"Takbir malam ini bukan sekadar suara dari menara masjid. Ia adalah ketukan lembut yang sampai ke pintu rumah lebih dulu dari langkah kakiku—mengabarkan bahwa rindu Fitri ini sudah tiba di pelataran."
Anak-anak sudah kumpul di rumah, biasanya sulung dan istrinya lebih dulu. Dari Bali langsung ke rumahku ibunya. Biasanya mereka akan melanjutkan ke Medan orang tua mbak Dea istrinya Sulung, 2 hari setelah Lebaran.
Rumah yang biasanya hening karena tinggal kami bertiga, pasti mulai gaduh dan hangat, kakak beradik anak laki-lakiku biasanya memanfaatkan kumpul untuk ngobrol panjang lebar berbagi pengalaman urusan pekerjaan IT yang memang sengaja aku satukan dulu walau beda bagian saja. Sulung IT di Ilmu komunikasinya, tengah IT Multimedia, dan bungsu Programer IT.
Takbir kami melalui komunikasi rindu yang selama ini tertunda karena bungsu dan sulung sudah punya rumah tangga nya masing-masing. Tetap kuingatkan sambil bertakbir, tasbih, dan tahmid.
Rendang daging, opor ayam, sambel goreng kentang, sayur pepaya, serta ketupat jadi pengantar takbir di rumah. Ini adalah makanan wajib yang selalu harus ada sejak mereka kecil hingga sekarang. Bedanya kalau dulu cepat ludes, sekarang anak-anak mengedepankan kesehatan. Makan secukupnya. Apalagi sepulang sholat Ied besoknya.
Menjelang malam berakhir baru kesyahduan takbir Ied Mubarak bisa kurasakan dalam sujudku. Mensyukuri karunia Allah menghadirkan Takbirnya lebih terasa kini. Ada mantu dan kelg besarnya menjadi bagian kini yang meramaikan. Belum cucu yang nanti kelak akan hadir.
Sering tanpa sadar mengalir air mata di sujud sajadahku. Ya Allah, telah kulewatkan fase-fase perjalanan hidup bersama anak-anakku, tinggal anak tengah yang akan menjemput biduknya kelak. Dalam takbirmu, doaku menjadi perwujudan keridhoan dan kasih sayangmu pada anak-anakku kelak.
#day24
#TantanganMenulisRamadan2026 #dalamtakbirmueidmubarak #nurulamanahpublishing
#MisJuli

0 Komentar