MAAFKAN AYAH - IBUMU, MAS! (2- Selesai)


Cerita sebelumnya: 
https://misjulie.blogspot.com/2019/08/maafkan-ayah-ibumu-mas-2-selesai.html?m=1

Ternyata, supir mobil yang menabrakku adalah perempuan. Dia menangis meminta maaf padaku, dan aku tak tega saat itu. Sementara mobil di depan yang terpaksa baret rusak akibat moncongku juga begitu marah kepada perempuan itu. Aku sendiri? Tidak ada helm, SIM ku sudah lama mati, serba salah.

Maksudku adalah meringankan diri juga, mobil depan tidak menuntut aku untuk urusan baret mobil, maka aku juga meringankan penabrakku. Biarlah urusannya hanya antara keduanya saja, walau aku harus mengorbankan kakiku yang sakit. Lebih penting tidak ada yang mengutik helm dan SIM ku yang tidak ada sebagai kelemahan ku.

Setelah penabrakku mengobati ala kadarnya, dan membelikan segala kebutuhanku seperti sandal jepit, minum, tensoplas dan lainnya, aku minta pulang. Batere lowbat. Tak bisa kuhubungi rekan kerjaku,  dan anakku.

Saat kebingungan harus bagaimana aku bisa pulang ke rumah dengan kondisi kaki sakit sementara aku tak paham jalan pulang. Perjalanan masih lumayan jauh ke Tambun.  Seorang anak muda menawarkan diri untuk mengantar ku pulang. Awalnya aku menolak, aku takut terjadi apa-apa. Tapi entahlah, kulihat kejujuran di wajah dan matanya. Aku dibonceng olehnya, sementara motorku dibawa oleh temannya. Pikiranku yang sudah ingin segera pulang membuatku terpaksa mengiyakan ajakannya.

Di perjalanan, aku mencoba membuka pembicaraan. Daripada menahan rasa sakit sendiri membuatku dan dia sama-sama diam untuk 15 menit perjalanan awal kami. Alhamdulillah ternyata, dia anak muda yang baik. Mengapa kutahu itu? Rupanya dia baru saja pulang dari membeli sparepart kebutuhan bengkel mandirinya. Sambil kuliah di Trisakti Kali Malang Bekasi, rupanya dia berusaha membiayai dirinya sendiri. Hebat kan!

Rasa kepoku mendorong untuk bertanya apakah orangtuanya sudah tidak ada? Tanyaku kemudian padanya. Dengan suara pelan dan serak dia menjawab, bahwa ayahnya sudah pergi sejak kecil meninggalkan dirinya, ibunya, dan adiknya. Diapun tak tahu kemana harus mencari. Sementara tiga tahun ini ibunya sudah menikah kembali dengan laki-laki yang tidak jelas, dengan membawa adiknya serta untuk tinggal bersama.

Ternyata ibunya lebih mengutamakan keluarga barunya, sedangkan adik perempuan tiada hari tanpa mengeluh karena diperlakukan berbeda, serta hidup dalam keterbatasan. Kudengarkan ceritanya dengan seksama sambil menahan sakit di kaki kananku. Sebagai seorang guru, naluriku memaksa untuk menasehati anak muda itu dari dendam yang amat membara. Sempat menjadi anak nakal sebagai pelarian, selama ini hanya nenek dan omnya yang membiayai adik dan dirinya.

Terdengar dari suaranya yang bergetar bahwa betapa anak muda itu sangat membenci ayah dan ibunya. Tak sadar aku menangis dan meneteskan air mata. Kupegang bahunya dengan lembut. Seakan memahami kisah dan kemarahannya. Pelan kuajak bercerita tentang diriku yang ditinggal oleh alm suami  menikah lagi hingga kemudian sakit kembali ke rumah tanpa ada yang membantu biaya sakitnya. Terpaksa aku yang harus mengurusnya dan sampai bagaimana aku harus pontang panting menghidupi anak-anakku sekolah sampai dewasa setelah alm meninggal.

