ADA PETASAN DALAM TAKBIR-NYA



Hari ini adalah lahirnya Pancasila, walau Sabtu dan mulai libur, ternyata teman-teman banyak yang masih masuk dan memakai seragam korprinya. Kalau ingat Pancasila, ingat apa, yaa? Kok, aku ingatnya malah kesaktiannya, ya!

Secara, kesaktian Pancasila, di hari lahirnya kali ini sedang sungguh diuji. Negri ini sedang terkoyak dan bikin jeri hati. Walau nggak pernah komentar di luar grup alumni IPB, sejak dulu berusaha menjaga terjadinya ledakan petasan hati. Ahayy, kok petasan sih? Larinya . . .iya sejujurnya aku takut kalau segalanya meletus seperti petasan. Pada akhirnya, persaudaraan dan silaturahmi yang kubangun sejak 2008 mulai di Facebook akan meledak juga seperti petasan.

Pengalaman pahit aktif di dunia politik tahun 2000-2005 cukuplah sudah. Saat itu menjabat sebagai sekretaris DPD PAN Bekasi dan belum terpisah. Masih menjadi satu kabupaten dan kota Bekasi dengan 23 kecamatan.  Kami dalam satu partai, begitu ada kepentingan berbeda, terasa sekali persaingan dan perbedaan kelompoknya. Itu kenapa, setelah 2005 memutuskan untuk keluar dari partai, ogah lagi berurusan dengan politik.

Pilihan tepat adalah memeluk profesi GURU dalam batinku. Cita-cita ku untuk menjadi psikolog atau wartawan, bisa kuraih dua-duanya. Mengapa begitu? Terkadang, suka dicurhatin anak-anak. "Ms Juli, curhat dooonk" serasa mama Dedeh saja uiks! Wartawannya gimana? Nah ini, setelah aktif kembali menulis, aku bisa melanglang buana baik secara fisik dan batin melalui kegiatan literasiku bersama emak-emak hebat di JA bersama founder ummi aleeya. Meliput dan memberitakannya dalam liputan tulisanku di medsos, gayaa, kaya wartawan beneran saja, ya! Hihi.

Libur kali ini memang serasa panjang, walau berusaha terus menjaga netralitas persaudaraan dan pertemanan di media sosial, tapi ada juga beberapa yang kurang dewasa menyikapinya. Tapi, buat seorang ms Juli yang sering dilabelin keras dan julid, senyumin saja.

 "Kalian tidak mengerti, betapa sulitnya menjaga persaudaraan. Satu musuh terlalu banyak bagiku, seribu kawan terasa kurang."  Alhamdulillah dengan sikap ini cukup menjaga juga hati ini.
Ayah sering mengingatkan, "Jaga emosi dan mulutmu," Itu yang berulang kali ayah sampaikan padaku.

Tak terasa, tinggal beberapa hari lagi Ramadhan ini berakhir. Sedih, dan takut bercampur baur dalam hati. Sedih, karena masih belum sempurna ibadah dan amal, terlalu banyak mengejar dunia. Takut, karena khawatir tak cukup waktu bertemu kembali untuk kesempatan memperbaiki, lagi dan lagi. Sementara, di gangku beberapa sudah mulai mudik . . .tetapi, anak-anak alhamdulillah masih tetap ramai di masjid dan sahur tadi pagi . . .uiiih, kebiasaan membangun kan penghuni komplek perumahan kami masih terjaga. Walau ritmenya pasti sebentar lagi berkurang.

Sepuluh tahun tepatnya tahun ini, aku menjadi penghuni perumahan ini. Nggak besar atau kecil, di depan rumah selalu ramai bunyi petasan membahana di malam takbirnya. Maklum, perumahan ini sudah 30 tahun lamanya, sehingga banyak yang justru jadi tujuan mudik dari daerah manapun. Jangan heran, akan banyak cucu-cucu yang berkumpul bersama di setiap Lebarannya.

