KALI INI TENTANG ZONASI





Bicara zonasi, pasti lagi ngomongin tentang PPDB yang lagi ngehitz, bukan? Lagi viral ya, Mak? Ada yang punya masalah?

Aku mau cerita dulu tentang masa SD dan SMP ku yang sekolah dengan menggunakan sistem zonasi dan nem dulunya. Artinya, begitu lulus SD dan SMP mau ke jenjang berikutnya menggunakan sistem ini juga, hanya nem juga jadi pertimbangan.

Mengapa begitu? Di Jakarta aku memulai pendidikan ini. Lahir dan dibesarkan di kota Jakarta yang menjadi impian orang banyak. Papahku mengajak keluarga tinggal di daerah Otista III dekat pasar Istrat Jakarta Timur. Lokasinya enak mau kemana-mana, aksesnya. Ke pasar, ke sekolah, ke daerah lain, semua mudah dijangkau untuk bepergian dengan biaya minimalis.

Hanya satu kekurangannya, daerah ini dikenal dengan daerah hitam. Mengapa begitu? Karena banyak pelaku kriminal pun kumpul di sini. Tapi, bangganya dulu Mara Karma adiknya Oma Irama juga tinggal di sini sehingga berkontribusi untuk kemajuan seni, dimana aku juga senang dengan hal itu.

Lalu? Apa hubungannya? Nggak ada hubungannya sih hanya mau bercerita bahwa, dengan daerahku ini, aku mendapat SD, SMP, dan SMA yang dekat secara zonasi juga nem pendukung. Untuk SD, dulu aku  baru diterima setelah tanganku mencapai kuping. Waah cara jadul ya, iyalah. Tapi, secara usia dan akte matang yaitu umur 7 tahun.

Mamah cukup mendaftarkan setelah itu aku harus mandiri berangkat ke sekolah. Walaupun daerah hitam, toleransi dan empati orang di situ itu sangat tinggi. Maklum mungkin karena ekonominya rata-rata senasib kali, ya. Aku sih memandangnya positif ke sana. Walau secara pergaulan sempat sedikit terdampak, heu malu kalau aku bercerita masa kecilku itu.
Kenapa nem juga mendukung? Ketika aku mulai masuk SMP, setiap anak mengajukan 3 pilihan sekolah yang dekat dengan wilayahnya dan tujuan. Aku memilih tiga sekolah yang memang mudah terjangkau dengan jalan kaki atau transport murah seperti mikrolet di Jakarta sampai sekarang. Kalau di Bekasi dikenal dengan angkot istilahnya.

Nah Nem itu menyesuaikan, karena urutan terpilih adalah sekolah favorit, sedang, dan biasa. Ya, dulu ada sekolah pilihan favorit. Tapi bukan itu tujuanku, karena selain jauh mama juga menyarankan seperti itu. Aku dikenal sejak kecil dengan bronchitis. Penyakit paru-paru kering. Bila kena debu, panas ekstrem dan dingin pasti kumat. Kalau sudah sakit bisa hampir 3 minggu lamanya. Jadi dokter menyarankan agar aku banyak olahraga dan berjalan kaki.

Sesuai dugaan dan doaku, aku diterima di SMP 36 yang dekat dengan rumah dan pilihan kedua. Sekolah yang sedang dan cukuplah. Kata guru-guru SD ku berkata seperti itu. Soal ambisi memang aku tidak ke sana. Bisa bersekolah dan dekat buatku sudah Alhamdulillah sekali. Begitu juga saat masuk SMA, malah aku sempat kecewa saat diterima di pilihan ke-3. Tapi belakangan aku sangat bersyukur, karena aku justru jadi dapat panggilan universitas negri IPB karena sainganku lebih sedikit.

Anak papah itu lima orang. Walau kerja di Garuda Indonesia Airways (GIA), tidak seperti prasangka siapapun. Anak yang ditanggung untuk berobat hanya dua, jadi kalau sakit kami bergantian menggunakannya. Juga fasilitas lain, istilahnya berat keuangan papah dengan 5 anak. Kalau tidak mendapat negeri akan berat sekali buat papah untuk bisa menyekolahkan ke-5 anaknya. Jadi, walau aku tidak cocok dengan jurusan D-3 Pendidikan Matematika, harus kuambil demi membahagiakan papah dan mamah ku. Selain, tidak punya pilihan kalau tidak ingin menganggur di rumah.

Jadi kembali soal zonasi, saat ini nem ternyata tidak memiliki pengaruh apapun. Tapi dengan sistem zonasi anak kurang Nem pun harus diterima demi pemerataan. Beberapa tahun ke belakang memang sekolah favorit jadi pilihan, sehingga masyarakat di lokasi dekat sekolah tersebut jarang yang bisa diterima karena nilainya tidak mencukupi.

