Meluruhkan Ego, Mengeja Fitrah


Ramadan perlahan menutup pintunya. Seperti seorang guru yang selesai mengajar, ia pergi tanpa banyak kata, meninggalkan pelajaran yang harus kita renungkan sendiri.

Di bulan ini aku belajar sesuatu yang tidak selalu mudah, yaitu meluruhkan ego. Ego yang sering membuatku merasa paling benar, terluka, pantas dimengerti, tetapi lupa untuk memahami orang lain.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajariku menahan diri dari reaksi yang berlebihan, kata-kata yang melukai, dan dari keinginan untuk selalu menang dalam setiap perdebatan. Astaghfirullah ...

Ramadan seakan menjadi cermin besar yang diletakkan di depan hatiku. Di sana aku melihat banyak hal tentang diriku sendiri, kesalahan, emosi, luka, dan juga keinginan yang masih ingin  kuperbaiki.

Dalam sujud yang panjang, aku belajar bahwa memaafkan sering kali bukan tentang orang lain. Ia adalah caraku menyembuhkan diri sendiri. Melepaskan beban yang terlalu lama disimpan di dalam hatiku.

Sedikit demi sedikit, ego yang keras mulai luruh. Digantikan oleh kesadaran bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dipenuhi amarah dan pembuktian diri sendiri. 

Idulfitri akhirnya tiba, membawa pesan yang sederhana namun dalam: kembali kepada fitrah.
Bukan menjadi manusia yang sempurna, tetapi lebih ringan lagi hatinya, mudah memaafkan,  lembut dalam bersikap, dan dekat kepada Allah.

Karena pada akhirnya, perjalanan Ramadan bukan hanya tentang satu bulan ibadah. Ia adalah perjalanan pulang menuju diri yang lebih bersih, menuju hati yang kembali mengenal fitrahnya.

Pada akhirnya, mengejar fitrah bukan tentang belajar mengepakkan sayap setinggi mungkin, melainkan tentang keberanian untuk melipat sayap ego dan jatuh ke pelukan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya. Sebab, hanya saat ego luruh menjadi debu, cahaya fitrah yang selama ini redup kembali menemukan ruang untuk bersinar 

#day25 
#TantanganMenulisRamadan2026 #bersihkanhati fitrikandiri #nurulamanahpublishing
#MisJuli 

Posting Komentar

0 Komentar