Minggu, 20 Oktober 2019

Catatan Mis Juli (6)


Kisah sebelumnya:

http://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-5.html

Akhirnya Selesai S-1 Pendidikan Matematika.

Cerita ini penuh perjuangan tangis air mata darah dalam bahasa hiperbolanya. Betapa tidak. Ms Juli nekat mengambil kuliah dimana dulu selesai hanya sampai D-3 Pendidikan Matematika di IPB Bogor pada tahun 1993. 1994 penempatan sebagai CPNS di SMPN 5 Kepahiang Bengkulu Sumatera, namun tidak diambil karena keluarga berat melepas ms jauh dari Bekasi.

Kini seiring dengan UU Dosen dan Guru ms Juli bertekat menyelesaikan S-1 Pendidikan Matematika, ini juga berkat dukungan pengawas UPTD Tambun Selatan alm bapak Nyoman. Walau berjarak 15 km dari rumah dan ditempuh dalam waktu 1 jam, ms Juli harus berjuang untuk selesai. Terlebih didaulat menjadi ketua kelas di kampus. Perkiraan 1,5 tahun selesai belajarnya. Mulai tahun 2015 wisuda 2017 saat itu.

Ms mau cerita perjuangan untuk bisa kuliah. Waktunya adalah hari Minggu belajarnya. Padahal cuma Minggu bisa istirahat dan bertemu anak-anak kesayangan. Namun dukungan mereka menguatkan ms Juli. Kuliah mulai jam 8 sampai jam 3 sore. Praktis ms hanya punya waktu tersisa mulai jam 5 sore ke atas. Subhanallah jangan ditanya dukungan ketiga jagoan Sholeh.

Senin sampai hari Sabtu ms Juli sudah berangkat dari rumah untuk mengajar jam 6.30  dan pulangnya privat di bimbel besar sampai privat kelompok dari rumah ke rumah pulang jam 9-10 malam. Itu sejak 2004 sampai 2007. Terkadang kalau ada orangtua curhat atau kehujanan harus neduh bisa pulang sampai jam 12 malam. Jangan tanya rasa takut kemana. Sudah hilang entah terbang kemana.

Semua ms Juli lakukan demi kuliah selesai dan anak-anak di rumah bisa makan dan sekolah dengan tenang. Soal rumah walau ngontrak Alhamdulillah masih kebayar, yang penting bisa berlindung dari hujan dan panas.

Jika mau ujian Semester harus ke pusat di Cijantung Jakarta. Itu aduuh, ijinnya susaah banget, dipersulit oleh kepsek dan yayasan. Namun, ms bertekat apapun harus selesai tepat waktu agar biaya juga tidak berlarut-larut. Begitu juga saat mau selesai harus nyusun skripsi. Proses mengajukan judul skripsi sangat dipersulit oleh kaprodi Matematika. Dosen perempuan juteknyaaa minta ampun. Nggak ada toleransi kami guru, juga mahasiswa. Tidak mudah seenaknya minta ijin untuk bimbingan.

Dulu belum kenal the POST jadi butuh air mata bombay berliter-liter di bantal. Waduh segitunya, biasa, kiasan ms Juli. Menggambarkan betapa perjuangan selesai skripsi sangat tak mudah.

Alhamdulillah dengan dengan sujud syukur akhirnya selesai juga tepat waktu. Pulang privat jam 9 malam terkadang sampai jam 1 malam ngetik, ngeprint di rental. Karena belum punya mesin komputer sendiri di rumah. Laptop atau notebook apalagi. Mau pakai fasilitas di sekolah kok rasanya nggak etis. Ya sudahlah, nikmatnya begitu selesai nggak ada yang nyebut -nyebut jasa kelulusan ma Juli.

Semua ms Juli kerjakan sambil ngajar, privat, ngurusin keluarga dan banyak lagi tanggung jawab ms Juli. Mashaallah. Sangat nikmat perjuangannya. Yang ms Juli ingat detik-detik menjelang kelulusan adalah, harus pindah rumah, tahap pengajuan menjadi kepsek,  ribut dengan adik-adik kandung karena dianggap ms Juli nggak peduli dengan perceraian adik kandung ketiga yang perempuan dengan suaminya.

Berat, sangat berat, biar ms Juli saja korbannya. Eeh kaya Dilan saja ya, sungguh. Empat hal berbarengan. Mengapa pindah? Karena saat itu anak ms Juli yang main di Entong Abu Nawas dan jadi pemeran antagonis Memet sudah mulai dikejar wartawan. Sinetronnya mulai kejar tayang dan namanya beranjak terkenal. Jadi mulai nggak nyaman jika harus diganggu wartawan untuk wawancara dan sebagainya.

Kedua mengapa pindah, karena biar dekat ms Juli mengajar berangkat ke sekolah hanya berjarak 5 menit dari rumah. Saat itu Ms Juli bertekat memberi contoh yang baik agar jangan kesiangan. Jarak rumah lama ke sekolah  adalah hampir setengah jam kalau lagi padat jam sibuk sekolah dan kerja. Kalau nggak sih hanya sekitar 10-15 menit paling lama.

Akhirnya, ms Juli bisa pindah, wisuda, dan diangkat jadi kepsek itu adalah sesuatu yang bikin bisul rasanya sudah pecah semua. Luarr biasa tangis haru menyertai mengapa begitu haru terasa.  Tak perlu berlarut-larut dalam eforia kemenangan atau kelulusan, tugas di depan mata tak mungkin bisa diabaikan. Yaitu memimpin sekolah PDGS untuk kurun waktu dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Bukan hal mudah juga penuh airmata juga melewatkannya.

Lalu? Bagaimana dengan privat? Dan mengajar di Bimbel? Dengan kesadaran, dan permintaan Abang sulung, agar ibu tak lagi mengajar sampai larut malam. Abang meminta untuk membuka bimbel di rumah.

Awalnya Ms Juli pamit baik-baik kepada bimbel dan orangtua bahwa ms Juli diminta anak-anak di rumah berhenti. Banyak bimbel dan orangtua yang keberatan, ms Juli cuma bisa pasrah akan kehendak ini. Yakin bahwa rezeki Allah untuk ms Juli tidak akan tertukar. Saat itu benar-benar nothing too loose. Tanpa beban benar-benar melepas semua dengan kepasrahan.

Barokalallah, selalu melibatkan Allah dalam pekerjaan dan hidup ms Juli. Di luar dugaan orangtua masih ingin lanjut dan mau datang ke rumah pindahan. Mereka nggak sanggup jika anak-anak yang selama ini menjadi pegangan ms Juli harus berganti guru lagi. Selama ini mereka sudah sangat cocok dengan bimbingan ms Juli.

