Dulu aku mencintai duduk lama di masjid. Menyendiri di saf belakang, membiarkan doa mengalir tanpa batas waktu. Namun setelah menikah, aku belajar bahwa taat juga memiliki wajah yang berbeda. Aku pernah membaca bahwa sebaik-baik tempat sholat bagi perempuan adalah di rumahnya. Dan aku tahu, ajaran itu bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga.
Awalnya ada rindu. Rindu duduk lama di sudut masjid, dan I’tikaf dalam diam. Namun Ramadan kali ini aku belajar memahami: mungkin Allah sedang memindahkan masjidku. Bukan lagi di sudut bangunan berkubah.
Tapi di ruang tamu rumahku. Di dapur yang menjadi saksi sahur. Di kamar tempat aku menengadahkan tangan sebelum tidur.
Jika aku sholat dengan khusyuk di rumah, itu bukan ibadah yang lebih rendah. Jika aku bermunajat dalam sunyi kamar, itu bukan doa yang lebih kecil. Justru mungkin di situlah Allah ingin aku tumbuh — menjadi perempuan yang kuat tanpa harus terlihat, hamba yang dekat walau bukan di tempat ramai.
Kini aku mengerti, masjid tidak selalu tempat yang aku datangi. Kadang masjid adalah peran yang aku jalani. Dan di rumah inilah, aku sedang membangun mihrab terindahku
Aku mungkin tidak selalu bisa tinggal lama di masjid yang berdinding. Tetapi aku selalu bisa membangun masjid di dalam diriku.
Di sanalah aku bermunajat.
Di sanalah aku memperbaiki niat.
Di sanalah aku belajar bahwa menjadi istri, ibu, penulis, semuanya adalah bagian dari ibadah.
Ramadan kali ini aku tidak hanya ingin sering ke masjid. Aku ingin menjadi masjid.
Tempat yang menenangkan, menguatkan, menghadirkan Allah dalam setiap keputusan.
Karena sejatinya, rumah yang paling aman adalah hati yang selalu menghadap-Nya.
#day12
#TantanganMenulisRamadan2026
#nurulamanahpublishing
#masjiddihatiku
#misJuli

0 Komentar