Berharap bisa tenang tidur atau rileks berzikir dalam takbirnya? Pasti tak mungkin, karena malam ini saat kutulis saja sudah mulai berbunyi petasannya. Puncaknya? Ya, saat malam takbiran. Haqqul yakin 1000 persen . . .secara sudah hafal kebiasaan penghuninya. He he, jadi? Tahun ini akankah menikmati petasannya di malam Takbir? Entahlah, secara masih rindu pulang kampung halaman, menjumpai pakdeku yang tinggal semata wayang mengasihi ku sebagai anaknya. Jogjakarta . . .im coming soon, yaa

#Daytwentyeight
#RWC2019
#OneDayOnePost

Posting Komentar

28 Komentar

  1. Saya pernah menjadi guru selama 4 tahun. Masya Allah, profesi ini ternyata sangat menyenangkan. Qadarallah, saya harus melepaskannya ketika memutuskan untuk mengikuti suami ke luar negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mashaallah mbak, tetap menjadi guru untuk anak-anak di rumah ya

      Hapus
  2. selama di Solo kemarin malah susah mbak nyari petasan, akhirnya cuma dapat kembang api, lumayan anak-anak senang maen kembang api hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. ha ha tetap saja ya sebagai hiburan he he

      Hapus
  3. Petasan memang seru sih tapi saya kurang sreg sama suaranya bikin kagetan. Untung tinggalnya di kampung paling petasan anak2 kecil sama kembang api.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu bahagianya adalah di situ mbak di kampung nggak sekeras di Kota

      Hapus
  4. petasan mmg identik dg suasana lebaran dan thn baru ya mb^^ terima kasih atas ceritany mb. salam kenal ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga mbak Vidya terimakasih sudah mampir

      Hapus
  5. Petasan always selalu ada Mbak...malah di kampungku...semangat men...bikin petasan krenceng...bunyinya ya Allah...bikin daku kaget-kaget. Piye nek lebaran no petaan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he iya ya mbak mashaallah itu yang bikin kagetan

      Hapus
  6. Petasan memang kadang suka ngagetin dan bahaya juga. Masih mending Kembang api. Hehe ... benar, ya, Mbak istilah kalau Satu musuh itu terlalu banyak dan seribu kawan rasanya kurang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak inshaallah selalu merindu persaudaraan

      Hapus
  7. alumni IPB ya mbk? angkatan berapa nih? jurusan apa? suami saya juga alumni situ.

    BalasHapus
  8. Suka dengan kata-kata "satu musuh terasa banyak, 1000 teman berkuran" berharap setelah ini kehidupan berbangsa dan bernegara membaik lagi. Persatuan Indonesia lebih dikedepankan lagi. Aamiin...

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah, tahun ini mudik ke kampung halaman. Petasan tak banyak dinyalakan kayaknya, Mbak..hihi. Beda banget ketika lebaran di Jakarta...lebaran lewat aja masih rame petasan...

    BalasHapus
  10. Hiyaaa.. Petasan dimana-mana ya mb. Maaf lahir batin mba

    BalasHapus
  11. Wah ramadan berlalu itu bikin baper ya mba. Smg kita bertemu bulan penuh berkah itu. Aamiin...

    BalasHapus
  12. Duuuhh, kemarin ada anak2 main petasan kecil di dekat rumag. Gemeesss akutuh, apalagi ada bayi. Jadilah gak tahan keluar rumah tuk negur mereka.
    Maaf lahir bathin ya Mis. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul wajib banget mengingatkan mbak maaf lahir batin juga

      Hapus
  13. kalau terganggu sebaiknya tegur yang main petasan. petasan yg paling mengganggu itu petasan pas malam tahun baru, nggak berhenti2 >.<

    Blognya sudah aku follow. Boleh minta follow backnya ya bunda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inshaallah terimakasih mbak saya follow yaa

      Hapus
  14. iya mba petasan memang agak menganggu sih aku pun juga mengalami peristiwa yang sama saat lebaran kemarin bahkan anakku sampai nagis nangis karena terganggu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah apalagi sudah sangat mengganggu sekali wajib kali ya diingatkan

      Hapus