Ditambah siswa bimbel  yang mendaftar ada 40 siswa yang memulai belajar pertama di rumah baru ms Juli. Luar biasa, capek? Jangan ditanya. Namun setidaknya sekarang nggak usah keliling seperti sebelum ada bimbel di rumah. Dengan biaya masing-masing adalah 100k. Malukah ms Juli? Tidak, karena pekerjaan kepala sekolah kan di sekolah. Sementara ms di rumah mengerjakannya setelah tugas kepala sekolah selesai semua. Jadi tidak mengganggu pekerjaan masing-masing.

Berita baiknya adalah setelah itu Ms Juli bisa mengajukan tunjangan profesional sertifikat pendidik atau sertifikasi guru. Melalui pelatihan PLPG (pendidikan dan latihan profesi guru) selama 10 hari dan bila lulus baru mendapat sertifikat sertifikasi dan berhak mendapat tunjangan dari pemerintah.

Syarat untuk pengajuan adalah S-1 pendidikan, ada NUPTK, dan linier dengan mata pelajaran yang diajarkan, minimal mengajar 5 tahun, sudah diangkat menjadi guru tetap. Alhamdulillah dalam hal ini yayasan mendukung dan memberi kemudahan. Ini semua adalah anugrah menyelesaikan S-1 pendidikan Ms Juli. Kelak ke depan akupun menyelesaikan S-2 Pendidikam MIPA sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh ms Juli setelah jalan panjang perjuangan di dunia pendidikan. Semoga ini menjadi semangat bagi anak didik dan keluarga di rumah. Aammiin yra. 

Sabtu, 19 Oktober 2019

Catatan Mis Juli (5)



Kisah sebelumnya:

http://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-ms-juli-4.html

MENJADI SAHABAT BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Ada cerita menarik yang pernah ms Juli rasakan saat mengajar di SD putradarna global school (PDGS). Dua tahun berturut-turut dititipin dan diamanahi anak berkebutuhan khusus. Apa sih pengalaman ms Juli sampai disuruh hendel anak berkebutuhan khusus? Memang punya keahlian apa?

Gini, aku kan punya anak 3 laki-laki yang lahir dalam empat tahun sekaligus tiga. Nah nggak ada yang tahu kan? Bagaimana beratnya membersamai mereka saat dalam krisis moneter, nggak ada dukungan, dan pegangan. Apalagi ketiganya sangat aktif, nggak bisa diem, ada saja polahnya.

Ms Juli nggak punya sesuatu yang harus dipelajari, dicontohi, hyperaktif kata dokter. Nah, aku banyak eksperimen sendiri sambil menyeimbangkan agama sebagai pembekalan. Alhamdulillah dalam kesempitan, kesendirian, ms bisa perlahan menangani anak-anak dengan mengajak berdiskusi mereka sejak kecil. Sejak di dalam kandungan sampai mereka lahirnya, memberi pengertian dan kesadaran.

Contoh saat di kandungan,
"Dek, ibu lagi sedih banget nggak bisa bawa kamu cek ke klinik. Maafin ibu ya, habis uang kita cuma cukup buat makan. Sabar ya, ibu percaya adek kuat, sehat, dan jadi anak yang ibu banggain"

Ini terus ms Juli ucapkan sampai dia umur 20 tahun kini, Alhamdulillah sehat, santun dan kuat. Padahal nggak sempet diimunisasi karena keterbatasan. Tapi sejak kecil hyperaktif ga bisa diam sampai kesiram air panas satu panci dan kakinya melembung kaya balon. Ya nggak kapok, yang penting barang-barang yang bahaya diamankan dari jangkauan. Itu trik ms Juli.

No dua juga gitu bibir hampir belah karena kena cutter heu, sulung kena knalpot walau sudah diingatkan jangan mendekat dan sebagainya. Sifat anak ingin tahu.

Nah dengan hanya modal megang anak sendiri lah, ms Juli berani menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Yang penting kuncinya adalah kerjasama dengan orangtua. Selama orangtuanya paham dan mau diajak komunikasi ms Juli nggak masalah. Ternyata kuncinya memang hanya itu kok.

Masih ingat namanya Azhali Chandra. Panggilannya ai, sibungsu dari tiga bersaudara, yang apa saja dipegang dia kalau nggak patah ya berantakan. Dijadikan ketua kelas anak perempuan pada dipukuli pantatnya. Begitu banyak aduan setiap hari. Tapi ms Juli tetep percaya sama Ai bahwa dia bisa menjadi anak hebat, pintar. Hanya belum ketemu dewasanya saja untuk menyadari mana yang baik dan salah.

Kadang manjanya datang, kerasnya lebih banyak. Ya ms Juli tetap tegas menghukum sambil dipeluk, disayang, diajak diskusi dan sebagainya. Alhamdulillah sampai kelas enam lengket sama aku. Berteman sama ibunya sampai hari ini, eh tahu nggak sekarang dia masuk jurusan apa di SMK? Di TATA BOGA loh. Dia mau jadi chef handal kata mamanya. Suka lihat postingan kue dan makanan yang dia masak. Duh ms doakan semoga sukses ya anakku.

Begitu juga siswa yang namanya TROY. Luar biasa hyperaktif nya. Karena bapaknya polisi, ada saja setiap hari anak yang dipalak sama dia. Pernah satu kelas orangtua nya nggeruduk ms Juli minta dikeluarin, laah jangan gitu ma. Tugas ms mendidik, nggak ada orangtua mau punya anak seperti ini, ayolah kemon cari solusi dan jalan terbaik.

Begitu ms homevisit, ternyata anak ini sering dikerasi ayahnya dan diancam dengan borgol. Itu kenapa melampiaskan kekesalannya kepada teman di sekolah. Akhirnya setelah orangtua diajak diskusi dan pengertian akibat yang ditimbulkan  serta risiko yang ms terima dari orantua murid, baru mau bertindak dan bekerja sama. Tetep, walau polahnya nggak bisa diam di kelas, paling tidak mbuli dan malak temannya sudah berhenti. Karena orangtuanya mau diajari untuk selalu memeluk Troy. Kini dia sudah kuliah dan sangat pintar, terakhir ketemu ms Juli dengan seragam SMA nya ganteng banget, gagah dan cerdas terlihat.

