Sabtu, 09 November 2019

Catatan Mis Juli (20)

Kisah sebelumnya
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-19.html

Menjadi guru adalah kebahagiaan yang tak ternilai dengan rupiah. Walau tidak munafik segalanya membutuhkan rupiah, namun tidak melulu rupiah dapat membeli segalanya. Kebahagiaan sederhana dapat diperoleh hanya dengan mendengar alumni atau siswa yang pernah diajar mengabarkan kesuksesannya, mengingat ma Juli sebagai gurunya. 

Yang mudah adalah mengingat siapa guru yang mengajarkan kita, tak mungkin guru mengingat anak didiknya, terlebih seperti ms Juli yang sekali mengajar satu angkatan minimal 3 sampai 4 kelas. Kalau saja satu kelasnya minimal 20 siswa sampai 50 siswa maksimal kebayangkan? Berapa jumlah siswa yang ms ajar selama hampir 30 tahun mengajar, sejak sebelum tahun 90 sebelum berangkat kuliah hingga detik ini. 

Baik itu siswa TPA, bimbel, atau juga siswa di kelas sesungguhnya. Ms Juli nggak pernah pilih-pilih. Hanya, prinsipnya adalah selalu membuat tutor teman sebaya bagi pelajaran matematika. Akan sangat meringankan ms di kelas. Lagipula akan menjadi kebanggaan dan semangat jika siswa dapat membantu teman lainnya untuk bisa. Seperti ms Juli dulu waktu SMA. 

Sejak kelas 10 sampai kelas 12 ms Juli dijadikan asisten oleh guru mapel MIPA, seperti matematika, kimia, dan fisika. Tiga mapel yang dianggap macan oleh sebagian besar siswa di jurusan IPA. Padahal ms Juli juga nggak pinter-pinter amat loh, hanya kemauan untuk mencoba, belajar, dan mau bertanya lebih banyak dari siswa lainnya.

Jadi kalau ada praktik, atau materi yang dianggap susah ms Juli membantu menjelaskan dengan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh teman-temannya ms di kelas. Alhamdulillah, sampai sekarang prinsip itu terus dilakukan. Membentuk tutor teman sebaya yang bisa menjelaskan kepada temannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh antar sesama siswa. 

Banyak dampak yang bisa ditularkan kepada sesama siswa. Jadi ingin bisa juga, kelas lebih hidup dan mau saling berbagi, juga saling mengingatkan. Nggak penting buat ms Juli nilai 100 jika hanya tinggal copas. Yang ms inginkan adalah mereka mau berproses untuk bisa memahami materi demi materi. 

Sejak belajar online dan internet mulai diaktifkan, ms Juli pun dituntut untuk bisa memahami cara mengajar zaman terkini. Karena kalau tidak, ms Juli akan gaptek dan ditinggal siswa. 

ARTI GURU 4,0 Mengajar sesuai Zamannya

Peran guru tak pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun karena guru bukan sekadar sumber belajar, melainkan juga penyampai nilai-nilai. ( Nadiem Anwar Makarim, Mendikbud). Tahun ini dan lima tahun ke depan kita memiliki Mentri yang memang berangkat dari usaha online. Kita tunggu gebrakan bagi peningkatan pendidikan Indonesia ke depan. 

Walau bukan lagi guru center learning tapi student center learning kini, nggak dipungkiri peran kita berarti atau tidaknya tergantung niat ibadahnya juga. Karena buat ms Juli, siswa setiap tahun berapa kelas pun adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan nanti. Dan kebahagiaan guru sejatinya adalah ketika kita menjadi inspirasi untuk mereka ketika mereka merasakan peningkatan dan kesuksesan nanti sekecil apapun. 

Ketika ms mendapat tantangan untuk mengajar mata pelajaran Produk Kreatif dan kewirausahaan di SMK ini, berusaha menerima dengan menjadi guru terbaik di kelas ini. Mata pelajaran yang ditujukan untuk membekali lulusan nanti untuk menjadi siswa yang kompeten untuk membuka lapangan kerja, minimal berdagang sehingga tidak melulu mengandalkan lapangan kerja semata. 

Senangnya itu adalah ketika siswa Ms Juli  dapet AHA MOMENT nya ketika membaca kisah 5 profil pebisnis sukses luarnegri yang mereka pilih, Soichiro Honda, Kolonel Sanders KFC, JK Rowling-Harry Potters, Bill Gates-Microsoft, Jack Ma alibaba.com. sebagai motivator mereka untuk melecut semangat belajar di mapel ini,  seneeeeng banget mata mereka jadi melek dan terbuka. Saking senengnya semua kutipan motivasi mereka tulis semua eaaaaa. Disuruh nulis selembar dan sempet protes (biasaa, belum dikerjain udah bilang capek). 

Eh hasil tulisannya malah buanyaaaak deh😍🤩☺. Anak milenial . . . Sekarang🤭

Menjadi guru yang disegani, disenangi, bahkan menginspirasi itu tidaklah mudah. Namun bukan mustahil, butuh kemauan dan belajar untuk melecut diri sendiri. Dengan memberi contoh langsung dan turun sendiri, ternyata hasilnya lebih maksimal. Mau mengenal dan memahami talenta dan kelebihan setiap siswa adalah sesuatu yang wajib ms kerjakan. 

Terkadang ms Juli bisa asyik ngobrol bersama mereka, menyanyi, atau makan bareng. Suatu saat bisa asyik membantu mereka mengerjakan tugas matematika yang menurut mereka susah. Nggak tabu menjadi seperti mereka, mensejajarkan diri,  menempatkan posisi menjadi teman atau rekan kerja saat harus dalam team. Itu kenapa mereka tahu, kapan ms harus bersikap dan diam khusuk pada pekerjaan. 

Bukan hanya bisanya memberikan perintah dan duduk manis menunggu hasil. Terkadang ada siswa yang tanpa diminta juga akan maju sendiri, tapi ada juga yang merasa nggak pede dan harus dicolek untuk bisa berkomunikasi terus dengan kita. Nggak bedalah mereka dengan anak-anak ms di rumah. Setiap mereka adalah unik dan harus dinikmati sebagai amanah yang akan menjadi ladang amal kita. 

Memang untuk tingkat SMP hingga SMK sebaiknya guru mapel mereka adalah guru yang terus bisa mengawal mereka sejak awal hingga lulus. Sehingga sudah lebih memahami sifat dan masalah utama mereka di kelas masing-masing. Bagaimana kelebihan dan kekurangan siswa serta bagaimana cara menaklukan mereka dengan bijak. 

Sudah tiga tahun belakangan ini sekolah Ms menerapkan metode ini. Dampaknya memang luar biasa. Sehingga ketika April ini meluluskan kelas 12 lalu, ms merasakan sendiri bagaimana detik demi detik perkembangannya, membentuk mereka dengan segala keunikannya. Dan, hampir 30 tahun mengajar ms baru ini kehilangan satu siswa sebelum ijazah dibagikan. Mas Fadel siswa kelas 12 TKR-3 tahun pelajaran 2018-2019 yang meninggal karena sakit seminggu sebelum ijazah keluar dan sempat cap 3 jari. 

Adalah kesedihan yang mendalam, karena ms tahu bagaimana di kelas 11 nya sampai dengan selesai ujiannya. Itulah ms Juli, kata keluarga begitu menjiwai dan mendarah daging mengajar di kelas. 

