilku agama Kristen lekat dengan keseharian kami karena orang tuaku menganut agama Kejawen.

Islam hanyalah sebatas KTP pengakuan saja, secara implementasinya jauuh dari harapan. Itu kenapa aku bersyukur mendapat hidayah untuk berhijab begitu kuliah di IPB Bogor sekaligus tonggak untuk belajar lagi Islam mulai dari nol. Kembali ke no Hilal. Jadi hilal buatku bukan sesuatu yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Namun, begitu hadir selalu kusyukuri. Seperti Allah ajarkan, berapapun rezeki bila disyukuri maka akan menjadi berkah dan akan selalu bertambah. Itu sudah kubuktikan miracle nya berkali-kali.

Apalagi begitu total di dunia pendidikan dan ikhlas jiwa raga untuk profesional, maka ada reward Allah yang sampai hari ini selalu kusyukuri. Apa itu? Semua pekerjaan tambahan, proyek, dan silaturahmiku berasal dari sini. Selain guru dan dosen, juga pedagang, aku sudah mulai merambah ke dunia penulisan, pengembangan SDM, dan banyak lagi.

Salah satunya sejak bergabung di IGI (Ikatan Guru Indonesia), JA (Joeragan Artikel) sebuah komunitas menulis yang mempertemukan aku dengan mentor sekaligus motivator super ummi Aleeya dan teh Indari Mastuti. Dua perempuan tangguh yang sudah menginspirasiku untuk terus menulis menuju keabadian karya dan kebebasan finansial tanpa batas apapun. Kurasa, im proud to be teacher for freedom everything. Mengedepankan profesionalisme memeluk begitu banyak peluang dan silaturahmi tambahan.

Jadi, masih menunggu hilal? Saya sudah tidak lagi . . .bagaimana denganmu temans? Emak guru?

#Daytwentynine
#RWC2019
#OneDayOnePost

LELAKI TAK BERTUAN (14)

"Mas, ada apa? Kenapa sepagi ini sudah muncul di sini?" tanpa tedeng aling-aling Susan langsung bicara begitu tiba di depa...