Begitu juga namanya Evan. Dengan kacamata tebal, ingusan, tapi galaknya minta ampun. Kalau marahnya sudah timbul, tenaganya bisa melebihi orang dewasa. Sering ms minta kalau dia lagi nggak masuk, teman-teman nya diajak untuk peduli menyayanginya, mengajak lembut dan bermain. Tapi kalau lagi datang kerasnya diamkan jangan sampai kena pukulannya, nanti juga diam sendiri.

Ayah ibunya over protect sekali, karena sebenarnya dia malu punya anak seperti Evan bungsunya yang daya tangkapnya rendah tapi melarikan ketidak mampuannya dengan cari perhatian. Kebetulan di SMK ms Juli ketemu lagi di kelas. Ternyata dia korban pembandingan ayahnya. Yang selalu bangga dengan sulungnya yang ganteng, pintar, dan nggak nakal.  Jadi bawah sadarnya sengaja berbuat untuk mendapatkan perhatian dari ayahnya. Oalah

Banyak orangtua yang tidak menyadari sikap dan ucapannya adalah doa, kadang menyakiti hati anaknya. Tapi anak tidak mampu mengungkapkan langsung. Bisanya melalui perbuatan. Mis komunikasinya di sinilah, anak tetap dianggap anak kecil, padahal aku selalu mengajarkan di kelas untuk bersikap menjadi anak dewasa. Walau masih kelas dua SD.

Memang kini ms Juli mengabdi di SMK lain, tapi banyak anak-anak yang waktu SDnya jadi walasku, ketemu lagi di kelas pelajaran matematika. Alhamdulillah mereka memahami cara ms Juli mengajar mereka.  Nyatanya setelah besar mereka pendiam dan berbeda dengan waktu kecilnya. Hanya tinggal Evan kini kelas 12 yang jadi PR ms Juli.

Masih banyak lagi anak-anak berkebutuhan khusus yang ms tangani di kelas. Alhamdulillah ms bisa hendel tanpa psikolog atau guru bayangan atau lebih dikenal dengan istilah shadow. Guru khusus yang digaji orangtua untuk mengawasi anaknya di sekolah. Mereka bukan pesakitan, tapi anak yang hanya harus dilatih dengan kesadaran dan diingatkan bagaimana melakukan komunikasi sosial di sekolah, di lingkungan manapun di luar rumah dengan baik.

Umumnya orangtua bisa menerima setelah diajak diskusi dan diberi tips menangani anaknya di rumah. Mau bekerjasama denganku, selalu diskusi bagaimana yang terbaik untuk anaknya. Pegangan ms Juli apa? Ya itu, pengalaman memegang anak sendiri di rumah tanpa bantuan siapapun.
Begitu kenaikan kelas, ayah ibunya pasti datang dengan formasi lengkap dan bersilaturahmi dengan ms Juli, atas kerjasamanya selama ini. Ms bahagia sekali melihat mereka kompak bersama. 

Ms Juli percaya jika kita terus bersabar, anak-anak akan mengingat itu sampai mereka dewasa dan berterimakasih telah menemani ketidakdewasaan mereka sebelumnya. Banyak anak-anak gagal melewati masa puber hingga dewasanya sehingga, alam yang kemudian mendidiknya. Masih ingat anak punk yang suka di jalan-jalan? Dengan anting di lidah, telinga, dan alis mereka.

Mereka adalah produk dari kegagalan anak dan orangtua melewati masa-masa kritis tumbuh kembang anak hingga pubernya. Nauzubillahi min dzalik. Jangan sampai itu terjadi pada kita ya, Mak. 

Ada dan tidak adanya anak adalah ujian. Anak bisa jadi anugrah atau fitnah jika orangtua tidak membekali dengan ilmu dan keinginan untuk belajar lagi, memahami pendidikan anak berbeda dari masa ke masa. Mengajarlah sesuai dengan zamannya dan hati

Jumat, 18 Oktober 2019

Catatan Ms Juli (4)

Kisah sebelumnya: 

http://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-3.html

Aurel si Manja

Kali ini Ms Juli ingin bercerita tentang Aurel anak di kelas yang manja. Mengapa? Karena dia adalah anak satu-satunya di rumah. Ibunya bekerja di Glodok Mangga Dua bagian administrasi keuangan. Ayahnya bekerja di perminyakan Jawa Timur. Wajar kalau ibunya mencarikan pembantu yang juga menjadi pengasuh anaknya. 

Di awal Ms Juli perhatikan Aurel jarang bermain dengan teman sekelas. Begitu istirahat selalu berlari ke arah mbaknya. Awalnya, Ms Juli tidak terlalu memikirkan sepanjang Aurel anteng dan tidak membuat masalah. Namun, suatu saat ketika harus mengurus SPP yang salah ketik ms Juli harus ke TU, di sebelah ruangan itu ada pos satpam tempat nongkrong OB. Rupanya Ms Juli melihat Aurel nongkrong di pos tersebut bersama mbaknya. Sambil menyuapi Aurel si mbak terlihat bercanda sedikit mesra dengan OB. 

Ms Juli risih melihatnya, sedih karena ada Aurel di sana. Dia akan belajar cepat dari tontonan yang seharusnya belum jadi konsumsinya. Mending main dengan temannya di kelas. Alhamdulillah kelas bersih dan nyaman. Ms Juli bisa mengajar mereka untuk menjaga kelas dengan kesadaran mereka. 

Mereka dibebaskan selama istirahat untuk ngobrol, bermain, bercanda, dan jajan sesuai kebutuhannya. Kalau memang bawa banyak makanan untuk apa jajan lagi, saling berbagi dan bertukar adalah kebiasaan yang ditanamkan sejak awal masuk kelas ini. Ms Juli harus segera bertindak untuk masa depan Aurel ke depan.

Segera orangtua ditelpon dan meminta agar pembantu Aurel untuk segera pulang ke rumah, atau pindah saja wali kelas. Ms Juli merasa tidak dipercaya dengan adanya pembantu di situ. Padahal dampaknya yang terjadi adalah seperti itu, ms lihat dengan mata kepala sendiri. Tidakkah maminya Aurel tahu kalau pembantunya tidak menjaga prilakunya dengan cara bergenit-genit ria kepada laki-laki tapi sambil momong anak majikannya? 

Bukan ms membedakan atau tidak menghargai, tetapi kalau orangtua yang mengasuh tentu tidak akan mengajarkan hal yang belum menjadi konsumsi anak seusia Aurel anaknya. Awalnya berat maminya melepaskan Aurel, namun dengan keyakinan ms Juli untuk menjaga amanahnya akhirnya pembantunya disuruh pulang setelah seminggu berdebat dengan hatinya sendiri. 

