Jumat, 15 Maret 2019

TIBALAH di PENGHUJUNG WAKTU


Alhamdulillah puji dan syukur atas Rahmat dan Karunia kasih sayangnya yang berlimpah, hingga hari ini masih memberi kita rezeki sehat dan pertemuan di H-16 jelang pertemuan kita berakhir dalam KBM anakku.

Salam dan sholawat ms haturkan pada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw, yang hingga akhir zaman memberikan syafaatnya pada kita semua umatnya.

Tak terasa akhirnya kita tiba pada ujungnya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) kelas XII yang bermuara pada ujian-ujian negara berbasis komputer. Kami orangtua ananda di sekolah termasuk ms Juli sebagai orangtua sedih sekali harus melepas ananda untuk mulai mandiri tanpa kami saat ujian dan di luar sekolah nanti.

Bukan soal jadwal maju atau tidak anakku, begitu masuk semester enam awal Januari 2019 ini, semua harus sudah siap kapan ujian apapun, entah Ujian praktek, simulasi UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) sampai yang Gladi Bersih, Uji Kompetensi, USBK (Ujian Sekolah Berbasis Komputer), UNBK, hingga Pra UN (UKK) sebagai pamungkas.

Tak terasa hampir dua tahun ms mendampingi ananda, mulai dari lantai tiga sampai turun ke lantai dua kelas kalian. Dari yang awalnya protes keras, karena begitu inginnya ms Juli menanam kan kedisiplinan di awal kontrak belajar kita.

Mulai dari baju yang harus masuk, gesper, sepatu dan tali hitam, rambut yang rapih, sampai kebersihan kelas jadi syarat ms untuk menikmati kegantengan dan kecantikan maksimal ananda di sekolah sehari penuh. Walau, berat ms mengingatkan dan tak henti terus menerus mendisiplinkan ananda, menanamkan kesadaran bahwa menjemput sukses dimulai dari kesuksesan ananda menyiapkan diri sendiri untuk menerima kesuksesan nantinya.

Kalau ananda sukses merapihkan diri dan mendisiplinkan diri untuk dipimpin, sesungguhnya ananda sedang belajar menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang akan meneruskan tongkat  estafet kepemimpinan yang akan mendisiplinkan yang dipimpin oleh ananda kelak. Entah bangsa, masyarakat, anak buah, atau keluarga kecil ananda sendiri nanti saat menjadi orangtua.

Kalau ananda mau diatur dan dipimpin, tentu kelak ananda akan mengatur dan memimpin juga pada akhirnya. Sehingga siklus akan berulang, jika kita mau diatur tentu akan mudah mengatur orang, karena ananda sudah mencontohkan pada diri sendiri.

Alhamdulillah, tibalah jua di penghujung kencan mesra kita antara siswa dan guru di kelas. Besok Senin ananda akan menghadapi USBN Ujian Sekolah Berstandar Nasional. Mulailah berdoa.

Berdoa, mulai ngalap berkah dari Allah dan orangtua-orangtua kita baik di sekolah maupun di rumah, bukan ngalap berkah di kuburan, benda yang katanya keramat, atau tempat lainnya.  Kepada merekalah,  terutama orangtua kandung yang telah melahirkan kalian hingga dewasa ini. Yang terus berjuang dan berkorban demi selembar ijasah yang kelak kalian tuai. Selembar Ijasah itu tidak akan menjadi apa-apa jika tanpa ketulusan berjuang dan usaha untuk yang terbaik ananda persembahkan. Untuk diri sendiri dan orangtua ananda. 