Pintar dapat diraih, namun karakter itu harus dibentuk dengan bantuan guru yang terus menerus dan sabar membimbing mereka. Menjadi guru itu gampang, siapapun bisa melakukan sekalipun itu pemulung. Namun, menjadi pendidik itu bukan hal mudah. Guru yang mau terus mendidik dimanapun dia berada. Tak jemu mengingatkan siswanya mana yang salah atau benar. Jika salah yang diajarkan dan siswa menerus kesalahan itu, dosalah yang dituai, namun kebenaran yang diberikan dan terus diajarkan ke siapapun oleh peserta didik kebaikan itu, tentu menjadi pahala yang akan terus mengalir bukan?

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Demikian peribahasa-peribahasa yang sering dipakai untuk menggambarkan betapa, siswa mengikuti apa yang gurunya ajarkam di kelas. Untuk itu perlu kehati-hatian agar bisa menjadi GURU yang digugu (didengar) dan ditiru (dicontoh). Semoga tulisan ini bisa menjadi pengalaman dan sharing bagi rekan guru lain di manapun. Bahwa menjadi pendidik itu adalah membahagiakan, jika kita tulus melaksanakan dengan hati.

Jumat, 08 November 2019

Catatan Mis Juli (19)

Kisah sebelumnya: 
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-18.html

Itulah bahagianya menjadi guru yang saat ini mis Juli nikmati. Adakah keinginan lain yang ingin dan saat ini ingin diraih? Ada, ms Juli ingin mengembangkan lagi untuk menjadi penulis dan pebisnis yang sukses. 

Enaknya menjadi guru itu adalah bisa menjadi segalanya. Bisa menjadi psikolog, coaching, wartawan, penulis, pebisnis, motivator, MC, moderator, dan masih banyak lagi kemampuan yang nggak tabu diraih jika kita mau belajar. 

Bagaimana tidak, ms bisa merasa dekaat dengan mereka, begitu juga sebaliknya. Di kelas belajar, di luar kelas mereka bisa curhat, konsultasi tidak hanya sebatas pelajaran saja. Alhamdulillah, terkadang ms Juli bisa menjadi ibu mereka, sahabat, teman, atau pembimbing. Ms Juli adalah sesuai prasangka siswa dan anak murid lainnya. 

Sedih itu bila mereka menjauh dan berprasangka buruk terhadap ms Juli. Menganggap hanya sekedar galak dan disiplin, tapi tidak melihat lainnya. Belum bisa membedakan mana disiplin mana tegas. Masih pukul rata, ya itu sih sebenarnya hak mereka. Di sekolah ini mereka semua paham, seorang Ms Juli itu untuk urusan disiplin, kebersihan, dan kejujuran adalah harga yang tak bisa ditawar lagi. 

Biasanya ms Juli akan menjadi musuh bagi mereka yang masih ingin banyak bermain, malas, atau santai dalam hidupnya. Menggampangkan semua urusan, tidak berpikir bagaimana ke depan. Rata-rata kelas yang Ms pegang tahu, setiap awal masuk motivasi selalu disampaikan walau hanya 5-10 menit. Tujuan dari mereka sekolah itu apa. 

Begitu masuk kelas yang akan dilihat pertama kali adalah kebersihan kelas di pojok depan. Piket dengan akan ketat menjaga tempat sampah di kelas dari sampah yang penuh. Kedua ketua kelas akan menyiapkan kelas untuk bersiap (berdiri) setelah itu, siswa akan diminta menyiapkan dan merapihkan dirinya sendiri dahulu, dalam rangka siap menjemput ilmu. Setelah itu, siswa akan diminta merapihkan lingkungan belajar mereka sendiri masing-masing seperti sampah di laci meja, sampah di bawah bangku, atau di atas meja. Dipandu teman yang paling depan untuk merapihkan barisan mereka. 

Setelah itu ketua kelas akan memimpin membaca doa (jika pelajaran pertama) dan memberi salam kepada ms Juli sebagai penutup. Buat ms Juli itulah kunci pengelolaan kelas yang benar, dimana gelombang dan tujuan mereka belajar disamakan dahulu agar bisa selaras sebelum pelajaran dimulai. Di situ sudah termasuk ice breaking nya, karakternya, religius semua sudah termasuk. Sehingga ketika selesai mereka bisa mulai belajar dengan tenang. 

Untuk matematika, ketika ms sedang menjelaskan tentu mereka harus diam menyimak, begitu juga kalau temannya presentasi materi. Kalau mereka asyik sendiri lalu apa yang mereka bawa pulang untuk dipertanggung jawabkan? Seringnya ms bilang signalnya berebut, sehingg mana yang menang? Padahal orang tuanya sudah membiayai sekolah mereka dengan mahal untuk bisa sekolah di sini, rasanya tidak layak jika yang mereka bawa pulang hanya zonk semata. 

Di kelas ms Juli, tidak akan diijinkan mereka asyik memegang hp atau ngobrol dengan temannya. Coba perhatikan, yang sudah serius di depan untuk mati-matian mengikuti dan memahami saja masih susah atau berat apalagi yang tidak memperhatikan. Selalu ms sampaikan, gampang untuk mendapatkan nilai bagus dari pelajaran ms Juli. Terpenting adalah mau berproses, bukan hanya hasil. 

Ms tidak ijinkan mereka dengan mudah mengcopy paste jawaban tanpa tahu dari mana prosesnya? Wong mie instan saja yang katanya tinggal makan tetap harus diproses bukan? Nilai itu gampang, yang penting mereka rajin masuk atau absen, tugas dikerjakan mau susah gampang judulnya mengerjakan, terakhir sikap. Sikap di sini luas, cara berpakaian, cara bersosial mereka terhadap guru dan teman, kesantunan dan keaktifan mereka di kelas akan terlihat. Benar bukan? 

Bagi ms nilai berapapun akan diinput, yang penting berproses bukan hanya untuk mendapatkan hasil semata. Itu kenapa setiap berlatih mereka diarahkan untuk berani maju ke depan, tanpa harus takut salah atau benar. Namanya belajar pasti dimulai dengan salah dululah, dengan salah mereka belajar tahu mana yang benar. Profesor sehebat apapun saja masih bisa salah, apalagi yang masih belajar. 

Kan manusia memang tempat nya salah. Berproses lah terus untuk memperbaiki kesalahan dalam belajar. Long life learner atau pembelajar seumur hidup itu penting sekali. Ini ms contohkan dengan mau terus belajar di manapun dan kapanpun. Ms lebih suka jika mereka aktif bertanya dan tidak pernah puas dengan hanya sedikit ilmu. Ms yakin setiap anak itu bisa, masalahnya MAU ATAU TIDAK.

Ms lebih suka mereka aktif bertanya dan mau belajar, daripada diam tapi ms nggak ngerti. Sebenarnya mereka bisa atau tidak? Jika maju ke depan pun ms minta mereka tidak membawa buku, karena memindahkan isi buku anak TK pun bisa. Namun, memindahkan isi kepala yang sudah dipahami ke papan tulis butuh keberanian yang kuat dan itu bisa dilatih sejak kecil. 

Itu metode ms Juli mengajar di kelas saat bersama mereka. Hampir 30 tahun mengajar kurang lebih itu yang ms terapkan. Jujur, ada figur guru matematika pak Sinaga yang menginspirasi ms Juli sampai ms bisa suka dengan pelajaran matematika. Setelah sejak SD sampai SMP ms mendapatkan guru matematika yang kurang memotivasi untuk bisa. Pak Sinaga adalah orang kedua setelah papahku sendiri. 

Papah adalah orangtua ms Juli yang menjadi alasan mengapa harus menjadi guru matematika. Keinginan beliau untuk memiliki anak yang bisa dan jago matematika begitu besar. Alhamdulillah sampai akhir hayatnya beliau melihat ms sebagai guru matematika. Walau sempat kecewa karena PNS guru tidak diambil dan mengapa harus jauh di Bengkulu. Beliau memang tidak ingin jauh dari ms Juli sedikitpun. 