Sejak itu Ms Juli mengajak anak-anak untuk membuat Aurel mandiri, mengajak bermain dan membentuknya jadi kuat. Alhamdulillah kalau istirahat mulai mendekat dan sesekali minta disuapi, dikunciri rambutnya, dan sebagainya. Semua ms Juli lakukan dengan senang hati, menganggap semua anak kelas adalah anak perempuan sendiri, yang dipinjami Allah. Ms Juli memang nggak punya anak perempuan. Tiga jagoan semua di rumah dan dibesarkan ms Juli. 

Dari sisi pelajaran Aurel mulai terlihat talentanya, mau mengajarkan teman-temannya bagaimana berhitung yang benar. Mulai mengajak bermain duluan, intinya dua bulan sudah mulai terlihat. Karena ms Juli saat itu sambil kuliah, sering kalau ujian dari pusat, berpesan pada anak-anak di kelas untuk tidak ramai dan mengganggu kelas lain. Istirahat dan banyak di kelas, nggak usah keluar-keluar yang membuat kepala sekolah waktu itu marah. 

Luar biasanya, piket sampai bilang bahwa anak-anak ms Juli itu mandiri. Nggak rame dan sangat tertib, main sendiri, mengerjakan tugas yang ditinggalkan ms Juli. Nggak ada yang nakal, cengeng apalagi bikin ribut. Padahal usia segitu lagi caper-capernya, bukan. Puncaknya, orangtua Aurel menyatakan terimakasih karena sudah membuat anak semata wayangnya jadi mandiri. Sekarang di rumah apa-apa maunya melakukan sendiri, jarang cengeng, dan menyusahkan maminya kalau belajar. 

Geli itu mendengarnya adalah ketika di rumah Aurel mempraktikkan gaya seolah ms Juli di hadapan mbak pembantu di rumah. 
"Mbak, denger ya. Ms Juli mau ujian. Jangan bikin masalah, kerjasama sama temennya, kerjakan apa-apa sendiri. Jangan cengen dan mudah minta tolong. Kalau bisa dikerjakan sendiri? Kenapa nggak?" sambil gayanya menirukan cara berbicara ms Juli. Pembantunya melaporkan cerita itu ke maminya. He he

Kelak di SMP dan SMA ms Juli akan mendengar bahwa Aurel menjadi atlit perenang  tingkat sekolah dan kabupaten di Bekasi. 

Itu adalah sebagian kisah ms Juli di kelas, itu mengapa kalau kenaikan kelas mengapa ayahnya atau ibunya jadi penasaran ingin ikut ambil raport, yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Seolah ms Juli adalah guru  yang ingin dikepoin orangtua. Selalu jadi cerita yang tak bosan dibawa oleh anak-anak di rumah. Ada saja yang diceritakan tentang ms Juli, baik materi, cerita, kegiatan, dan sebagainya. 

Banyak dari orangtua awalnya tidak percaya jika anaknya bisa mandiri, ketidakmandirian anak di kelas lebih dinodai oleh orangtua sendiri. Dengan alasan sayang berlebihan, rasanya takut bila anaknya kelaparan, takut nggak kenyang, selalu membawakan tas sampai ke kelas, dan memberikan apa-apa yang diminta oleh anaknya. Namun itu cerita lalu yang kini sudah mulai ditinggalkan oleh anak kelas dua dan orangtuanya. Bahkan, yang tadinya nggak suka makan sayur, cengeng, atau ngompol, bisa berhenti. Keajaiban yang ma Juli syukuri juga orangtuanya di rumah. 

Tak heran, saat kenaikan kelas mereka ingin menghadiahkan ms Juli berlebihan. Sebagai bentuk terimakasih karena sudah mengajarkan dan membentuk anaknya banyak hal. Dari sini juga orangtua banyak belajar dengan ms Juli, bahkan sampai sudah lulus kini kami masih dekat dan silaturahmi. Terkadang say hello untuk menanyakan kabar, konsultasi tentang pendidikan anak-anaknya yang lain, atau konsultasi urusan rumah tangga hihi, mashaallah kadang geli sendiri. 

Ada orangtua yang juga lantas menitipkan anaknya di tempat bimbel Nurul Amanah yang ms Juli dirikan di rumah. Dengan alasan, agar pendidikan saat menjadi wali kelas anaknya nyambung bahkan sampai ada yang hingga lulus SMA dititipkan. Anaknya juga nggak mau kalau harus les atau pergi ke bimbel lainnya. Rupanya mereka sudah cocok dengan cara pengajaran dan bimbingan ms Juli. Istilah jawanya "pasrah bongkokan" yang penting anaknya sekolah lancar dan bisa mengikuti pelajaran di kelas dengan baik. Tak jarang akhlaknya pun lebih dipercayakan untuk dimotivasi dan dinasehati ms Juli. 

Banyak keuntungan yang ms Juli dapatkan selama dekat dan menjadi sahabat anak dan orangtua. Ms Juli nggak punya waktu untuk menyesali keadaan dan kesedihan yang banyak ms Juli hadapi. Begitu banyak yang harus ms Juli hadapi dan tangani baik di sekolah, bimbel, dan rumah. Tiga jagoan di rumah juga dididik untuk bisa menjadi kakak buat adik-adiknya yang les di rumah. Kalau ms Juli ada acara atau rapat di sekolah sampai sore, anak-anak yang memegang les dan membantu menyelesaikan PR. Seolah tidak ada ms Julipun mereka tetap belajar. Bila anak-anak belum dijemput ojeknya atau ibunya, anak-anak les akan bermain dengan ketiga jagoan ms Juli dengan baik, tanpa membuat masalah. 

Setiap lebaran, ms Juli selalu berlimpah bingkisan dan parsel dari orangtua di kelas dan les privat. Nggak pernah ms Juli itu belanja keperluan lebaran, semua sudah diservis oleh orangtua sebagai tanda terimakasih dan imbal balik atas kasih sayang yang diberikan kepada anak mereka. Padahal ms Juli tulus melakukan itu semua. 

#blogjadibuku
#joeraganartikel

Kamis, 17 Oktober 2019

Catatan Mis Juli (3)

Kisah sebelumnya:

https://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-2.html?m=1

Pada suatu hari, Ms Juli dipanggil bapak Purwanto sebagai ketua yayasan. Beliau menyampaikan bahwa keadaan sekolah sedang akan dirubah dari sekolah biasa pulang jam 12 ke bentuk global sampai jam 14.30. itu sebenarnya sudah ms dengar, namun rupanya akan ada bedol desa istilahnya. Mengapa? Kepsek sebelumnya yang merupakan adik pak Purwanto akan menarik guru-guru nya ke sekolah baru.