Mereka lah keramat kalian, berkah hidup kalian sesungguhnya. Padanya terdapat ridho Allah sesungguhnya . . .Ms Juli minta maaf lahir batin,  sekiranya selama dua tahun ini terlihat selalu marah, selalu cerewet, dan terlihat sedih memarahi ananda, itu karena ms Juli sangat sayang, sebagai titipan yang Allah amanahkan di dua tahun ini.
Ms ingin saat melepas ananda, benar-benar menjadi pribadi yang kuat, tangguh, mandiri serta berkarakter kuat yang siap terjun ke tengah masyarakat dunia yang semakin bergerak di revolusi industri 4,0. Doa ms sebagai guru dan orangtua, teruslah menjadi pembelajar seumur hidup, inshaallah ananda tidak akan tersesat ke jalan yang salah. Doa ms Juli selalu menyertai kesuksesan ananda. Selamat berjuang menempuh ujian dengan hasil yang terbaik.

Ms Juli Dwi Susanti, yang sangat mencintai anak-anak didikku di SMK Yadika 13.
Juli Dwi Susanti, M.Pd. Mengampu pelajaran Matematika di SMK, selalu mencintai amanah yang Allah berikan setiap tahun pelajaran. 30 tahun sudah mengabdi di dunia pendidikan.

#GuruMenulis
#PublicSpeakingForTeacher
#IndscriptCreative
#IndscriptWriting

Senin, 11 Maret 2019

Jangan Beri Aku Dosa



Jangan beri aku dosa atas nama cinta
Terlalu mudah meletakkan tahta cinta
pada pusaran dosa. Bergelimang pun tak ingin dalam kubangan. Melaknat perjalanan cinta bersimbol prasangka

Memang manusia bukanlah Tuhan yang Maha Sempurna dan tak pernah khilaf. Sekejap pun tiada henti hindari dan berupaya berhijrah. Sungguh, terlalu berat kutanggung perih merintih.

Dalam diam, kuleburkan dosa tersirat dan tersurat. Terlalu dalam menanggung beban meminta diputihkan. Sampai tiba waktu perjalanan kehidupan dihentikan sang Maha. Akankah masih ada kesempatan sebelum kain kafan dibentangkan pertanda

#dosa
#prosais

Minggu, 10 Maret 2019

SIKLUS POTONG RAMBUT

Sumber google

Sejak zaman dulu rambut ternyata juga jadi mahkota siswaku . . . .mau dipinjemin kuncir rambut nanti setelah lulus atau sebelum ujian #eaaaaaa . Itu yang sering kukatakan pada siswa di kelas jika kedapatan rambutnya menebal atau memanjang kedepan poninya. Duh kalah poni kuda he he, bercanda ya, Mak. Lihat komentar-komentar asyiknya, bikin gemes bin sedih buat para guru di sekolah. 


Setiap jelang ujian apapun di sekolah, atau Wakasek bagian kesiswaan keliling kelas, atau para wali kelas dan guru mata pelajaran yang gerah melihat rambut siswa yang tidak mau di cukur karena merasa ganteng. Mereka menganggap bahwa rambut tidak mengganggu proses KBM di kelas. Kata siapa? Pasti menghindar bagaimana caranya jangan sampai dicukur sekolah.



PERATURAN di MATA ANAK MILENIA

Maunya nggak mengingatkan lagi arti penting adab dan etika belajar buat anak-anak apalagi pejuang UNBK kuh di kelas sendiri maupun kelas bimbingan lainnya.  Tapi begitu disampaikan tentang kerapihan dan kedisiplinan saat jelang USBN atau UNBK nanti, bagian dari peraturan mulai lagi keluar protes mereka.

Padahal sekolah adalah tempat menempa dan melatih kemudi kedisiplinan yang akan mereka kendalikan hingga dewasa nanti. Kelak mereka adalah calon pemimpin bangsa, imam dalam rumah tangga, pemimpin perusahaan, bahkan setiap mereka adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya.  Bagaimana mereka akan mampu mengatur, memimpin, mendisiplinkan yang dipimpinnya, jika diri mereka sendiri tidak pernah mau dipimpin atau di disiplinkan? Sejak dini?
Akhirnya tulisan di blog ini bergulir lagi untuk mereka 

https://misjulie.blogspot.com/2017/12/student-zaman-now-kena-razia-ituu.html?m=1

Keingetan tiga anak laki-lakiku sendiri,  karena kutanamkan kesadaran kalau sudah panjang harus dicukur,  akhir bulan pasti minta uang buat ke tukang cukur.