Aku memahami posisi kemarahannya dengan kemarahanku, yang tetap percaya, cara Allah mendewasakan ku dengan ujian dan permasalahan. Bersyukur anak-anak ku menyadari bahwa sakitku selama ini hanya akan tertutup bila aku menjemput bahagia, karena anakku sadar ada hal yang tak mungkin bisa dipenuhi mereka walau cinta mereka berlimpah.
Aku membutuhkan seseorang yang bisa kuajak bertukar pikiran untuk mendampingi anak-anak ku melewati kedewasaannya. Mereka butuh sosok seorang ayah yang bisa menjadi teman mereka dan teman ibadahku. Itu mengapa kuminta dia memahami mengapa ibunya menikah lagi walau caranya mengabaikan anak kandungnya.

Kusampaikan juga bahwa dendam hanya akan menghambat ibadah dan rezeki manusia. Itu kenapa kuminta anak muda itu untuk mendoakan dan memaafkan kedua orangtuanya sebenci apapun dirinya.

Baginya lebih baik berdamai dan melepas dendam agar bahagia, rezeki, dan jodoh akan datang dengan rida-Nya. Selain dia juga akan menjadi seorang ayah, suami, dan kakak laki-laki dari adik perempuan nya kelak. Dengan melupakan kesalahan ayah ibunya membuatnya lebih tenang menjalani kehidupan. Daripada terus menerus hidup dalam kemarahan tak berkesudahan. Menanggung dendam hanya akan membuat hatinya keras dan kebahagiaan menjauh darinya.

Allah saja memaafkan masa kita hamba-Nya ciptaan-Nya tak mau memaafkan. Alhamdulillah anak muda itu mau mencoba, mengakui selama ini hidupnya tak bahagia menanggung dendam.

"Maafkan ibu ya, Mas. Bukan bermaksud menggurui. Ibu hanya ingin kamu meraih bahagia tanpa dendam, lagi pula nggak enak kan? Menanggung sakit terus menerus?" Anak muda itu menggeleng.

Tak terasa kami akhirnya tiba juga di rumah. Alhamdulillah anakku dua-duanya ada di rumah semua. Mereka kaget melihatku dipapah dengan kaki yang kesakitan. Kukenalkan keduanya pada anak muda itu dan temannya. Kulihat anak muda itu berkaca-kaca melihat kedua anakku begitu takut dan peduli keadaanku. Kubisikkan,
"Berdamailah, bahagiakan dan hormati ibumu selagi ada umur, ya!" Senyumku mengembang mengalahkan rasa sakit.

Anak muda itu sangat berterimakasih. Mereka berdua juga tidak mau kuberikan uang, sebagai ganti bensin. Kata anak muda itu, dia malu aku tidak menuntut yang menabrakku. Padahal dalam hatiku . . . .

Mereka tidak tahu alasanku yang utama, tak punya helm dan SIM hiks. Sebelum pulang, anak muda itu mencium tanganku pamit dan berterimakasih mau mengingatkannya untuk melupakan kemarahan kepada kedua orangtuanya.

"Semua karena Allah yang mempertemukan kita, Mas" kataku tak kalah menggenang airmataku.

Bekasi, 18 Juli 2019

Posting Komentar

10 Komentar

  1. Agak terharu sob dengar ceritanya hehe
    Sukses selalu ya :)

    BalasHapus
  2. Ya ampuuun Mis... Oya, jangan lupa next dipakai helmnya dan diurus simnya ya mis...

    BalasHapus
  3. Baginya lebih baik berdamai dan melepas dendam agar bahagia.... Siaaaap kakak.
    Lanjut, next

    BalasHapus
  4. Kadang kita lupa ya. Dendam justru menghambat rizki. Harus berbesar hati nih melepas segala sakit hati. Semoga sang Pemuda bisa segera berdamai...

    BalasHapus
  5. Aku kemana-mana selalu pake helm dan bawa SIM bkn cm krna takut ditilang tp untuk keselamatan sendiri

    BalasHapus