Akhirnya Azan Maghrib Berkumandang


Seharian rasanya dunia terasa bising. Notifikasi tak henti berbunyi. Target pekerjaan belum selesai. 
Macet.
Tagihan-tagihan ide terus membayang.
Pikiran yang terus berlarian tanpa jeda.

Jarum jam terasa berjalan lebih lambat hari ini. Langit sore seperti ikut menguji kesabaran. Dapur sudah rapi, mejapun sudah siap. Tapi hati … masih terus belajar ikhlas. Gemiricik air wudhu terasa lembut, saat pelan-pelan melantunkan ayat-ayatnya dalam penantian. Begini rasanya sendirian ... 
Rumah yang dulu ramai dengan 3 jagoan, dan sang Kepala Keluarga meramaikan maghrib tiba. Kini mis Juli menjelang kesepian perlahan. Ayah dan abang tengah dengan pekerjaan yang belum juga selesai. 

Mis Juli menahan lapar, haus, ingin marah, dan mau menyerah. Kadang, yang paling berat bukan perut yang kosong dan rasa haus begitu menyengat … tapi hati masih terus diuji. Lalu senjapun turun perlahan.

Langit berubah warna seperti doa yang pelan-pelan dikabulkan untukku. Angin sore menyentuh wajah dengan lembut. Dan akhirnya, 
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara itu memecah segala penat yang ada. Bukan sekadar tanda berbuka. Tapi tanda bahwa Allah melihatku bertahan.

Bahwa, satu hari ini lagi berhasil kulalui. Sabar tidak pernah dicatat sia-sia. Ada yang diam-diam meneteskan air mata sebelum minum pertama. Bukan karena haus, tapi karena lega.

Karena akhirnya…
sampai juga. Azan maghrib selalu datang tepat waktu. Tak pernah terlambat.
Seperti rahmat-Nya.
Seperti pertolongan-Nya.
Dan di antara tegukan air dan doa yang lirih,

Mis Juli belajar satu hal sederhana: Bahwa seberat apa pun hari ini, Allah selalu menyiapkan waktu untuk mis Juli pulang. Bukan hanya ke meja makan, tapi ke dalam hati yang lebih bersih menerima kenyataan duniaku yang kini berbeda. 

#day4 
#TantanganMenulisRamadan2026 #akhirnyamaghribtiba #nurulamanahpublishing

Posting Komentar

0 Komentar