Bahkan yang tengah karena SMK nya menerapkan rambut ala militer 1-2 cm sudah gatal sendiri kalau lewat dari itu. E-tapiiiii begitu lulus, ketiganya pernah mengalami rambut panjang setahun-dua tahun coba-coba merasakan "rambut dikuncir kek mana sih" . Risiko kunciran rambut ibu sering habis atau hilang bisa ditebak . . .yang pakai siapa?

Tapi semua sudah berlalu. Terakhir bungsu, Alhamdulillah sudah TOBAT semua. Sekarang sudah normal laki-laki semua. Bukan laki-laki yang menyerupai perempuan karena rambutnya panjang.

Ada yang punya cerita sama dengan ms Juli, Mak? Asyiiik loh . . .melewatkan tumbuh kembang anak-anak kita maupun siswa
#menanamkandisiplin
#jatidirianakmuda
#bermulasoalrambut
#hminenambelas
#pejuangunbksmk
#disiplinitumulaisejakdini

Sabtu, 09 Maret 2019

Ketika Rindu Mulai Patah


Dalam bisu membalur pilu
Denting piano tak lagi merdu
Malam terasa sendu kelabu
Sudut rindu tak lagi memacu

Dalam riak ada gelombang menggelegar
Cinta tak lagi berpendar
Terkikis meluap dalam isak besar
Perjalanan bukan lagi mengakar

Merona hati kini tak lagi
Mengecup bunga kantil elegi
Menjadi pilihan yang tak alergi
Melalui serpihan terserak janji-janji

Dalam deru tsunami hati mulai menggema
Tak perlu disesali dalamnya bara
Keyakinan berpijak takkan lagi merana
Karena rinduku patah menghiba

Pergi menjauh meninggalkan akarnya yang telah lemah menghilang

Bekasi, 9 Maret 2019

Luka Itu Menuju Kematian Hati


Memerah luka tanpa menyayat.
Bagai memercik cuka dalam irisan tanpa darah.
Meriak gelombang tanpa menepuk.
Lebih dalam dari menggunting dalam lipatan lainnya.

Jika hidup hanya seperti lampu
Setelah putus atau redup usai maknanya
Takkan ada kelanjutan peristiwa
Karena perginya kehidupan hanya permainan

Dunia bukan panggung sandiwara
Emosi tak perlu dikedepankan
Dalam diam biarkan luka menganga
Tak perlu dirasa dalam pikiran berkepanjangan

Getir perjalanan hanya siklus biasa
Pada setiap mahluk tanpa nyawa
Tak perlu rona dalam kehidupan . . .
Sejatinya matinya hati tak perlu ditangisi.

Episodenya penuh luka menganga dalam datar hati tanpa kata

Guru Hebat itu Nggak Harus Berbakat


Siapa bilang jadi guru itu harus berbakat. Itu pertanyaan yang sering saya terima ketika ada pertanyaan apa profesi saya. Mereka akan selalu berkata, wah kamu memang sudah berbakat mengajar sejak SMA, Juli! Terlebih jika mereka bertanya lebih lanjut lagi, apa mata pelajaran yang saya ajarkan.

Mendengar kata MATEMATIKA, langsung terlontar. 

"Wah, pelajaran yang aku benci sejak kecil." Atau,
"Aku selalu gagal paham untuk pelajaran yang satu ini."
"Salut ya Juli, kamu memang pinter matematika dan berbakat mengajar sejak kita SMA." Jika bertemu teman alumni SMA saat reuni.

Kembali saya hanya tersenyum dan berpikir keras dalam hati. Mereka tidak pernah tahu. Bagaimana saya terdampar di bidang ini. Begitu berliku jalannya untuk menemukan profesi guru dan mata pelajaran Matematika yang kini hampir 30 tahun kugeluti.

