Membasuh Jiwa di Telaga 1000 Bulan



Ramadan hampir pergi,  seperti tamu mulia yang diam-diam mulai merapikan kopernya.
Aku mulai gelisah. Bukan karena belum membeli baju lebaran. Bukan karena kue-kue belum selesai kubuat dan segalanya kupersiapkan.

Tapi, karena aku belum yakin… sudahkah aku benar-benar mencarinya? Si Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, ketika langit terasa lebih dekat dari biasanya.
Malam ketika doa-doa yang lama tertahan mungkin menemukan jalannya.

Aku bukan perempuan yang selalu kuat begadang. Ada malam-malam ketika tubuh mulai menyerah lebih dulu. Ada hari-hari ketika lelah terasa menumpuk seperti cucian baju. 

Namun, di sepuluh malam terakhir itu, ada suara kecil yang terus berbisik,
“Bagaimana jika malam ini dimulai?” Bagaimana jika malam ini menjadi waktu yang selama ini kau tunggu? Bagaimana jika malam ini Allah membuka pintu yang selama ini kau ketuk pelan-pelan?"

Aku pun segera bangkit, bukan dengan ibadah yang sempurna. Bukan dengan rakaat yang panjang tanpa cela. Kadang, hanya dua rakaat dengan air mata yang jatuh pelan. Kadang hanya doa pendek yang diulang-ulang karena tak tahu lagi harus berkata apa.
“Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, ampunilah aku.” Sederhana, tapi terasa dalam.

Aku sadar, meraih Lailatul Qadar bukan soal siapa yang paling kuat berdiri semalaman, atau lebih banyak tilawahnya. Ini tentang siapa yang paling sungguh hati dan niatnya. Malam itu aku duduk lama setelah sholat. Rumah terasa sunyi dan anginpun bergerak pelan di balik jendela.

Aku tidak tahu apakah itu Lailatul Qadar atau bukan. Tak ada tanda-tanda istimewa yang bisa kulihat. Namun ada satu hal yang berbeda, hatiku terasa lebih tenang dan lepas pasrah.

Dan mungkin… itulah salah satu cara Allah memberi isyarat. Bahwa yang kita cari bukan sekadar satu malam. Tapi perubahan setelahnya. 

Jika setelah Ramadan ini aku lebih sabar,
lembut, dan makin dekat dengan-Nya…
Maka mungkin, tanpa kusadari, aku telah disentuh oleh malam yang mulia itu. 

Dan sejak saat itu, aku tak lagi terobsesi “menemukannya.” Aku hanya ingin layak dijumpainya dalam menemukan sadar utuh ikhlas penuh pada pemilik universitas kehidupan. 

#day15 
#TantanganMenulisRamadan2026 #meraihlailatulqodar #nurulamanahpublishing 
#misjuli

Posting Komentar

0 Komentar