Sebenarnya juga Ms sudah ditawari, tapi sejujurnya tidak tega meninggalkan bapak di sekolah ini sendirian. Mana sekolah lagi ada kasus penyiletan anak oleh guru kelas 3 yang masuk siang. Jelasnya cerita sesungguhnya tidak pernah tahu, karena kejadiannya terjadi di kelas. Saat itu seluruh anak diminta menutup mata dan menunduk. Nah saat itu pula anak tersebut katanya dihukum dengan cara disilet menggunakan alat silet oleh oknum guru tersebut.

Entah, apakah kejadian itu terjadi tanpa disengaja atau dirancang untuk menjadi alat bagi kejatuhan sekolah ini. Kasus ini merebak sampai seluruh antero negeri. Mengapa? Koran lokal dan nasional memuat kasus itu bagaikan kacang goreng, laris sekali. Rasanya berbarengan sekali. Sempat terjadi demo dari orangtua siswa yang khawatir anaknya akan mengalami masalah serupa.

Bahkan sempat terjadi kasus pemindahan anak ke sekolah lain, anehnya? Sekolah baru yang sudah dibuat oleh kepsek lama. Nggak curiga, tetapi seolah seakan ini sudah direncanakan. Polisi dan kak Seto sempat hadir untuk menyelidiki dan menenangkan masa. Ms Juli saat itu berada di posisi mana? Ms Juli tetap mengajar dengan tenang dan penuh kasih sayang.

Saat itu orangtua siswa cukup tenang menitipkan anak-anak kelasnya pada ms Juli. Ms Juli memang galak, tetapi tidak pernah menggunakan tangan ataupun membuat anak takut tanpa alasan. Galak karena disiplin dan tegas tentu berbeda. Walau orangtua sempat berdiskusi tentang kejadian yang terjadi di anak kelas siang tersebut, anak-anak kelas dua pegangan ms Juli aman semua. Tetap dinamis, bahkan membuat prestasi dengan menjadi juara calistung sampai tingkat kabupaten.

Ini adalah hal yang menjadi obat bagi orangtua lainnya. Menjadi penyeimbang berita-berita di luaran yang sudah melebar dan membentuk opini negatif tentang sekolah ini. Walau tak juga masuk koran, namun fakta di lapangan, anak di sekolah ini semua tidak ada yang mengalami hal ini satupun. Saat kejadian semua anak menutup mata. Jadi, pada saat diminta kesaksiannya mereka tidak ada yang bisa memberikan bukti yang menguatkan ibu tersebut yang melaporkan kejadian ini sebagai pelanggaran HAM anak.

Setelah sekolah sempat terganggu selama dua bulan dengan wartawan dan pihak kepolisian yang terus berdatangan dengan keperluan masing-masing, akhirnya bisa kembali tenang melakukan aktifitas seperti biasa. Oknum guru yang bersangkutan diminta non aktif mengajar.

Satu hal yang disyukuri oleh beberapa teman baru, mereka bersyukur hal ini menjadi peredam sifat oknum guru tersebut yang memang sangat galak dan selalu membuli guru baru dengan sindiran, atau pengerjaan dengan meminta traktir bakso teman satu  kantor tersebut. Entah kejadian ini terjadi atas kehendak Allah atau tidak, sejak itu beliau lebih diam dan sangat berhati-hati dalam bersikap.

Itu mengapa saat Ms Juli dipanggil bapak Purwanto, mantap menjawab untuk tetap bertahan di sekolah ini. Tidak ikutan untuk pindah ke sekolah baru tersebut mulai tahun ajaran baru nanti. Kasihan, tentu bapak akan banyak merekrut guru baru, di tengah kepercayaan orangtua yang menurun.

Rupanya pilihan ms Juli ini sempat disudutkan sebagai penolakan terhadap kepsek sekaligus owner sekolah baru tersebut. Penolakan itu dianggap menyakiti beliau, karena beliau berharap reputasi sekolah akan naik jika ms Juli bersama beliau di sana. Beliau merasa bagusnya ms Juli adalah bentukan beliau yang berjasa mulai dari penerimaan Ms di situ.

Berapa kali pula Ms Juli dipanggil oleh kepala sekolah yang baru dan menggantikan beliau yang lama serta pindah ke sekolah baru. Kepala sekolah baru itu curhat ke Ms Juli bahwa beliau sering ditelpon untuk membujukku agar mau pindah ke sekolah baru tersebut. Pak Gunawan sempat berkata bahwa beliau tentu akan kehilangan guru-gurunya yang bagus jika ms Juli juga ditarik ke sana.

Kepala sekolah lama dengan keras berkata bahwa, guru-guru itu adalah bentukan beliau dengan aturan dan tangannya sendiri hingga jadi bagus. Kalau mau bagus ya harus membentuk sendiri, bukan dari guru yang ada. Ms Juli hanya tertegun dengan penyampaian tersebut, namun tetap pada pendirian. Akan bertahan di sekolah ini, selain karena lebih dekat, keduanya adalah kasihan kepada kepsek dan bapak Purwanto yang harus sendirian menghadapi  sekolah ini.

Ms Juli percaya, rezeki Allah sudah mengatur. Takdir ms bukan bersama kepala sekolah baru, tapi dengan pak Gunawan sebagai penggantinya. Kelak pilihan ini tidak akan disesali oleh ms Juli, karena justru ini menjadi jalan terbukanya pengembangan karir ms Juli ke arah yang lebih baik lagi.

Tahun 2007 ms Juli sempat pindah rumah mendekati sekolah ini, setelah kuliah S-1 pendidikan Matematika hampir selesai, dan kesempatan menjadi wakil kepala sekolah Kesiswaan. Sesuatu hal yang sangat berbarengan sekali keadaannya. Tapi inilah campur tangan Allah atas hidup ms Juli, yang selama ini mengalami hidup berat dan penuh tekanan dari berbagai pihak manapun.

Allah menjadikan sesuatu hal buruk untuk ms Juli, padahal bisa jadi itu yang dibutuhkan oleh ms Juli sebagai penguat untuk menghadapi hidup ke depan lebih baik lagi. Walau cara untuk menjadi kuat membuat ms Juli sakit, down, kelimpungan, dan berat menghadapinya. Tapi percayalah, dengan kepasrahan total kepada Allah hal itu jadi penguat dan doa bahwa ms Juli tidak sendiri.

