LELAKI TAK BERTUAN (15)



Susan menatap kepergian Amar dengan hati yang hilang. Tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam, ia tahu ini sangat menyakitkan keduanya. Semoga Amar mengerti posisinya, setelah disampaikan segala permasalahan dan kegundahan yang dia berikan sebagai kendala. Jika Allah jadikan takdir mereka bertemu, tentu akan dipertemukan kembali dengan kehendak-Nya.
Amar memang tidak begitu saja menerima, tapi dia berjanji kelak akan datang dengan kehendak Allah.  Walau sempat mencuri ciuman terakhir kali di bibir Susan, dan itu tak mampu ditahannya. Kejadian begitu cepat, tanpa Susan sadari namun menikmati. Di situ Amar paham, sesungguhnya Susan rapuh dan butuh dicintai, tapi ia mengerti posisi perempuan itu saat ini sangat sulit. Kelak dia berjanji dalam hatinya akan datang lagi, setelah . . .ah biarlah Allah yang mengatur jalan ceritanya, batin Amar.

"Saya paham ms belum siap menerima keadaan kita ke depan. Tapi saya tahu, Allah memberi cinta perempuan yang tepat nanti, yaitu kamu, Ms! Saya kelak akan datang lagi seijin Allah . . ." Susan merinding mendengarnya.

Berkali-kali meminta maaf atas keputusannya. Di situ dia lihat kedewasaan Amar. Mau mengerti saat ini bukan waktu yang tepat. Biarlah jalan cerita ini berakhir di sini dulu. Hati nurani tak mampu menerima hukuman atas segala kesalahan yang terjadi antara ia dan Amar. Walau begitu indah dirasa, tapi ia masih istri Faisal atas keinginannya menjaga ketiga anaknya.

Sempat lama termangu, Susan menyadari Amar sudah pergi ternyata tanpa mengantar kepergiannya. Ada rasa bersalah di ujung hatinya. Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah, batin Susan menjerit. Mengapa kau pertemukan aku dengan Amar dengan segala pesonanya, tanpa bisa aku menolak? Masih tak henti Susan memikirkan kejadian tadi. Segera ia ke kamar mandi untuk berwudhu. Dihamparkan sajadah, menangis dan memohon ampunan di sujudnya yang begitu panjang kali ini. Air matanya begitu menggenang.

Sengaja Hpnya tak dideringkan. Aku masih ingin merajut duka padaMu ya Allah, kali ini rasanya enggan untuk kembali ke sekolah, batin Susan lagi. Nyatanya aku masih normal ya Allah, setelah perasan beku dan hampa hampir merengutnya dalam keabadian vrigid. Melarikan segala masalah dengan kerja dan makan, melupakan kekecewaannya pada suaminya. Prestasi memang diraihnya, tapi hampa tanpa jiwa.

Bukan poligami yang ditangisi, tapi ketidak jujuran dan keterbukaan Faisal mengapa melakukannya. Susan bisa apa jika suami sudah ingin menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi haruskah berlaku zalim dan berbohong lalu lari dari tanggung jawab keluarga? Bukankah, menikah lagi dengan ijin dan ridanya malah membawa berkah jika ikhlas?

Salah Susan memang, pernah mengatakan jika ingin menikah lagi silahkan, tapi ceraikan dirinya terlebih dahulu. Susan tak sanggup membayangkan, saat digauli Faisal ada perempuan lain juga digauli suaminya walau di tempat yang berbeda. Tapi itu dulu, saat Susan yakin Faisal takkan mungkin menghianati cintanya. Ternyata waktu  dan keadaan telah merubah pikiran Faisal. Andai Faisal bicara terus terang, pilih mana? Bohong atau jujur . . . dampaknya terasa.

Posting Komentar

14 Komentar

  1. Makin menarik saja ini kisahnya. Susan makin baper ajaa sih ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mbak masukannya dan penantiannya

      Hapus
  2. Kok aku jadi baper juga seperti Susan ya :(
    seru nih ceritanya, aku tunggu kelanjutannya, mbak :)

    BalasHapus
  3. Dududuh ceritanya... Susan oh Susan... Semoga segera ketemu solusi terbaiknya...

    BalasHapus
  4. Penasaran dengan jalan cerita selanjutnya. Konflik rumah tangga Susan, seperti terlihat nyata.
    Eh, atau memang berdasarkan kisah nyata ya?

    BalasHapus
  5. Bagaimana ya, san? Pilih Amar sajalah...darpada disakiti Faisal...

    BalasHapus
  6. Wah dilema nih Susan, antara pilih Amar atau Faisal. Mg pilihannya tepat. Ditggu ya mis lanutannya...pinisirin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk Alhamdulillah terimakasih ya mbak . . .

      Hapus
  7. Baper akut akunyaa ihh, penasaran sama lanjutan ceritanya. Mungkin kalau aku jadi Susan, tanpa ba bi bu langsung minta Amar nikahin aku, ehhh.

    BalasHapus