Jam dua lewat sedikit.
Aku baru saja tertidur hampir satu jam lamanya. Mata masih berat ketika suara pintu terdengar pelan. Dia, suamiku pulang baru pulang.
Tangannya membawa plastik bening berisi kuah hangat Soto kaki Betawi.
Makanan yang dulu pernah ia ajak aku makan di suatu tempat. Tempat yang rasanya bukan cuma kuah dan daging saja … tapi juga kenangannya.
Aku sebenarnya tidak ingin makan. Sahurku sudah kurencanakan sederhana — hanya segelas air putih hangat dan protein saja tanpa karbohidrat.
Tapi melihat wajahnya yang lelah, dan caranya meletakkan bungkusan itu di meja dengan hati-hati… rasanya ada usaha yang harus kuhargai.
Aku pun duduk menyendok pelan. Bukan karena lapar. Tapi karena cinta kadang memang sesederhana itu, memilih menjaga suasana. Suara membangunkan sahur lagu SITI FATIMAH dari komunitas anak muda Masjid Al Ikhlas menemani sahur kami, bikin aku dan suami senyum-senyum sendiri.
Kami tidak banyak bicara.
Setelah Subuh, aku ikut berbaring menemaninya tidur lagi sampai jam delapan pagi ini.Tidak ada percakapan panjang. Hanya pelukan hangatnya. Berulang-ulang.
Seolah ingin mengganti waktu yang sering terpotong oleh kesibukan. Jam sepuluh ia berangkat lagi.
Rumah kembali sunyi.
Tapi sahur tadi meninggalkan jejak. Bahwa dalam pernikahan, kadang yang paling berarti bukan kata-kata manis.
Bukan rencana besar.
Bukan pula kesempurnaan jadwal.
Melainkan semangkuk soto yang datang di jam dua pagi. Dan pelukan tanpa banyak tanya.
Dalam diam ada doa kupanjatkan, dan afirmasi keyakinan. Allah tambah kenikmatan samawa jika ini kusyukuri. Hasbunallah Wa ni’mal wakil Ni’mal maula Wa ni’man nasir. (Qs Ali Imran: 173)
#day3
#TantanganMenulisRamadan2026 #adasahurantarakita
#nurulamanahpublishing
#misjuli

0 Komentar