Suatu hari direktur yayasan yang merupakan kakak ipar pak Purwanto memanggil Ms Juli, dan menyampaikan permintaan bapak untuk saya menjadi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Kaget luar biasa, itu pasti. Alasan  mengapa saya yang diminta adalah, karena Ms Juli tegas dan dekat dengan anak kelas manapun. Guru favorit dan sebagainya. Walaah, panik! Jujur iyaa, karena pasti harus stay dan Ms nggak bisa pulang cepat untuk mencari tambahan di bimbel. Selama ini ms Juli berangkat jam 6.30 dari rumah dan pulang sekolah jam 3 bisa ngajar privat di manapun, bahkan pernah sampai jam 10 malam.

Ms Juli kerja di tiga bimbel besar, belum lagi mengajar privat kelompok anak kelas 4-6 yang diam-diam minta diberi tambahan pelajaran. Mereka sengaja minta ke pihak bimbel. Orangtua murid tahu kalau ketahuan pihak sekolah, Ms Juli akan ditekan. Padahal mereka bukan dari kelas yang Ms Juli pegang. Kebanyakan dari kelas 4-5-6 sementara Ms Juli mengajar kelas dua SD. Sempat lama Ms Juli harus berpikir. Minta waktu untuk istikhoroh sama Allah dan konsultasi dengan anak-anak di rumah.  

Selasa, 15 Oktober 2019

Catatan Mis Juli (2)

Kisah sebelumnya:
https://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-1.html?m=1

Sejak itu Ms Juli mulai merasakan gairah mengajar yang sangat menggebu. Merasa menemukan sesuatu atas rasa haus belajar selama ini yang sempat tertunda dan terkendala karena keterbatasan ekonomi. Kesempatan belajar ini tak pernah disia-siakan. Selalu penuh semangat.

Di tengah situasi ini pula Alhamdulillah NUPTK (nomor unik pendidik dan tenaga pendidik) dari dinas keluar sebagai SIM resmi pertama diakuinya Ms sebagai guru, rupanya ini pengakuan dari kepsek yang lama. Setelah berkonsultasi dengan pengawas UPTD dinas Tambun Selatan pak Nyoman, Ms Juli melanjutkan kuliah S-1 pendidikan Matematika. Dulu di IPB hanya sampai D-3 dan mendapat penempatan sebagai CPNS di SMPN 5 Kepahiang Bengkulu. Namun qodarullah Allah belum ijinkan berangkat lewat keluarga yang berat melepas kepergianku.

Kebetulan pak Nyoman pemilik Pokjar STKIP Kusumanegara di Setu. Lumayan jauh dan capek karena kuliahnya tiap hari Minggu. Mengorbankan waktu istirahat keluarga. Namun, Ms Juli jalankan demi masa depan dan anak-anak. Undang-undang guru dan dosen memberikan kesempatan kepada kami yang swasta untuk memperoleh Tunjangan Sertifikasi dengan syarat lulus S-1, memiliki NUPTK, dan masa pengabdian minimal 5 tahun.

Di sinilah mulai perjuangan lagi merintis karir di dunia pendidikan. Di tengah situasi sekolah yang saat itu peralihan dan mulai gunjang ganjing keributan keluarga besar yayasan pendidikan yang membawahi sekolah tempat ms Juli mengabdi. Boleh ya ms Juli cerita? Begitu banyak catatan perjalanan yang bisa ms tuliskan sebagai jejak perjalanan menorehkan pengabdian sebagai seorang guru.

Kisah Perjalanan Menjadi Guru Favorit

Sesungguhnya bukan impian menjadi guru, tapi tak juga alergi menjalani profesi ini. Setelah sempat melanglang buana dari guru privat, honor lepas di negri atau swasta, loncat ke dunia kesehatan dan sempat menjadi manajer supervisor dengan dua bulan berturut-turut menjadi top distributor. Akhirnya profesi gurulah yang bikin ms Juli nyaman menjalani.

Baru menyadari, setelah pulang dari merantau ke Semarang menetapkan dan memantapkan diri menjadi guru di tahun 2003. Selain krisis dan tidak ada pilihan terbaik untuk ms Juli. Merasa, . . .
Inilah profesi yang menghasilkan uang dan karir tanpa modal, tidak butuh banyak waktu, bisa sambil mengasuh anak. Karena di tengah keterbatasan, Allah titipkan di rahim ini 3 anak dalam waktu 4 tahun.

Namun karena harus mencari uang sendirian di keluarga ini, terpaksa harus meninggalkan ketiganya sendirian. Sedih? Iya pasti. Setiap mau berangkat ngajar ada air mata yang mengalir di sudut hati. Tapi ms Juli menguatkan ketiganya bahwa ini dilakukan demi mereka bertiga. Sedihnya saat itu Ms sampaikan sulung baru kelas 3 SD. Tapi ms percaya jika memberikan pengertian bisa menghasilkan kerjasama.

Jangan tanya perihnya saat salah satu sakit, menyiapkan obat, makanan, dan menguatkan adalah bagian rutin. Sambil melangitkan doa kepada Allah, menitipkan segala penjagaan, keselamatan, kesehatan, keamanan, perlindungan ketiga anak sholehku kepada Sang Maha Penjaga.

Alhamdulillah Allah berikan satu kemudahan di tengah kesulitan yang lain. Orangtua siswa yang memahami perhatianku sebagai guru. Kalau dulu sebagai guru kelas dengan 6 mata pelajaran yang harus dikuasai, membuat orangtua menitipkan anak-anak nya untuk memantapkan berhitungnya sama Ms.padahal rumah ms jauh masuk ke dalam dan nggak ada angkot.

Subhanallah Allah berikan yang ms butuhkan bukan diminta. Orangtua kelas lain ikutan dititipkan. Memang nggak enaknya harus siap menerima curhatan Emak-emak atau gosipannya. Senengnya, orangtua sangat peduli, dan suport segala urusan kelas dan ms sendiri. Padahal ms nggak pernah meminta. Atau tidak pernah meneruskan curhatan atau gosip ini kemana-mana, paling hanya bisa mendengar dan menampung saja.

Mereka juga paham perjuangan ms Juli membesarkan seorang diri, tapi tak pernah mengeluh. Hanya Allah gerakkan setiap lebaran tidak pernah membeli kue, karena bingkisan lebaran, atau oleh-oleh selalu berlimpah tanpa ms meminta. Kalau ditanya apa kuncinya? Nggak ada yang istimewa, hanya ms Juli cuma punya semangat dan berusaha menjadi guru dan komunikator yang baik antara ms, orangtua, siswa, juga sekolah.

