LELAKI TAK BERTUAN (12)



Cerita sebelumnya:
"Siapa nama laki-laki yang barusan umi sebut? Senyum-senyum sendiri! Ayah peluk malah menyebut nama laki-laki lain. Maksud ummi apa? Jadi kepala sekolah jadi ganjen gitu? " brondong Faisal penuh amarah.

Lanjutan berikutnya:
Susan terbangun kaget, di hadapannya dengan jarak sekian senti begitu merah wajahnya menahan marah. Susan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sesungguhnya. Hanya mengingat mimpinya tadi begitu indah . . .Amar datang ke sekolah memeluknya. Susan begitu menikmati mimpi itu dengan penuh kerinduan, lalu mengapa Faisal ada di hadapannya kini?

Baru tersadar, tadi sebelum Susan tertidur Faisal sudah tiduran lebih dulu di kasurnya. Entah mengapa, tumben. Biasanya menunggu TV mati baru menyusulnya tidur itupun berhadapan punggung tanpa disadarinya. Mungkinkah Faisal merindukannya? Entahlah . . .Susan sudah lupa kapan terakhir kali ia digauli suaminya itu.

"Jawab, ummi! Siapa itu Amar? Mengapa kamu menyebut namanya saat tertidur tadi? Jawab!" Dengan galak Faisal menatapnya.

"Ah nggak kok, itukan perasaan ayah saja. Masa ummi nyebut begitu. Ngaco nih ayah," katanya pura-pura tak peduli

"Ayah sedang memelukmu, ummi! Saat kamu menyebut namanya. Ayah kangen, sudah lama kita tidak pernah saling bicara dalam pelukan mesra, kenapa?" seakan protes Faisal meluapkan emosinya.

"Entahlah, ayah tanya pada diri  sendiri. Sudah berapa lama nggak pulang ke rumah? Sudah berapa lama ayah melupakan kami?"

"Mengapa ummi yang ayah salahkan?" Giliran Susan kini mencecarnya dengan gugatan yang sama.

Belum juga Susan sempat bicara kelanjutannya tiba-tiba suara gawai berbunyi kencang seakan memekakkan telinga. Hp Faisal berbunyi rupanya, sepertinya kakaknya menghubunginya. Terlihat wajah khawatir tampak di mata Faisal.

"Iya bang Ir, gua coba jemput Bapak di sana. Tapi gua nggak punya uang, bang" kata Faisal dengan suara lirih.

Susan hanya terdiam di tempat tidurnya, tapi tak bisa melanjutkan lagi tidurnya. Padahal ngantuk sekali dia, seharian ini adalah hal yang menguras energinya. Pengawas dan yayasan seharian ini menggodanya dengan segala tugas dan masalah. Lelah dan berat matanya, tapi kejadian tadi membuat kantuknya seakan menguap entah kemana?

"Bapak sakit, umm. Kena stroke dan susah dikendalikan etek di Panjalayan sana. Ayah harus pergi ke sana menjemput dan membawa nya berobat. Abang-abang khawatir, tapi nggak ada yang bisa pulang menjemput. Mereka minta tolong ayah untuk menjemput nya. Tapi mereka baru bisa ngirim uang besok karena belum gajian. Ummi bisa tolongkah?" Suara Faisal mulai melunak.

Ayah mertua memang sedang pulang ke kampung halamannya. Beliau tinggal di rumah adiknya yang cuma satu, sekaligus besannya. Mengapa? Karena Irnata Abang suaminya Susan menikah dengan anak adiknya ayah mertua. Dalam hati Susan bersyukur, adu mulut dan kemarahan Faisal bisa dihindari. Dia sudah malas ribut dengan suaminya, egonya selalu tidak pernah mau kalah. Buat Susan lebih baik mengalah dan diam, hatinya sudah beku.
Susan hanya diam, sambil beranjak ke celengan miliknya. Uang sebanyak satu juta rupiah diangsurkan ke suaminya. 

"Hanya itu yang ummi punya, yah!" katanya datar.

"Terimakasih, nanti ayah ganti kalau abang-abang tansfer" katanya berusaha meyakinkan.

Seperti biasa, Susan tak yakin. Kalau sudah pegang uang, mana Faisal ingat . . .mungkin yang ada membaginya ke perempuan lain, ah sudahlah. Hindari ribut Susan! Hatinya selalu mengingatkan untuk sabar. Rezeki bisa dicari, sebenci apapun dia adalah ayah dari ketiga anaknya.

"Tidurlah, maafin ayah sudah mengganggu tidurmu malam ini. Tentu ummi lelah seharian bertugas jadi kepsek di sekolah" kata Faisal dengan nada bersahabat.

Susan hanya menghela napas panjang, dan segera memejamkan matanya. Bayangan wajah Amar kembali menggodanya. Hey, ada apa? Mengapa wajah itu tak bisa pergi dari pikiran nya? Apakah ini pertanda Susan sudah jatuh cinta? Tak bisa dipungkiri, Amar begitu penuh pesona dan perhatian. Hati Susan yang selama ini kering dan vrigid seakan terbangun dari tidur panjang lelahnya berumah tangga.

Apa karena tragedi hubungan kemarin, menyisakan kupu-kupu di perut dan dadanya?.Seperti desir yang senantiasa terasa jika mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Amar? Entah, Susan begitu menikmati dan tak ingin melupakannya.

Posting Komentar

16 Komentar

  1. Kuharap Faisal berubah jadi lebih baik, agar Susan tak melanjutkan hatinya pada Amar. Ah, tapi cinta memang tak mengenal usia dan tak mampu memilih pada siapa hati tertambat ... #uhuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelajaran bagi para suami yang melakukan revolusi hati tanpa kompromi mbak

      Hapus
  2. Kepo ih, sama kupu-kupu di perut dan dada, hihi. Galaunya perempuan yang "disingkirkan", ketika menemukan pelabuhan baru, eh..yang sah berubah baik.. hmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu godaanku untuk bisa menuliskan mbak bagaimana caranya bisa menuangkan konflik dan diksi

      Hapus
  3. Susan oh Susan... tentukan pilihanmu sekarang hehe..

    BalasHapus
  4. Galaunya Susan, wkwkwk. Btw gimana ya kalau beneran ada dlm posisi Susan? Gak tenang pastinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulisnya ngeri-ngeri sedap, tapi menantang adrenalis kepenulisan

      Hapus
  5. Baru mau komen, di bawah koq udah ada lanjutannya Lelaki Tak Bertuan (13). Lhah aku langsung kepoin ah lanjutannya. Penasaran ama cinta "terlarang"nya Susan yang galaw nih...

    BalasHapus
  6. Semakin mendebarkan ceritanya. Gregetan sekaligus prihatin. Kisah seperti ini sebenarnya banyak terjadi. Nunggu ending kisah Susan, ah. Ada banyak pelajaran berumah tangga di sini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini maksudnya memberikan ada pelajaran mahal untuk sebuah pelajaran

      Hapus
  7. Woww, berasa baca serial di majalah. Seri yang lain mana, Bun? Jadi penasaran ama kelanjutannya.

    BalasHapus
  8. Apa ini akan mengarah keperselingkuhan. Duh jadi meraba2 cerita. Amar itu siapa?

    BalasHapus