Papahku yang hanya lulusan STM sangat ingin anaknya ada yang mengambil matematika sebagai spesialis mata pelajaran pegangan. Itu kenapa saat diterima di D-3 IPB Bogor dengan jurusan pendidikan matematika tahun 1990, papah senang sekali. Ah papah, andai masih hidup pasti bahagianya luar biasa melihatku kini, aku sudah eksis mengajar di matematika. 

Sayang papah mendahului keberhasilanku membuktikan keinginan beliau. Tahun 2001 papah meninggalkanku untuk selamanya. Setelah 8 bulan sebelumnya mamah juga pergi lebih dahulu. Kesedihan yang sampai saat ini sungguh tak terhingga. Merekalah alasan utama ms melakukan apapun. Walaupun kerasnya mereka mendidikku hingga seperti ini. 

Mamah yang hanya lulusan SMP dan papah SMK, tapi mampu memotivasiku hingga mampu berdiri tegar hingga saat ini. Pendidikan mereka padaku cukup membekas hingga hari ini. Semoga Allah menempatkan mereka berdua pada sisi yang termulia, aammiin yra. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. 

Itulah kisah perjalanan hidup ms Juli menjadi pendidik. Adalah kebahagian terbesar jika ms melihat anak didik yang menjadi penerus dalam mengajar matematika. Mengajar dengan hati, itu prinsip ms Juli. Memang dari ketiga anak ms belum ada yang mengikuti jejak mengajar matematika. Tapi nggap apa-apa yang penting mereka juga menjadi pembelajar seumur hidup untuk dirinya dan keluarganya.

Catatan Mis Juli (18)

Kisah sebelumnya:
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-17.html

Mulailah hari-hari ms Juli lewati benar-benar sendiri, tanpa beban dan fokus hanya membesarkan ketiga jagoan dalam hidup seorang Ms. 

Kami jadi tambah suport satu sama lain. Bersyukur sekali dengan pertolongan Allah, dengan beban ujian selama ini, ms juga bukan PNS dengan tanggungan beban biaya yang tidak sedikit. Alhamdulillah sesudahnya tidak ada sedikitpun utang yang harus ms tanggung. Bahkan dengan uang takjiah kemarin ms bayarkan semua utang piutang almarhum yang tersisa, juga uang sekolah anak-anak sampai satu semester ke depan. 

Bungsu yang akan masuk SMK harus dipikirkan kemana akan melanjutkan kelak. Setelah berdiskusi dengan abang-abang nya kami sepakat memasukkan bungsu ke sekolah Ms Juli. Berat sebenarnya, selama ini ms berprinsip tidak pernah mau satu sekolah dengan anak sendiri. Namun, saat ini harus diambil dengan berbagai macam pertimbangan. 

Lalu ms Juli maju menghadap kepala sekolah untuk konsultasi dan meminta keringanan sebagai anak guru. Alhamdulillah pak Josep memberikan potongan uang gedung hampir 75 persen. Sehingga uang yang ms bayar hanya 25 persen saja, namun untuk potongan yang lain tidak ada. Tidak apa-apa, segitu saja ms sudah sangat terbantu sekali. 

Begitu juga komitmen ms Juli untuk menjadikan sekolah ini sebagai tempat terakhir pengabdian. Menghabiskan sisa umur di sekolah ini selama masih bermanfaat. Ms Juli sudah bertekat berusaha melewati kesendirian ini dengan menjadi sebaik-baiknya orang yang bermanfaat. 

Untuk jurusan, dan mental persiapan masuk ke sekolah yang sama dengan bungsu membutuhkan persiapan dari ms Juli dan ketiga jagoan. Setelah diskusi tiga hari dua malam akhirnya dicapailah kesepakatan. Bungsu harus memahami posisi ms Juli sebagai guru di sana nanti, tanpa harus membuat masalah baru. Lebih baik itu disampaikan jangan sampai terjadi benturan baru dibicarakan. Lebih baik dibicarakan segalanya sejak awal. 

Selanjutnya, ms menyampaikan keinginan untuk mengajukan sertifikasi kembali dari awal dengan mengambil jenjang SMK dan mapel matematika. Memang risikonya adalah harus memulai segalanya kembali dari nol, namun butuh dukungan dan kepastian dari kepsek. Alhamdulillah bapak sangat mendukung dengan catatan memajukan SMK Yadika 13 ini, siaap pak jawabku penuh semangat. 

Mulailah perjalanan dimulai. Awal Januari 2014 ms mendaftar lewat aplikasi Padamu Negeri milik Kemendikbud. Ternyata, Alhamdulillah awal April nama ms Juli keluar sebagai salah satu yang dicalonkan menjalankan PLPG di bulan Agustus nanti di Bandung. Mashaallah bahagianya ms Juli. Semakin bersemangat rasanya. Apalagi pada angkatan ke-3 ini anak pegangan kelas 12 ms mendapat nilai 9,2 untuk matematika. Wah semakin bersemangat lagi rasanya. 

Oh ya saat itu juga Ms mencoba mendaftar untuk kuliah S-2 di Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) di Pasar Minggu Jakarta. Juga dalam rangka mengisi waktu agar pikiran terus positif. Bismillah semoga biaya dan waktu bisa tercover. 

Ada hal yang menarik, di bulan Juni 2014 ms Juli bertemu dengan alumni siswa SMK yang pernah ms ajar waktu di Bekasi Kota. Saat itu tahun 2000. Pertemuan tanpa sengaja yang Allah rancang sehingga mempertemukan antara ms dan alumni. Rupanya waktu itu beliau merasa kehilangan dan sempat mencari ms Juli. Sejujurnya ms bahagia dan tersanjung dengan ceritanya. Namun ms Juli takut mengaburkan sikap profesional mengajar ms Juli. 

Siapa menyangka ms harus menerima cinta alumni di saat umur tak lagi muda. Saat itu Ms tidak langsung mengiyakan. Menganggap dia lebih pantas menjadi adik atau anak kalau tak boleh juga. Namun sikap nya yang menyatakan lebih dengan ketulusannya sungguh mengguncang ms Juli. Antara takut dan ingin menerima menjadi perang batin yang tak mungkin ms hindari. 

Sambil tetap mengajar dan bulan Agustus ms benar-benar menjalankan PLPG di UPI Bandung akhirnya. Sejenak kami terpisah dan Ms pun mencoba melupakannya. Biarlah Allah yang akan mempertemukan kelak jika dia jodohku. Walau sisi lain sudah selesai ingin sendiri saja, atau jika kelak diberi pun inginnya yang lebih tua saja supaya bisa ngemong ms Juli yang kadang masih temperamen saat lelah melanda. Ah, ternyata hati ms nggak mungkiri akan kebutuhan kasih sayang yang selama ini ms ingkari. Trauma keluarga masa lalu turut berperan. 

Sejenak diapun terlupakan, ms fokus pada kuliah dan kegiatan mengajar ms Juli. Sempat ms Juli diajukan pak Josep untuk menjadi guru tetap di sana, namun qodarullah masih terhalang oleh penilaian wakepsek dan subjektivitasnya. Ms juli berusaha menyadari bahwa apapun itu adalah sesuai kehendak Allah. Sekalipun manusia berkehendak, namun Allah belum tentu tidak akan terjadi bukan? 

Begitu juga bila Allah berkehendak, bila manusia menghalangi sekalipun jika memang sudah takdirnya siapa yang bisa menghindari? Itulah Takdir Allah yang Kun fayakun. 

