Sabar Semanis Kurma


Banyak yang belum tahu, bahwa Ramadan itu laksana memasuki Kawah Candradimuka.

Dalam kisah wayang, kawah itu adalah tempat bayi Gatotkaca ditempa.
Bukan dimanja.
Bukan diselamatkan dari panasnya api.
Justru dimasukkan ke dalam kobaran panas agar menjadi kuat.
Agar kulitnya sekeras baja.
Agar siap menjadi ksatria besar.

Dan menariknya…
yang masuk ke kawah itu bukan orang biasa,
melainkan calon pejuang.

Ramadan pun begitu.
Bukan sekadar bulan ibadah,
tetapi bulan penempaan.
Melatih sabar menahan lapar.
Melatih ikhlas menahan haus.
Menguatkan diri menyempurnakan ibadah wajib dan sunah.
Melatih kendali hati.
Dan yang paling dalam…
melatih cinta agar lebih bersih,
terutama saat diuji di wilayah hati.

Gatotkaca keluar dari kawah bukan dalam keadaan hancur.
Ia keluar dalam keadaan berubah—
lebih kuat dan lebih siap.

Begitu pula sabar.
Ia adalah proses, bukan hasil instan.
Seperti kurma yang tumbuh lama di pohonnya,
sabar lahir dari perjalanan panjang—
menahan diri, menata hati,
dan mempercayakan hasil sepenuhnya kepada Allah.
Sabar itu menguatkan, bukan melemahkan.

Sebagaimana kurma menjadi pembuka saat Ramadan karena memberi energi,
sabar pun memberi kekuatan batin saat ujian datang bertubi.

Sabar itu berbuah kebaikan.
Pohon kurma dikenal penuh manfaat.
Begitu pula orang yang sabar—
hatinya lebih lapang, ucapannya lebih lembut,
dan langkahnya lebih tenang.

Sabar memang tidak selalu terasa manis di awal.
Kadang pahit lebih dulu terasa.
Namun jika dijalani dengan ikhlas,
ujungnya akan menghadirkan hangat di hati—
semanis kurma.
Setuju, teman-teman?

#Day2
#TantanganMenulisRamadan2026
#SabarSemanisKurma
#nurulamanahpublishing

Posting Komentar

0 Komentar