Dialog Sunyi di Sudut Tiang Masjid


Menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan ini, Mis Juli benar-benar mempersiapkan diri menjaga kesehatan fisik dan menata kesiapan mental. Mengapa? Karena Mis Juli ingin menjadikan sepuluh malam terakhir ini sebagai waktu untuk beritikaf, mendialogkan sunyi hati di sudut-sudut tiang masjid rumahku. Tempat itikaf yang paling aman bagi seorang muslimah.

Aku menyiapkan diri menghadapi berbagai kesulitan dan godaan yang mungkin datang. Pergulatan melawan rasa kantuk, melawan ego, bahkan melawan memori masa lalu yang kadang hadir di tengah keheningan malam.

Aku ingin menjemput itikafku hingga bertepi, bermuara pada Lailatul Qadar, malam yang menjadi mujarab bagi perubahan jiwa menuju pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Sesungguhnya, pertemuan paling jujur adalah saat aku menelanjangi dosa-dosaku di hadapan Allah, tanpa ada yang tahu dan melihat. Obrolan paling intim terjadi ketika jiwa ini berserah diri di malam-malam-Nya yang dijanjikan. Segala ikhtiar untuk menjemput malam seribu bulan itu kusiapkan dan kutuntaskan.

Doa-doa dan keinginan kuafirmasikan dengan keyakinan bahwa Allah mendengarnya dengan sempurna. Perjumpaan yang syahdu dan romantis itu hanya terjadi di malam seribu bulan yang selalu kucita-citakan setiap tahunnya.

Sebelas bulan bukanlah waktu yang sia-sia. Namun keistimewaan itu hanya datang pada sepuluh malam terakhir Ramadan, saat umat muslim di seluruh dunia berlomba-lomba mengejar waktu terbaik yang Allah siapkan.

Ini adalah agenda tahunan dari Allah—hadiah bagi jiwa-jiwa yang ingin kembali kepada fitrah, bersih lagi laksana bayi, seputih kain kafan yang belum ternoda.

Allahu Akbar…
Dalam rindu yang terus kubangun di dalam jiwa, aku menanti saatnya.
Ya Allah, izinkan aku menjumpainya.
Izinkan aku mengikhlaskan segalanya.
Dan izinkan kami semua meraih ridha-Mu di malam yang Engkau muliakan.

#day16 #TantanganMenulisRamadan2026 
#itikafmenepi #nurulamanahpublishing #creatorsearchinsights 

Posting Komentar

0 Komentar