Alhamdulillah November 2014 ma Juli menerima sertifikat sertifikasi akhirnya. Bahagia dan haru, ternyata Allah mudahkan segalanya. Tinggal menunggu cairnya keuangan mulai Januari 2015 nanti. 

Kuliahpun berusaha ms jalani semaksimal mungkin. Ini sering ms ceritakan kepada siswa, berharap ini jadi motivasi untuk mereka. Ms Juli saja jadi ibu, guru, masih bisa jadi mahasiswi yang belajar lagi. Ms masih ingat jelas, kuliahnya setiap hari Jumat jam 13 sampai jam 21.00 tepat. 

Berat itu adalah ketika tahun  ajaran 2015-2016 kepala sekolahnya ganti dengan wakil kepsek sebelumnya, yang ms cerita juga kurang objektif bersikap terhadap ma Juli. Untuk ijin kuliah dengan tidak mengikuti kegiatan rohis keputrian Jumat. Tapi ms nekat, karena ms nggak mau kuliah molor dan akhirnya menghabiskan biaya lebih banyak lagi. 

Ms bukannya mau kurang ajar sama atasan, namun bagaimanapun kuliah ini harus selesai. Jangan sampai berlarut-larut dan merugikan keuangan, mengapa begitu? Ms Juli ini adalah dosen matematika sejak 2010 di STKIP Kusuma Negara. Pemerintah mulai 2014-2015 menuntut para dosen untuk menyelesaikan s-2 dan administrasi lainnya. Dulu 2010 ms sempat kuliah S-2 di UMJ dengan mengambil kelas  jauh, namun tidak selesai tesis. Mengapa? Biayanya habis untuk almarhum kepala keluarga yang sakit. 

Oh ya ada satu hal yang lupa ms ceritakan di sini, ternyata dari sikap mengajar yang tulus ms lakukan, ternyata mulai angkatan ke-3 ada lulusan yang ingin masuk UNINDRA juga. Rupanya mereka termotivasi oleh ms Juli. Karena Alhamdulillah ms bisa melewati wisuda ini dengan walau sedikit terseok-seok akibat memegang tanggung jawab dan keluarga. 

Ternyata ini sangat berdampak pada mereka. Terlebih mereka yang selama ini baru mulai mencintai matematika dengan cara tulus ms Juli membuat matematika itu mudah dipahami. Kegarangan dan kedisiplinanku di sekolah dengan di kelas tentu linier sekali dengan tujuan mereka bisa belajar dengan fokus di saat jam ms Juli. Kalau kelas ramai dan mereka asyik sendiri lalu apa yang akan di dapat. 

Alhamdulillah sejak 2012 mengajar di sekolah ini, sudah ada 4 angkatan yang mengambil S-1 jurusan matematika di sini seperti: mbak Suci angkatan pertama jurusan Akutansi,  Meylanika jurusan Administrasi perkantoran, mbak Hawa jurusan akutansi, mbak Febi jurusan TKJ. Sementara yang dua lagi mengambil S-1 jurusan TKJ dan DKV. Senangnya.

Catatan Mis Juli (17)

Kisah sebelumnya: 
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-16.html

Di saat seperti itu, di kelas kedua tiba-tiba sebuah telpon masuk di ponselku. Panggilan dari pihak rumah sakit bahwa yang sakit napasnya sesak dan butuh penangan cepat berupa keputusan pengambilan tindakan. 

Antara bingung dan harus segera ke rumah sakit membuat ms kembali menangis. Tapi takut meninggalkan sekolah akibat ada rencana demo siswa tersebut. Ms berusaha konsultasi dengan siswa dan bunda selaku kajur. Mereka semua mendukung, dan berjanji akan menjadi tameng jika ada pertanyaan dan tekanan dari wakepsek tersebut. Mereka menyuruh ms untuk segera ke rumah sakit. 

Sempat melayangkan SMS ke bapak kepsek sekolah ini untuk memberitahukan keadaan yang sakit sekaligus ijin pamit dari KBM. Entah malas sekali untuk melakukan hal yang sama kepada wakepsek. Buat ms beliau orang yang kurang pengertian dan hanya penilaian sepihak. Padahal seharusnya beliau bisa berkonsultasi kepada kepsek karena selama ini ms Juli selalu berkoordinasi kepada beliau. Entahlah kepsek lebih nyaman dan kebapakan dalam membina guru-guru nya. Berbeda sekali dengan wakepsek beliau ini. 

Sampai ulangan UAS siswa akhirnya bisa mengerti dan bahkan efeknya adalah, justru mereka belajar lebih serius dan fokus. Ambil hikmah dari setiap kejadian itu batin ms Juli mengatakan. Dari kejadian itu Ms Juli juga mendapat informasi dari bunda Titi bahwa NEM siswa angkatan pertama yang ms pegang sebelumnya adalah dua siswa otomotif yang mendapatkan nilai 10 untuk matematikanya. Wow, pantas bapak mati-matian mempertahankan ms Juli di sekolah ini. 

Beliau bangga dengan pencapaian angkatan pertamanya. Sayang ms Juli baru tahu belakangan, mungkin juga karena kesibukan kali yaa. Ini sungguh jadi motivasi dan energi baru agar tegar melewati segala ujian dan cobaan. Efek lain, siswa lebih dekat dan memiliki kemauan untuk mengikuti jejak serupa angkatan pertama agar meraih nilai yang sama. Setiap tugas yang ms berikan selalu merameka kerjakan dengan baik. 

Sayang saat UAS ganjil (Ulangan Akhir Semester) ms Juli tak bisa menunggui mereka sendiri. Mengapa? Karena yang sakit kembali masuk ICU. Seperti biasa anak-anak di rumah juga menghadapi UAS, jadi tidak ada yang diandalkan untuk menjaga di rumah sakit. Kadang lelah dan meminta kepada yang sakit untuk mau bekerja sama demi kesembuhannya semata. 

Entah saat itu merasa menjelang 40 hari kematiannya. Tingkah dan sikapnya semakin aneh dan begitu menguji kesabaran sekali. Sementara semua tugas harus ms laksanakan tanpa bisa memilih dan istirahat sekejap saja. Kurang tidur ms akui memang terjadi, sehingga harus menjaga kesehatan dengan cara makan masakan Padang untuk menjaga nafsu makan agar tidak sakit. Begitu juga kopi seringkali ms minum agar tidak mengantuk saat di kelas atau mengajar privat. 

Tidak terpikir jika kelak akan jadi bom waktu penyakit sebagai dampak pola makan dan hidup yang salah. Namun, saat itu yang terpikir hanyalah bagaimana keadaan ini bisa teratasi dan ada solusi. Memang saat itu hanya berusaha ikhlas dan melepas beban agar tidak terasa menghimpit dada ini. Masih ada Allah menemani dan memberikan jalan atas segala kesulitan yang melanda selama ini. 

Menjelang akhir Desember 2012, keadaan semakin berat dan parah. Sementara beliau sudah hilang kesadarannya. Untung di sekolah sudah masuk libur saat itu, namun yang terasa adalah ketika masuk semester genap di awal Januari. Sulung ms yang saat itu baru mulai masuk UAS ganjil kuliah pertamanya di Telkom tidak bisa menemani. Hanya doa dan harapan terbaik yang dia berikan. 