Sama siswa bisa dekat, karena merasa mereka seperti anak-anak sendiri yang ms tinggal di rumah. Prinsip ms menyayangi mereka, berharap anak-anakku juga disayangi gurunya di sekolah, tetangga sebagaimana aku tulus menyayangi siswa. Pertama mengajar ms diamanahi kelas II SD. 
Tahu sendiri kaan? Anak kelas 1-2 SD itu masih anak mama umumnya.

Sejujurnya dari mengajar di kelas mulai tahun 90 sampai saat itu, ini adalah pengalaman pertama. Tapi, karena punya anak tiga dalam waktu berdekatan, bikin ms seperti dipinjami anak perempuan khususnya. Kalau anak laki, seakan mengingatkan pada anak sendiri di rumah. Percaya nggak, kebiasaan memandirikan anak di rumah juga berlaku di sekolah.

Banyak respon positif dan tak sedikit yang protes karena merasa anaknya masih kecil. Ms tahu, orangtua semua sayang tapi sayang untuk kapan? Sekarang atau nanti? Kan ms Juli nggak memperkerjakan anak di bawah umur, namun mengajarkan mereka bisa menyapu, mengepel, peduli satu sama lain, mengatasi temannya bermasalah dan sebagainya.

Alhamdulillah nggak butuh waktu lama, orangtua yang awalnya protes bisa mengerti bahkan malah berbalik mendukung. Karena siswa di kelas Ms Juli justru merasa nyaman dan bangga bisa melakukan apapun sendiri. Seolah nggak mau lagi dianggap anak kecil.

Wali murid yang awal mid dan semester satu mengambil raport sendirian, di kenaikan kelas bisa berdua dengan suami atau ayah siswa dan sebaliknya. Kok bisa gitu? Iyalah, mereka penasaran sosok ms Juli yang selalu mereka ceritakan setiap hari itu seperti apa sih? He he senengnya, ternyata ms Juli jadi sosok viral yang siswa ceritakan di rumah. Ssssst sampe ada orantua yang cemburu looh. Aish, ms Juli bukan mau mengambil peran. Tapi, hanya berusaha menjadi guru yang baik di kelas. Subhanallah . . .

Bukan mau pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan, jadi guru baru dua tahun tapi perhatian orangtua begitu berlimpah. Motor itu sampai penuh dengan bingkisan dari orangtua belum amplop yang ms Juli terima. Malu dan bersyukur, tapi kalau mau bilang ke temen-temen yang rezekinya sedang kurang nggak enak takut dibilang sombong. Ada perasaan juga nggak enak kalau diam disangka tidak peka dengan guru yang bukan wali kelas. 


Jujur saat itu nano-nano rasa yang ada di hati ini. Kalau mereka diam mungkin ms masih berusaha menjaga, tapi kalau yang ada disindir-sindir, dihoaks-in begini begitu, di situlah kadang ms mau nangis. Alhamdulillah kepala sekolah nggak pernah mempermasalahkan itu, malah sebagai tolok ukur, selama orangtua puas berarti sekolah ini akan semakin banyak menjadi incaran sekolah. 

Kepala sekolah yang saat itu Ms bilang keras dan arogan diam-diam meminta ms Juli untuk mengajar di kelas 6 karena guru yang ada begitu dibenci orangtua karena kasar omongannya. "Telek" adalah ucapan harian kasar yang kerap ditiru anak-anak. Tapi bapernya minta ampun, jika mendengar akan digantikan oleh guru yang lain. Kami lebih baik menghindar saja. 


Pernah teman ms Juli beda berapa bulan masuk nya dikerjai oleh ibu guru tersebut dengan dua temannya untuk mentraktir bakso kami sekantor. Kasihan, sudah gaji hanya 485.000 masih harus mentraktir bakso teman sekantor yang jumlahnya 25 an orang dengan TU dan satpam. Ugh rasanya ingin marah dan melampiaskan kemarahan ke mereka. Tapi kasihan nanti teman pasti dibuli.

Minggu, 13 Oktober 2019

Catatan Mis Juli (1)



Menjadi guru adalah sebuah kebanggaan di sudut hati yang paling dalam. Mengapa tidak, di sini Ms Juli dihadapkan pada hati-hati dan jiwa-jiwa yang haus akan bimbingan.

Berbeda bila kita bekerja di kantor yang menghasilkan produk, sudah selesai ya sudah simpan. Tapi tidak dengan bekerja berprofesi menjadi guru. Ada jiwa yang memiliki hati yang tidak serta merta habis diajari kemudian diabaikan. No!

Selalu ada tantangan atau challenge, bagaimana mengatasi dan menaklukkan siswa yang sedang berproses belajar. Membangun chemistry antara seorang ms Juli dan siswa. Boleh dong cerita sedikit, mengapa sih bisa dipanggil dengan ms Juli? Pasti ada ceritanya dong? Adalah, mau tahu apa mau banget? Nah loh, kaya anak-anak di kelas aja. Santui, ms kasih tahu ya sedikit bocorannya. Eeeh.

Tahun 2004 setelah mengembara tak tentu arah ms Juli terdampar di SD Putradarma Global School yang ganti owner-nya sekaligus kepseknya. Dari seorang ibu ke seorang bapak yang merupakan pensiunan direktur PLN dan ingin mengisi hari tua nya dengan membangun sekolah nya lebih internasional lagi.

Kenapa ms pilih tahun 2004? Karena tahun itu adalah betul-betul perjuangan mengajar dimulai dengan serius. Kok baru serius? Karena, setelah sejak 1988 menjadi asisten guru, dan memberanikan diri mengajar sambil kuliah baru tahun inilah ketemu feel-nya di dunia pendidikan. Mungkin karena di situ seperti spirit of kepepet kali ya? Atau karena baru tahun itu yang benar-benar dapat restu ijin mengajar? Entahlah . . .

Di awali dua tahun dipegang oleh kepsek tangan besi dan arogan, namun cukup ampuh membentuk dan memunculkan kemampuan talenta seorang ms Juli. Dua tahun di awal mengajar ms Juli menjadi guru paling favorit dan dituju orangtua murid. Mengapa? Pertama, menggunakan sapaan mas mbak di kelas (kebiasaan dari efek 3 tahun tinggal di Semarang, dan menggunaan sapaan hormat untuk menyanjung siswa di kelas).

