Tadarusku Merindu di Setiap Waktu


Aku bukan perempuan yang selalu punya waktu panjang seperti lainnya. Peranku cukup banyak laksana perempuan, tugasnya tak pernah benar-benar selesai. Kadang aku membaca sambil menunggu air mendidih, dan pekerjaan online lainnya, risiko pekerjaan yang sudah lama seorang mis Juli terima. 

Kadang hanya beberapa ayat sebelum kembali dipanggil kewajiban. Namun aku belajar satu hal: Al-Qur’an tidak menuntutku sempurna. Ia hanya menungguku kembali untuk membacanya. Walau sedikit, terbata, lewat layar kecil hp di genggaman. Namun aku berharap Allah nilai bukan lamanya duduk, tapi kesungguhan hati yang tetap pulang. 

Aku tak selalu mampu menyelesaikan satu juz dalam sehari. Kadang targetku runtuh oleh jadwal yang padat. Namun ada hari-hari ketika satu ayat saja sudah cukup menahanku dari marah. Cukup membuatku berpikir ulang sebelum berkata tajam. Cukup mengingatkanku bahwa sabar bukan kelemahan.

Ternyata kekuatan bukan pada banyaknya bacaan, tetapi ada ayat yang benar-benar masuk ke dalam dadaku sambil terisak lewat godaan masalah yang bersliweran saat membacanya. Satu ayat yang kupahami, lebih menjaga rumahku daripada seribu nasihat panjang. 

Ada hari-hari ketika tubuhku lelah, emosiku setipis tisu, dan kesabaranku terasa mengempis. Di saat seperti itu, aku tidak butuh banyak bicara. Aku hanya butuh membacanya. Bukan untuk menyelesaikan target, mengejar angka berapa banyak. Tapi untuk mengingat siapa aku sebenarnya, kesempatan pulang saat bisa membacanya terasa hati mendekatNya. 

Seorang hamba yang lemah, yang hanya kuat ketika dekat dengan firman-Nya. Setiap kali mushaf itu kubuka, seperti diingatkan kembali: perempuan yang sibuk tetap bisa menjadi perempuan yang dekat dengan Al-Qur’an.

#misJuli 
#days13 
#nurulamanahpublishing 
#TantanganMenulisRamadan2026 
#tadaruskumerindu

Posting Komentar

0 Komentar