Akhirnya sang kepala keluarga menyerah juga dengan sakitnya. Setelah bertahan sekian lama akhirnya beliau pergi untuk selamanya. Sedih itu pasti namanya 23 tahun menjadi suami istri dengan tiga anak laki-laki. Lepas pernah terjadi masalah itu hanyalah kembang dari ujian keluarga. Seburuk, sejelek apapun sikap dan kelakuannya beliau adalah suami, kepala keluarga, dan ayah dari anak-anak. Tak mungkin ms pisahkan dan jelekkan di hadapan anak-anak. Selama ini ms bertahan dengan menutup rapat keadaan hati dan kesedihan. 

Hal yang tak sangka ms terima adalah saat memberitahu ke kepsek Pak Josep, beliau kaget sekali dan berkali-kali menanyakan kesungguhan berita. Ms bilang "Benar pak, saya sendiri yang dihadapan beliau saat sakaratul  mautnya, Pak." 

Besoknya saat memandikan jenazah, berita itu sedemikian viral menyebar. Seluruh rekan kerja tempat ms mengabdi, juga orangtua siswa di manapun datang semua tanpa dikomando. Motor dan mobil penuh satu gang, begitu juga dengan lautan manusia menyemut. Sungguh tidak menyangka Allah gerakkan seperti ini. 

Di rumah, bergantian yang menyolatkan. Per lima menit bergantian orang masuk silih berganti, Allahu Akbar. Balasan Allah atas segala ujian menerpa dan musibah yang ms terima. Dari sekian sekolah, bimbel, dan rekanan silaturahmi tak henti-henti datang bahkan sampai sebulan ke depan. Sungguh menjadi penguat tersendiri atas kesendirian selama ini. 

Yang mengharukan adalah kelas yang Ms ajarkan meminta untuk datang semua ke rumah. Walau sempat dilarang wakepsek, namun kepsek justru mengijinkan dan memahami kesedihan siswa atas apa yang menimpa ms Juli. Sampai merinding mereka mengawal dan menemani di saat-saat seperti itu. Mesjid tempat menyolatkan jenazah juga penuuh. 

Pemandangan unik adalah saat mengawal jenasah ke pemakaman menggunakan ambulans, sebenarnya ms trauma dan pusing saat itu, namun melihat siswa otomotif yang katanya pernah mau demo minta pengunduran diri seorang Ms Juli dari sekolah ini, justru mereka berdiri paling depan untuk menemaniku. Perjalanan ke tempat pemakaman yang secara logika dengan kemacetan hari-hari bisa setengah jam, kali ini hanya butuh waktu 10 menit. 

Logikanya dimana? Itulah kuasa Allah, ms berusaha kuat dan tegar melihat lautan manusia begitu banyak. Hampir pingsan dan tangisan berusaha ms tahan, kasihan ke tiga jagoan yang turun sendiri menguburkan ayahnya. Bagaimanapun luka yang pernah tertoreh tak nampak dari ketiganya yang baru terasa kehilangan saat itu. Terutama sulung yang sedang menghadapi ujian saat itu, harus ijin dua hari agar bisa menemani ibu dan kedua adiknya. 

Begitu banyak rasa yang tertinggal dan terlewat. Nano-nano rasanya. Inilah panggung perjalanan anak manusia di dunia fana, segala peran yang harus terlaksana dengan sebaik-baiknya nya. Namun, sebagai guru ini adalah puncak kebanggaan seorang Ms Juli. Dalam sejarah mengajar ms, inilah yang paling membanggakan. Hal yang terasa berat dan menyedihkan ternyata Allah berikan balasan keikhlasan ini dengan siswa-siswi dengan ketulusan luar biasa. 

Segala kesulitan yang selama mengurus almarhum dengan kewajiban mengajar selama ini yang gamang, juga menyedihkan Allah tunjukkan dengan sikap siswa-siswi yang begitu baik dan merasakan kesedihan yang ms Juli rasakan. Semoga Allah berikan hikmah kepada ms dan anak-anak di rumah. 

Ms lihat juga ketiga anak-anak sangat kuat satu sama lain dan bangga dengan keadaan saat itu mereka ternyata tidak sendiri. Begitu banyak dukungan dan suport untuk ibunya yang selama ini mereka anggap kuat dan tegar melewati ujian tanpa ada keluarga dua belah pihak mendampingi. 

Ms tak mungkin berlarut-larut menghadapi masalah ini. Ujian kelas XII sudah kembali di depan mata. Ms harus mempersiapkan mereka agar meraih nilai lebih baik lagi.

Catatan Mis Juli (16)

Kisah sebelumnya: 
http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-15.html

Sungguh seru dan mengharukan sekali pengalaman itu. Ini cukup menjadi trauma tersendiri untuk seorang Ms Juli, dan tidak ingin lagi menjadi apapun selain menjadi guru. Kalau ms Juli ingat sejak merintis TPA dulu di tahun 1994-1998 akhirnya juga dengan intrik. Idealis ms yang jujur dan tegas belum bisa diterima oleh pihak manapun yang merintis nggak mau tapi maunya tinggal enak. 

Begitu juga dulu di PDGS, dan kini di SD ini seharusnya tidak berkali-kali jadi sekolah baru. Namun sekali lagi dengan intrik ms Juli mengalami hal-hal yang tidak ms pahami sebagai manusia. Memang yayasan dan sekolah bukan manusia yang sempurna, namun juga harus bekerja sama untuk menjadi sekolah yang baik dan diunggulkan oleh orang tua. 

Berkali-kali lagi ada yang menawari ms untuk menjadi kepala sekolah atau pemilik sekolah dengan dewan penasehat ms tolak. Terakhir kali mantan kepala sekolah di Permata Hati tempat ms mengabdi waktu itu menawarkan diri untuk menjadi kepala sekolah di Al-Azhar Cibubur ms tolak. Ms hanya ingin mengabdi menjadi guru saja yang mengurus siswa di kelas saja. Tidak akan bersinggungan dengan kepentingan apapun. Kalaupun terjadi perselisihan biarlah, bukan sebagai kepala sekolah atau siapapun yang akan berhadapan dengan rekan guru lain atau yayasan. 

Mengambil hikmah atas segala peristiwa dan fokus pada kesehatan kepala keluarga rumah ini yang sakitnya bertambah parah. Diabetes yang dideritanya racunnya telah menjalar kemana-mana. Tapi yang paling utama adalah post power sindrom sebagai kepala keuangan dulu belum juga mau pergi dari dirinya, serta permasalahan keluarga kami yang selama ini justru mengoyak keharmonisan keluarga kecil yang baik ini. 

Setelah menikah lagi dan ketika sakitnya harus kami yang menanggung sesungguhnya berat untuk seorang Ms Juli yang sejak tahun 2000 harus menanggung ekonomi keluarga seorang diri. Tidak ada satupun yang menolong dan bisa diandalkan, termasuk beliau. Tapi sekali lagi ms tidak pernah mengeluh, berusaha melarikan masalah dengan positif seperti bekerja dan saat ini mencoba mulai menuliskan sedikit demi sedikit di blog e-diary yang merupakan kecanggihan internet saat ini. 

Lima bulan terakhir sakitnya bertambah parah. Padahal kami sudah berusaha membawanya kemana saja. Baik kedokteran, maupun secara herbal untuk menuju kesembuhannya. Praktis ms Juli dari pagi sampai malam jarang tidur di 5 bulan terakhir hidupnya. Pagi sampai siang mengajar, pulangnya langsung privat sampai jam 9 malam, setelah itu menjadi suster yang harus mendampinginya sampai pagi. 

Sering kalau malam beliau merasakan kesakitan dan tidak bisa tidur, sehingga ms harus mencari cara dan jalan untuk bisa membuatnya tidur. Tapi jarang berhasil, bisa dipahami juga sih sakit yang dirasakan sudah semakin menjalar. Sebulan bisa masuk rumah sakit 2-3 kali, belum lagi ICU. Dengan keterbatasan ms Juli sebagai single fighter keuangan, serta hubungan keluarga besar yang kurang harmonis, membuat ms dan 3 anak secara bergantian menjaganya. 