Kedua, wali kelas yang mau capek nulisin buku laporan harian, ngabisin pulsa buat komunikasi dengan orangtua siswa. Demi tercapai kerjasama yang ciamik di kelas, betah di kelas makan bareng anak-anak, ngajarin berhitung sampe anak-anak bisa, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan membangun kedekatan emosional.

Nah, begitu jalan tahun ke-3 pemiliknya ganti dan berubah status sekolah. Dari Putradarma plus menjadi Putradarma Global School. Pulangnya sudah mulai full day istilah kerennya. Dari yang jam 12  sampai jam 14.30 baru memulangkan anak. Mulai ada tambahan kegiatan seperti wakil yang bervariasi seperti drumband, Pramuka, bahasa Inggris, atau futsal. Dari yang hanya satu wakil saja yaitu TPA.

Awalnya berat buat seorang ms Juli karena saat itu benar-benar tulang punggung keluarga dari perekonomian keluarga yang lemah sejak 1998 akibat Krisi ekonomi dunia. Namun karena Pak Purwanto menawarkan gaji hampir 3 kali lipat dari sebelumnya itu jadi motivasi juga. 

Bersyukurnya bimbel yang sudah terlanjur menjadikan guru favorit juga bisa dipindah jadwal ngajarnya atau digeser sekian jam.
Sukanya itu adalah sistemnya mulai dirubah. Dari guru penceramah saja, kemudian diberi kesempatan untuk menjadi student center learning, murid-murid mulai dimotivasi untuk mengeluarkan talentanya tanpa batas namun terraarh. Bahasa Inggris dan komputer jadi pelajaran tambahan yang mulai diseriusi pengajarannya.

Panggilan guru-guru nya berubah, dari bapak ibu menjadi Mr dan Ms, nah di sinilah awal nama ms Juli mulai populer dengan branding Ms Juli. Greeting (sapaan) dan Instruksi (instruction) muali dibiasakan pakai bahasa Inggris. Buat seorang ms Juli yang sempat kerja sama orang Australia selama 2 tahun Alhamdulillah nggak jadi masalah. Itu kenapa dengan cepat penilaian kinerja sangat bagus dan positif untuk Ms Juli. Menambah value atau poin penilaian tersendiri untuk seorang ms Juli. Jadi tahu kaan? Kapan branding Ms Juli mulai digaungkan.

Hal ini sangat ms Juli nikmati sekali. Terlebih peluang Diklat dan pelatihan guru dalam bahasa Inggris di Sampurna Foundation yang Bapak Purwanto seharga @800 rb sekali pelatihan seharian sangat terbuka dan kerap diberikan. Alhamdulillah selalu terpilih lagi dan lagi untuk dikirim pelatihan. Terimakasih bapak, sudah mengisi cawan gelas ilmu lebih lengkap lagi.

#chalenge
#blogjadibuku

Jumat, 04 Oktober 2019

TAHTA CINTA YANG KUPERTAHANKAN (4)



Setelah sangat menikmati keadaan selama ini, suatu hari setelah 3 bulan mendapat asistensi pelajaran mata kuliah agama Islam, timbullah kesadaran beragamaku. 

Kakak-kakak akhwat dan ikhwan begitu kami menyebut, mengajarkan agama yang sebenarnya. Dari kewajiban berjilbab hingga tidak adanya pacaran. Yang ada adalah menikah muda untuk menghindari fitnah berkhalwat atau berdua-duaan.

Sejak itu aku langsung berkerudung, efeknya mamah papah kaget dan mengatakan belum siap menerimaku berjilbab. Kami memang hidup di lingkungan agama Islam Kejawen. 

Artinya agama hanya sebatas pengakuan, bukan implementasi sehari-hari. Wajar kalau akupun dibebaskan bergaul dengan laki-laki manapun. Padahal itu salah.

“Nanti, kalau mau pakai kerudung“ kata beliau berdua pada jilbabku. 

Reza sendiri mendukungku, karena lingkungan keluarganya semua pakai kerudung, maklum dari keluarga seberang kata mamah waktu itu.
Parahnya papah marah sekali padaku,  bahkan mengancam akan membakar buku-buku kuliahku jika jilbabku terus kupertahankan. Aku menolak dan menangis, langsung pulang ke BOGOR.  Tiga bulan aku tidak pernah ditengok oleh mamah papah. Aku terus berkonsultasi dengan guru-guru mengaji yang kupanggil murrobi atas ujian yang menimpaku saat itu. 

"Sabar  Santi, ini ujiannya. . . Sanggupkah kita melewatinya. Allah pasti memberi jalan bagi kita yang tetap di jalan-Nya“  kata mereka, saat itu ghiroh beragamaku sangat tinggi dan amat militan.  

Pada Reza kukatakan: 
“Kak, kalau kakak sayang ma aku, kamu harus melamarku. Karena Islam tidak mengijinkan kita pacaran. Ini Ikhtilat kak! aku ga mau dosa terus-terusan"  kataku padanya ketika suatu saat dia datang. 

Aku tahu kelaki-lakian nya menolak, namun rasa sayangnya padaku mengalahkan egonya. Dia berjanji akan datang ke mamah papah untuk melamarku.

Satu minggu,  sampai  minggu ke 3, tak ada juga ada kabar darinya. Bahkan kedatangannya. Ada rasa cemas di hati dan kerinduanku. Namun itu semua kukalahkan dengan terus meningkatkan ibadahku, hingga dhuha dan Tahajudku.


Pada  minggu ke-4 dia datang juga. Terlihat di mata kami masing-masing ada kerinduan yang tertahan, namun aku selalu menjaga dan membatasi sikapku. 
"Aku takut dosa" batinku. 

“San, saya sudah kerumah, …..” dan diapun mulai panjang lebar bercerita,  yang intinya papah menolak maksud hatinya, karena beliau ingin aku menyelesaikan sekolahku dan menjadi kebanggaan keluarga. Seluruh harapan tertumpu padaku karena sejak kecil yang sekolahnya lurus dan mulus hanya aku. Begitu banyak kemudahan yang kuperoleh, sampai mendapat beasiswa pemerintah

Papah cukup syok dengan aku berjilbab,  ditambah Reza memintaku untuk menjadi istrinya. 

“Enak aja, saya yang nanam, kamu tinggal enak mbelah“ Kasarannya seperti itu filosofi orang tua yang tak rela anaknya diambil orang.

Catatan Mis Juli (6)

Kisah sebelumnya: http://misjulie.blogspot.com/2019/10/catatan-mis-juli-5.html Akhirnya Selesai S-1 Pendidikan Matematika. Ce...