Lahir sebagai anak ke-2 kata papah hanya saya yang mau diajar beliau dengan patuh. Walau sepulang kerja letih dan emosi ikut bermain, saya tetap sabar menghadapi papah yang susah payah mengajari dengan modal buku TANGKAS matematika. Sayang, di SMP papah nggak bisa mengikuti pelajaran saya lagi, dan guru matematika SMP juga jarang masuk kelas, kalau masuk kelas hanya marah-marah saja sambil merokok dan hanya memberi tugas.

Namun begitu, saya tetap rangking 4 dari 165 anak keseluruhan empat kelas pararel. Hanya, di kelas 9 karena sakit Bronkhitis sejak kecil kumat, dua Minggu menjelang ujian rangking saya jatuh ke 9 saya pengumuman kelulusan.

Saya baru bisa bangkit lagi menyukai matematika di kelas 10 SMA saat bertemu dengan Bapak Sinaga yang killer tapi baik dan runtut saat mengajar. Terus terang, tipikal mengajar saya, kurang lebih mencerminkan beliau. Karena lewat beliaulah kesukaan akan matematika saya kembali bangkit. Sampai kelas 12 saya berhasil mempertahankan nilai matematika 9 di raport.

Sayang, saya mendapat PMDK di D-3  Pendidikan Matematika IPB. Jujur saya takut dan nggak ingin jadi guru. Hanya papah bilang, beliau tidak akan mampu menguliahkan saya jika tidak mengambil beasiswa ini. Sebagai anak yang patuh tentu saya harus menyenangkan orangtua. Padahal selama tiga tahun saya harus ngos-ngosan berpacu dengan anak seluruh Indonesia dalam kelas saya untuk tidak DO itu berat sekali. Kalkulus menjadi pelajaran momok buat saya, saat kalkulus 3 nilai saya D ya Allah beraaat Dilaaan.

Ternyata kini setelah menjadi guru hampir tiga dekade, kunci keberhasilan adalah, berani magang dan praktek selain kuliah. Kalau melulu teori, yang ada stress. Untungnya, saya sudah berani mengambil privat dan mengajar sejak semester pertama. Sehingga agak mengimbangi nilai-nilai kuliah juga diluar matkul matematika. Selain untuk menambah keuangan selama menjadi anak kost.

Catatan yang kedua adalah ber-network dengan kakak kelas, dalam artian buka link SKSD sok kenal sok dekat. Saya memang senang berorganisasi sejak kecil. Jadi sejak kuliah saya masuk di GUMATIKA gugus mahasiswa matematika di situlah saya menjalin link ke kakak kelas atau alumni. Alhamdulillah lulus dengan nilai pas-pasan itu sudah bagus. Karena buat saya matematika kampus itu susah dan beraaat. Itupun banyak dibantu kakak kelas, walau kadang kakak kelas laki-laki sering salah sangka dengan kedekatan saya kepada mereka. Curcol masa mahasiswa dulu.

Kini takdir saya menjalani sebagai guru, sejujurnya, awalnya terpaksa. Tapi, semakin ditekuni dan dipelajari ternyata asyik juga loh. Dan, kini saya justru enjoy mengajar di Matematika ketimbang pelajaran lain. Bangganya sempat mengantarkan siswa olimpiade ke tingkat nasional walau akhirnya kalah. Karena kami berangkat dari Kabupaten Bekasi.
Begitu banyak pelajaran dan filosofi matematika yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai hari inipun, saya terus belajar bagaimana menakhlukkan matematika agar mudah ditangkap anak di kelas.