Padahal, di tahun pelajaran berikut di SMK Yadika 13 ini ms mendapat tanggung jawab mengajar 6 kelas XII akutansi dan Otomotif dan 2 kelas X akutansi. Sungguh keadaan yang tidak mendukung. Antara mengurus yang sakit dengan tanggung jawab sekolah yang luar biasa amanahnya. Ms berusaha bicara dari hati-kehati dengan kepala sekolah pak Josep tentang kesulitan yang ms rasakan. 

Bungsu yang sudah masuk kelas IX sebentar lagi lulus sering dikorbankan untuk  menjaga di RS sementara ms di sekolah. Sering saat mengajar tiba-tiba pihak rumah sakit menelpon untuk keputusan masalah uang atau pengobatan. Sungguh dilema sekali, namun bisa apa seorang Ms Juli. Sering ms harus minta maaf kepada anak di kelas karena hanya meninggalkan tugas saja. Puncaknya akhir bulan September menjelang idul adha beliau sempat tidak bangun selama 3 hari. Sementara anak-anak ujian mid ganjil, gamang sekali ma Juli. 

Mencoba berbagi tenaga sana-sini ternyata kalah juga. Sampai ms Juli tetiba dipeluk oleh bunda Titi demikian ms memanggilnya. Seorang guru senior di sekolah ini, saat pagi ms tiba di sekolah. Ada apa? Ms bingung sekali. Rupanya beliau ingin bicara dari hati ke hati, sebagai seorang teman dan kepala jurusan TKR atau otomotif di sekolah ini. 

"Bu Juli, ada apa mengapa matamu menghitam. Seperti orang kurang tidur, sepertinya lelah sekali aku melihatmu, Bu. Boleh bercerita sama saya?" Demikian beliau membuka pembicaraan kepada ms Juli. 

Lalu mengalirlah kata-kata selanjutnya dari beliau dari soal KBM di kelas hingga tekanan struktural di atas. Katanya, anak-anak akan melakukan demonstrasi untuk menuntut ms Juli mundur. Alasannya karena ms Juli banyak meninggalkan kelas dan KBM. Syok dan sedih tak bisa dipungkiri, tadinya hanya ingin menyimpan sendiri masalah dan kesedihan akhirnya pertahanan jebol juga. 

Selama ini juga sudah berusaha komunikasi dengan kepala sekolah sebagai atasan langsung, namun ternyata antara kepsek dan wakilnya belum sejalan dan sepaham. Wakil berdasarkan sentimen pribadi yang masih menyimpan kesal karena bukan beliau yang menerima ms Juli di sekolah, merasa tidak mengerti keadaan sesungguhnya aku sebagai guru matematika yang seharusnya ada di bawah komando. 

Mungkin salah ms juga kurang bicara dan terbuka kepada beliau, tidak punya waktu untuk banyak berbincang dari hati ke hati karena kesibukan selama ini. Sehingga prasangka demi prasangka kedua belah pihak terjadilah. Namun anehnya, beliau tak juga ingin kroschek kepada ms maupun kepsek yang mengetahui keadaan sesungguhnya dalam keluarga. 

Kini sudah terjadi, gejolak demi gejolak akibat buntunya keadaan tak mungkin dihindari. Ms Juli tak tahan juga akhirnya menangis di pelukan bunda Titi sambil menceritakan masalah sesungguhnya. Beban yang selama ini menggunung akhirnya keluar juga. Bunda Titi tentu kaget dan ikut prihatin, tidak menyangka bahwa keadaan ms sudah sedemikian beratnya. Beliau menyesali wakil kepsek yang gegabah mengambil keputusan dengan menggerakkan kelas XII untuk demo ke kepsek. Beliau mengetahui dari keluhan siswa otomotif di bengkel saat pelajaran produktif. 

"Bu Juli, ayo kita naik ke kelas XII kita jelaskan keadaan sesungguhnya dirimu. Biar mereka paham dan tidak menelan mentah-mentah pengaruh dari informasi yang salah." Begitu bunda Titi memintaku. 

Sesungguhnya berat, tapi demi clearnya masalah harus ms Juli lakukan. Dengan langkah gontai ms Juli mengikuti langkah beliau dari belakang. Sedih, itu pasti nggak bisa dipungkiri. Namun, harus diselesaikan itu tidak bisa dihindari. Sedih keadaan sangat bertumpuk antara sekolah dan rumah. Sementara lelah kerap melanda pikiran dan tenaga tanpa mampu ms hindari namun harus dilawan. 

Tiba di depan setiap kelas, bunda membuka dengan penjelasan, selanjutnya beliau meminta ms Juli menambahkan penjelasannya. Baru di kelas pertama, ms Juli nggak sanggup untuk mengatakan sesuatu. Hanya air mata saja yang mengalir deras. Anak-anak di kelas yang seluruhnya laki-laki akhirnya trenyuh dan tak tega melihat keadaan ini. Akhirnya bunda yang meneruskan cerita ms Juli sesungguhnya. 

Banyak anak-anak di kelas yang sangat terharu ditambah melihat ms menangis. . . .

Catatan Mis Juli (15)

Kisah sebelumnya:  http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-14.html

Akhirnya selesai sudah rangkaian mengajar baik di SD Al Azhar Syifa Budi Legenda dan SMK Yadika 13. Ada sedih terharu dan berat untuk melepas mengajar di SD. Namun dengan pertimbangan satu dan lain hal ms Juli harus pamit. Sempat nggak enak ke kepala sekolah yang sudah demikian baik selama ini memberi kesempatan seluas-luasnya tanpa pilih-pilih guru lama atau pengganti saja. Ms Juli merasa diberi tempat terbaik selama di sini. 

Namun, macet dan fokus mengurus keluarga sakit adalah alasan yang utama. Selain sertifikasi di SD belum juga cair sudah hampir satu tahun. Entah akibat mantan kepsek dulu yang tidak ikhlas melepas ms Juli karena keluar dari PDGS dan juga menolak mengajar di sekolahnya Wallahu alam, hanya Allah yang tahu. Ms serahkan segalanya kepada Allah. 

Ms mau cerita sedikit, sempat aku datang ke sekolah kecil SD dimana pemilik yayasannya adalah teman kepala sekolah dulu waktu di gugus IX sembilan kepala sekolah waktu ms masih di PDGS. Kami berdua saja yang swasta, sementara 7 lainnya adalah SD  negeri. Iseng ms datang ke rumahnya. Menyampaikan kebimbangan soal sertifikasi yang belum juga kunjung cair hampir setahun. 

Kini ada rencana menetap mengajar di SMK, sambil menunggu bisa mutasi sertifikasi ke SMK, barangkali yang di SD barangkali bisa membantu mencairkan sertifikasi, dengan cara mencari tempat mengabdi di SD lain setelah sudah tidak mengajar di Al-Azhar. Alhamdulillah beliau baik langsung menerima, namun di luar dugaan ternyata ms Juli langsung didapuk menjadi kepala sekolah di yayasan beliau. Ms nggak usah sebut namanya yaa. Takut ghibah. 

Jujur, kaget dan nggak siap sebenarnya. Tapi ya harus dijalankan, agar sertifikasikuh bisa terus  cair. Rupanya sekolah ini bedol desa alias sepaket perangkat struktural sekolah dan guru-guru nya sebagian rencana resign berbarengan. Itu mengapa ms Juli didapuk untuk mengganti kepala sekolah yang resign tersebut. Dan proses perekrutan guru sudah berjalan rupanya. Akhirnya, ms harus memimpin di sekolah SD tersebut. 

