🌙 Dalam Diam Doa Dilangitkan


Setiap pagi, Mbok Sarni membuka warung kecilnya sebelum matahari benar-benar naik. Rak jajanan ditata rapi.
Kompor dinyalakan. Senyumnya selalu siap untuk pembeli pertama. Tak banyak yang tahu, suaminya sudah lama sakit dan belum bisa bekerja.

Anaknya dua, masih sekolah.
Tagihan datang seperti biasa tak pernah ikut memahami keadaan. Mbok Sarni berusaha dan jarang mengeluhkan keadaannya. Kalau ada yang bertanya, ia hanya menjawab,
“Doakan saja ya, semoga lancar.”

Padahal malam-malamnya sering lebih panjang dari biasanya. Saat menghitung uang hasil jualan, dan mencocokkan dengan kebutuhan. Sering kali kurang, biasa, matematika kehidupan manusia. 

Di saat seperti itu, ia tidak menelpon siapa-siapa. Tak menulis kegundahan di mana-mana. Hanya mengambil air wudhu lalu membentangkan sajadah tipisnya. Dalam diam, doa-doa itu dilangitkan.
“Ya Allah, cukupkan.”
“Ya Allah, kuatkan.”
“Ya Allah, jangan biarkan aku lemah di depan anak-anakku.”

Tidak ada petir yang menyambar. Tidak ada keajaiban instan. Besoknya warung tetap buka seperti biasa. Tapi entah bagaimana, selalu ada saja jalan kecil yang Allah kirimkan atas hitungan-Nya. Pembeli yang tiba-tiba ramai. Tetangga yang memesan lebih banyak, hati yang terasa lebih kuat dari kemarin.

Kita sering melihat orang seperti Mbok Sarni. Terlihat biasa saja, padahal sedang berjuang luar biasa. Mereka tidak berteriak, menuntut dunia mengerti. Mereka hanya diam… dan berdoa. Dan mungkin, justru doa-doa yang dilangitkan tanpa suara itulah
yang paling Allah dengar. Karena tidak semua yang kuat itu terlihat. Dan tidak semua yang menangis itu bersuara.

Dalam diam, doa kulangitkan, penuh keyakinan Allah menjaga-Nya.

#misjuli 
#day10
#nurulamanahpublishing 
#tantanganmenulisramadan2026 
#doadiamdiam

Posting Komentar

0 Komentar