Pengalaman, sebagai pengajar memang nilai NEM jadi persoalan sendiri. Selain menghabiskan dana, juga menimbulkan karakter menghalalkan segala cara. Dari pembocoran soal, ke dukun, Bimbel yang harganya gila-gilaan, sampai protes belajar sekian tahun hanya ditentukan oleh ujian sekian hari. Benar sekarang kelulusan dikembalikan ke sekolah. Tapi, memang kemarin kami masih mendengar bahwa Nem adalah indikator untuk diterima di sekolah atau universitas.

Sedangkan kelulusan untuk melihat ketuntasan siswa belajar. Namun, dengan sistem zonasi yang sosialisasinya belum khatam dipelajari oleh seluruh stake holder menimbulkan kerancuan di lapangan. Wajar kalau kemudian timbul keluh kesah tak berkesudahan seperti inilah.

Ramai nian kan soal zonasi yaa, sebenarnya mengerti ujungnya ingin mengatakan hapuskan UN, tapi ditentang penguasa. UN dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan belajar siswa, padahal yang lebih penting itu adalah ketuntasan, dan yang lebih tahu adalah sekolah dan guru di kelas. Terpenting adalah indikator ketuntasan.

Semoga negeri ini semakin memperbaiki. Setiap ide seharusnya tersosialisasi dengan baik dan dipahami bersama seluruh stake holder pendidikan. Jangan serba ujug-ujug yang akhirnya timbul prasangka dan miskom. Mamak, ada yang punya pengalaman?

Posting Komentar

14 Komentar

  1. TK, SD, SMP aku sesuai zonasi, SMA yg nggak krn alhamdulillah diterima di SMA Favorit. Setelah aku pikir2 lagi, nggak masalah sih soal zonasi. Toh skrg dalam bidang pekerjaan yg dicari lebih kepada kamu bisa apa ketimbang nilai kamu berapa.

    Aku pun termasuk yg pro hapuskan UN, krn apa ya sbagai makhluk yg memiliki multiintelegensia kita gak bisa menyamarataan syarat kelulusan. Yang penting adalah orang tua dan guru terlibat dgn pendidikan anak shg bisa tersalurkan apa yg menjadi minat bakat sehingga kelak anak bisa menjalani sesuatu secara profesional dan penuh kegembiraan. Weleeh bahasakuuh, hahaa maap jadi curcol.

    BalasHapus
  2. Aku zonasi dari SD, heheh. Kebetulan SD, dueket dr rumah. SMP, SMA begeri favorit juga deket. Kalau SMA cuma 500 m. Kalau SMP 1 km. Nah, anakku juga bakalan kayak ibunya. Karena rumah kami hanya 700 m dari TK,SD,SMP,SMA. Cuam SMAnya aja yang kurang favorit. Tapi termasuk bagus di lingkunganku. Btw yang penting anak nyaman aja sih mau sekolah di mana. Dan lingkungannya positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu yang kulakukan dengan anak-anakku mbak

      Hapus
  3. Aku termasuk geng orttu yang mulai galau mikirin sistem zonasi ini Miss. Sebenernya tau sih maksud ke depannya OK, tapi infrastrukturnya sepertinya belum semua siap ya Miss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Bety belum khatam sosialisasinya dan diskusinya dengan semua pihak

      Hapus
  4. Wah ini sempat aku singung jg di tulisan aku di blog waktu itu. Sistem zonasi oh zonasi. Pas zaman kakak aku jg zonasi. Alhamdulillah pas zaman aku udah enggak. Eh sekarang zonasi lagi. Masyaallah. Tapi apapun itu sistemnya semoga pendidikan di indonesia lebih baik lagi. Aamiin, mksh bun sharingnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya lebih baik lagi lah ya mbak karena sudah 74 th merdeka belajar dari pengalaman

      Hapus
  5. Pada waktu aqmasuk sekolah, juga sistem zonasi, Alhamdulillah dapat sekolah favorit. Selain zonasi juga dilihat dari nilai NEM, sekarang pun begitu. Salah satu faktor penting dari zonasi adalah kedekatan jarak rumah ke sekolah, yang kedua tetap saja nilai NEM berpengaruh...

    BalasHapus
  6. Pengalaman zonasi di sini belom..tahun depan baru karena si kakak kelas 9.
    Tapi zonasi saat di Amerika sudah. Waktu daftarin anak masuk SD, cuma bawa paspor, akte kelahiran dan semacam KTP dan ke SD dekat rumah, langsung diterima. Kalau SD beda area bakal ditolak. Area sesuai kode posnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu mbak berarti memang sudah diplot dengan baik tinggal koordinasi dan sosialisasinya saja yang ditingkatkan

      Hapus
  7. Hihihi...geli lihat gambar di awal tulisan :))
    Memang masalah zonasi lagi jadi pembicaraan hangat.
    Padahal udah ada sejak dulu, kalau di Jakarta ya ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kebetulan 12 tahun sekolah di Jakarta mbak

      Hapus