Ms sudah menyampaikan bahwa sudah terikat mengajar di SMK Yadika 13 tersebut, ssst juga dalam rangka mutasi sertifikasi. Setelah Al-Azhar selesai ms tetap harus mencari SD agar sertifikasi kembali cair dan dibayar pemerintah. Sambil berproses mutasi rencananya. Akhirnya setelah terjadi negoisasi tercapai kesepakatan bahwa ms tetap menjadi kepala sekolah, walau waktu kontrolnya adalah hari Jumat pulang dari sekolah utama kini (InshaAllah). 

Lumayan agak ringan kalau begitu, namun saat Ms menangani SD ini, mulai dari laporan keuangan sampai kurikulumnya ternyata membuat ms Juli sendiri shock sekali. Ternyata sekolah ini lemah sekali masalah pengaturan keuangan nya. Banyak kebohongan dalam penyusunan anggaran, pemanfaatan guru, sehingga saya sebagai kepala sekolah merasa malu sekali dengan apa yang yayasan lakukan. 

Sebenarnya, anak yatim di sekolah ini hanyalah 4 saja. Namun pada saat pengajuan NISN siswa seluruh yang berjumlah kurang lebih 50. Kebetulan sebagai mantan kepsek tentu memiliki pengalaman lumayan bahwa pengajuan NISN harus jujur dan ada biaya 2000 rupiah per siswa untuk membuat kartu di kabupaten sana. Tapi di sini ms diminta untuk mengakui bahwa semua siswa adalah anak yatim, ya ms berdosa dong kalau melakukan itu? 

Di situlah hati nurani tak mampu membohongi diri sendiri bahwa sekolah SD ini nggak benar. Tujuannya adalah pengurusan NISN itu gratis nggak perlu bayar malah kalau perlu. 

Masalah demi masalah bermunculan, ms Juli yang sudah prihatin dengan rekan-rekan guru yang harus mengajar dari pagi sampai sore namun bergaji 400.000. Sebenarnya ms paham kalau itu memang berangkatnya sama-sama, namun yang ms lihat yayasan juga seperti ingin mengeruk keuangan dari sekolah ini. Seperti lumbung uang yang harus dimanfaatkan segalanya. 

Tiba pada pemasukan keuangan dari TPA, uang dari orang tua per siswa adalah 20.000.  Mau ms juli pembagian honor TPA  adalah 12.000 dengan 8000. 12 untuk guru yang mengajar, dan 8 untuk yayasan sebagai pemilik. Jangan dibalik. Kan guru yang paling banyak mengajar, kasihan juga untuk menambah honor guru. Namun, setiap apa yang dibela oleh ms Juli untuk guru selalu disalahkan. Sampai tidak.tega melihat keadaan itu. 

Tugas kepala sekolah adalah memajukan sekolah dan membimbing, memimpin guru agar selaras dengan keinginan sekolah dan yayasan. Yayasan mulai gerah dengan kejujuran dan ketegasan ms Juli, namun belum juga mengakui kezoliman mereka kepada guru-guru dan karyawan sekolah. Berusaha untuk bicara dari ke hati tidak pernah membuahkan hasil, terlihat keras sekali kemauan yayasan. Padahal maaf, pemilik yang laki-laki bekerja, dan yang perempuan penceramah yang mengerti agama. 

Puncaknya, ketika masuk bulan puasa orangtua siswa diminta untuk santunan. Berupa sembako dan uang di amplop. Namun lucunya sembako dan amplop harus diserahkan sendiri ke yayasan. Dipajang di etalase rumah pemilik yayasan. Namun, tidak dibagikan oleh siapapun seperti anak yatim atau apapun. Orangtua yang dekat rumah beliau pun mempergunjingkan hal itu. Agak bingung juga Ms Juli menyikapinya. Ingin bertanya kok rasanya bukan wilayahnya, kalau tidak ditanyakan orangtua banyak yang mendesak. 

Sementara menunggu kami melewati bulan Ramadhani dengan berusaha khususk dan meminta rekan-rekan guru dan orangtua siswa untuk colling down. Walau masukan dari orang tua yang anaknya di kelas kami paling tinggi mengatakan pengalaman-pengalaman sekolah ini. Ternyata sekolah ini sudah dua kali membubarkan sekolahnya karena ketiadaan guru dan kepsek yang berkali-kali dipecat atau keluar bersama-sama karena kondisi serupa. 

Kezoliman yayasan selalu berulang dan sepertinya tidak pernah mau belajar dari pengalaman. Berarti ms Juli ini ketiga kalinya dan orang tua sudah semakin paham. Seharusnya sekolah ini sudah meluluskan angkatan pertama, namun karena berulangkali siswanya dibubarkan, atau banyak yang keluar lama kelamaan habis jumlahnya. Kelas empat yang tertinggi saat ini saja jumlahnya hanya 6 siswa. Tidak cukup kelak mengikuti ujian sendiri, dan harus menginduk ke sekolah lain. 

Akhirnya setelah Ramadhan ms Juli dengan berat hati mengajukan resign karena bagaimana mungkin ms Juli hanya datang Jumat Sabtu untuk kontrol sekolah digaji 800.000 sementara guru yang setiap harinya sampai sore di sekolah malah separonya. Belum lagi sifat Yayasan yang arogan dan tidak mau bermusyawarah untuk mencari yang terbaik. 

Namun, Yayasan selalu menghindar dari pertemuan dengan ms Juli. Malah yang terjadi adalah adanya pemecatan sepihak dari sekolah untuk ms sebagai kepala sekolah. Artinya, bukan ms yang mengundurkan diri tetapi mereka yang memecat. Lucu, bukan? Saat itu usai lebaran dan jelang honor kepala sekolah ke-3. Tidak ada bonus untuk guru dan sembako dari orangtua, hanya gaji utuh saja. Tapi ya sudah lah pikir ms Juli barangkali ada orang yang bisa menggantikan posisiku lebih baik lagi. 

Rupanya rekan-rekan guru keberatan, karena merasa ms sebagai kepala sekolah membimbing mereka dengan pengalaman ms Juli selama ini, serta membela kepentingan guru. Jadi merekapun sepakat keluar berbarengan setelah dua Minggu ms tidak lagi menjadi kepala sekolah

Catatan Mis Juli (14)


Kisah sebelumnya: 


http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-13.html

Bukannya bermaksud ingin kurang ajar atau tidak menghargai wakepsek yang marah karena ms nggak bisa mengambil langsung tawaran 35 jam. Namun, ms Juli masih memiliki tanggung jawab di SD Al Azhar Syifa Budi Legenda. Masih punya 8 jam untuk berbagi saja sudah Alhamdulillah, semoga karena kepsek Pak Josep melihat CV ms dengan profesional, bukan karena kasihan. 

Alhamdulillah bisa mengajar dua kelas otomotif buat ms sudah bersyukur. Sebisa mungkin ms mengajar. Awal-awal sih mereka membuli ms dengan cara tidak mau belajar, ngeledek "Mama Dedeh, curhat Doong" walaah. Ms tetap tenang, dan berusaha mengajar dengan santai. Begitu mulai mengerjakan soal, ternyata mereka mulai tertarik satu persatu untuk memperhatikan. 

Mungkin dianggap berbeda cara menerangkannya, lalu mereka seperti orang haus akan ilmu dan informasi. Mereka mulai memperhatikan serius cara dan matematika yang saya terangkan. Yess, Alhamdulillah hari itu berlalu dengan membahagiakan. Walau hanya 2-3 soal tapi mereka sudah senang kelihatannya. Mengapa sedikit soal? Karena begitu banyak pertanyaan dari mereka anak otomotif yang baru ini ms hadapi. 