Jadi? Apakah butuh bakat? Tentu tidak. Hanya butuh kemauan dan ketekunan untuk belajar lagi seperti siswa di kelas. Ada yang punya pengalaman lain?  Yuk berbagi

LANTUNKAN DALAM SUJUDMU



Pagi ini yang  ms Juli dapat adalah, "Setiap yang bernyawa itu pasti memiliki permasalahan hidup." Dimana, besar kecilnya tergantung sudut pandang. Karena, Allah tidak akan pernah menguji hambanya di luar kemampuan hambanya. Makjleb banget dan sangat menyentuh perasaan yang sedang Gegana, karena hidup. 

Jadi kalau menurut kita dan lingkungan yang menilai ini besar, berarti Allah percaya mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah sebesar itu dan begitu juga sebaliknya. Walau kadang sebagai manusia ms merasa masalah yang dihadapi beraaat DILAN. 

Masalah itu ternyata tidak selesai jika hanya dikelah-keluhkan saja, curhat sana-sini pada manusia sampai nangis pula,  apalagi yang tidak mengerti permasalahan sebenarnya. Karena, bukan nya selesai malah menambah pikiran dan permasalahan. Paling tinggi hanya kasihan dan memberikan nasehat, yang nggak mengerti malah hanya menyalahkan kita saja, untuk apa? Pandangan saya hanya berpusat pada dan untuk mahluk saja. 


Sampai pada akhirnya muhasabah pagi ini begitu menyentuh. Lebih baik, kita minta kepada Allah sang Maha yang pasti memberikan masalah yang sudah pasti sepaket dengan jawabannya. . .walau dengan pembelajaran dan melalui usaha keras untuk solusi. 

Berpostif thinking bahwa ini adalah bentuk sayang, jalan untuk naik kelas, atau prasangka baik lainnya. Karena, Allah itu sebagaimana prasangka hambanya. Tidak dikatakan seseorang beriman jika belum diuji dengan kesulitan, permasalahan, kekurangan, kelaparan, dan lain sebagainya. Bagaimana mau naik kelas kalau indikator kelulusan ala Allah saja kita belum mampu melewatinya #tsaaaah pake indikator. Maklum guru, nggak jauh-jauh dari bahasa kurikulum begitu deh Ahayyyy.

Jadi, apapun-bagaimanapun keadaannya segera bersujud dan lantunkan kata-kata cinta kita  pada-Nya. Bisikan segala keinginan, keluhan, kemarahan, tangisan,  dan segala yang ada di hati kita. Sekalipun hanya soal sandalmu yang rusak istilahnya sampaikan saja. Karena, Allah senang jika kita selalu meminta-Nya dan percaya hanya Dia yang bisa memberi jalan keluar dan mengabulkan doa-doa yang terkayuhkan. Allah-lah tempat sebaik-baiknya mengabulkan permohonan.

Untuk itu ms Juli mengajak, mari berbisik pada bumi yang akan didengar oleh-Nya. Dalam setiap sujud kita baik sholat wajib maupun Sunnah. Inshaallah, dengan keyakinan bahwa Allah mendengar dan mengabulkan apa yang kita lantunkan, sampaikan. Cepat atau lambat. Selain hati lebih tenang, kita juga selalu percaya bahwa sebaik-baik manusia adalah bergantung pada Robb penciptanya bukan pada manusia lainnya yang suka PHP (Pemberi Harapan Palsu). Sedangkan Allah kita adalah PHP (Pemberi Harapan Pasti).

Setelah itu dengan sikap berserah diri, tawakal, serahkan hasil komunikasi hati kita dengan-Nya. Inshaallah Allah berikan yang terbaik sesuai kebutuhan, bukan kita inginkan. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan di dalamnya, ambil segala hikmah yang terjadi pada kita. Wallahualam Bi showab. . .

Dhuha dulu yuk maaak

#selfreminder
#muhasabahpagi
#setiapharibelajarlagi

TIBALAH di PENGHUJUNG WAKTU

Alhamdulillah puji dan syukur atas Rahmat dan Karunia kasih sayangnya yang berlimpah, hingga hari ini masih memberi kita rezeki sehat ...