Hari-hari berikutnya, mereka seperti orang haus dan lapar, kehadiran ms begitu ditunggu setiap jam pelajarannya. Kini bukan lagi "Mama Dedeh" sapaannya. Tetapi ms Juli, sapaan yang biasa ms sebut untuk menyebut diri ini. Kalimat perintah yang biasanya Indonesia sesekali menggunakan bahasa Inggris, maklum sudah terbiasa di dua sekolah sebelumnya. Kadang siswa senyum-senyum sendiri karena tidak mengetahui artinya. Pelan-pelan saya terjemahkan. Lucu mungkin buat mereka, guru matematika, dipanggil dan membahasakan diri dengan ms Juli dan mengucapkan instruksi dalam bahasa Inggris.

Belum lagi saat Ms memanggil mereka dengan panggilan "Mas" sebagai sapaan. Mereka seolah merasa dihargai dan dihormati. Bukan hanya sekedar nama saja. 2-3 kali pertemuan, siswa sudah mulai terbiasa dan enjoy. Mulai aktif bertanya, walau terkadang masih belum mengerti. Nah ternyata, 27 jam mapel yang belum terpenuhi oleh ms Juli diberikan kepada guru matematika lain juga, yang ternyata berlatar belakang SIP. Sarjana Ilmu Pelayaran. Buat ms awalnya tidak masalah sih, namun mulai timbul kejadian, ketika kelas yang Ms ajarkan ternyata bercerita betapa asyiknya diajar oleh ms Juli.

Bahkan pernah, ketika ms ada keperluan mengantar anak SD Al-Azhar Syifa Budi Legenda untuk lomba olimpiade Matematika di Bandung selama dua hari, dan ibu guru itu menggantikan jam ms, siswa protes. Ternyata siswa hanya diberi fotocopy soal dan ditugaskan mengerjakan sendiri. Sementara beliaunya duduk manis. Ketika diminta mengajarkan, beliau selalu mengelak dengan meminta mereka mengerjakan terlebih dahulu. Ada yang mencoba konsultasi soal, ibu itu ternyata tidak bergeming. Siswa akhirnya mengadu kepada wali kelasnya.

Dua hari kemudian, wali kelas tersebut melaporkan kejadian tersebut. Bahkan beliau sampai ikut masuk ke kelas tersebut. Sehingga beliau menyaksikan sendiri kejadian di kelas seperti apa.

"Bu, kasihan anak aku. Jangan ditinggal lagi, kasihan mereka sangat butuh sekali pengajaran matematika, Bu. Baru kali ini kulihat anak kelasku begitu antusias belajar matematika, sejak ibu datang. Bisakah ibu membantu mereka hingga ujian selesai? Bisakah mereka mengejar ketinggalan yang selama ini karena guru matematika sebelumnya cuek banget, Bu?" Ibu Eci tersebut memberondong dengan kata-kata dan pertanyaan.

Jujur, ms Juli tersanjung sekali, walau sedikit ada rasa bersalah karena masih harus mendua dengan SD Al-Azhar Syifa Budi Legenda. Tapi gimana lagi? Belum lagi, belum lama mengajar tetiba ms juga harus mengajar PM di sekolah ini pulang sekolah jam 12- 14 siang. Karena sudah fokus pada pelajaran 3 mapel UN yaitu Matematika, Bahasa Indonesia,  Bahasa Inggris dan Produktif siswa pulang pukul 12.00. Yang tadinya hanya mengajar di dua kelas, dengan PM ini mau nggak mau harus memegang 3 kelas lainnya.

Praktis, setiap hari Ms Juli harus mengajar satu kelas matematika. Bersyukur sih, jadi bertambah lagi pasien matematika yang harus ms Juli bedah kesulitannya. Bersyukur Al Azhar Syifa Budi Legenda bisa memahami dan mengijinkan ms Juli pulang lebih cepat setelah jam kosong, tidak usah menunggu sampai sore hari. Setelah itu ms langsung menuju SMK Yadika 13 untuk melaksanakan PM matematika kelas 12.

Ternyata, ada dua siswa otomotif yang begitu termotivasi untuk bisa mengerjakan matematika. Terlebih, mereka juga memang haus untuk belajar dan mengejar ketertinggalan mereka juga. Terkadang mereka minta ijin untuk datang ke rumah dan belajar bareng dengan anak ms yang juga mau ujian kelas 12 SMA. Ya, anakku memilih SMA. Alhamdulillah kedua anak tersebut mau belajar dan bertanya. Aktif sekali mereka saat bergabung bersama anak SMA tersebut.

Bersyukur ms Juli mereka bisa dan mau  mengejar ketertinggalan mereka. Kadang mereka belajar sampai 3 jam setiap datang. Apalagi mereka juga kadang ditinggal-tinggal bila ms harus memegang kelas lain. Alhamdulillah sampai jelang detiknya ujian, siswa di rumah dan di kelas terus antusias sekali. Tanpa sungkan kedua siswa tersebut rajin bertanya baik baik di kelas maupun di rumah. Ms sama sekali tidak membedakan walau mereka tidak membayar untuk belajar.

Ms pikir ini adalah awal mengajar, tentu butuh pendekatan dan mengasah lagi ilmu matematika SMK. Selama ini ms hanya mengajar di SD, SMP, SMA IPA peminatan. Biarlah ms memberikan dulu kesempatan kepada dua siswa ini. Ternyata, bertambah dua Minggu menjelang ujian. Jumlahnya jadi empat orang. Ms berusaha melakukan tutor teman sebaya dengan dua siswa yang telah dulu belajar dengan ms Juli sebelumnya.

Semuanya anak otomotif. Namun semangatnya luar biasa. Dukungan ibu Eci selaku walikelas juga sangat membantu memberi support nya. Sehingga walau ms tahu nggak semua langsung cerdas, tapi paling tidak mau memperhatikan. Tahu sendiri bukaaan? Pokoknya ma Juli harap siswa bisa mengikuti prosesnya seberat ini apapun.

Sungguh, bukan ms Juli mau sombong. Itupun tahu kabar hasil NEM matematika mereka setelah setahun berikutnya. Maklumlah, ms kan mengajar di dua tempat. Jadi begitu PM selesai  segera fokus ke SD Al-Azhar Syifa Budi Legenda. Kebetulan juga memegang kelas 6 dan dipercaya mengajar PM juga matematika. Serta persiapan acara wisuda perpisahan kelas enam tersebut. Acaranya di gedung OSO Grandwisata.

Tetapi, Al Azhar itu punya aula besar tersendiri untuk latihan sebelumnya. Jadi enak dan bebas ms mengajar paduan suaranya. Kepsek SD ibu Siti Khodijah sangat puas dengan pencapaian hasil ujian matematika serta olimpiade yang saat itu diwakili oleh kelas 5B yang bukan kelas akselerasi. Keren kan? Rupanya mengapa siswa tersebut nggak masuk seleksi kelas akselerasi adalah, saat itu kondisi badannya sedang ngedrop. Sehingg berpengaruh dengan tes seleksi IQ, dan tidak lolos. Tapi nggak apa-apa anaknya nyantai sekali. Ms bangga mengajar dan melihat dia menjadi juara. 

Catatan Mis Juli (20)

Kisah sebelumnya :  http://misjulie.blogspot.com/2019/11/catatan-mis-juli-19.html Menjadi guru adalah kebahagiaan yang tak terni...