Memaafkan Bukan Melupakan, Tapi Berhenti Menyakiti Diri Sendiri


Saat berinteraksi dengan manusia sebagai bagian dari tugas kita sebagai makhluk sosial dalam hablum minannas, sering kali Mis Juli menemukan banyak benturan. Terlebih dengan amanah dari Allah untuk menyampaikan kebenaran, walau hanya satu ayat: benar katakan benar, salah katakan salah.

Namun, semua itu tidak semudah mengucapkannya. Kadang, cara berkomunikasi sering dijadikan alasan bagi sebagian orang yang kurang dapat menerima sikap Mis Juli. Padahal, sikap yang berlawanan dengan kejujuran, kedisiplinan, dan integritas—terutama ketika berbicara tentang fakta di lapangan—sering membuat Mis Juli terbentur dan bahkan dibenturkan dengan berbagai keadaan.

Idealisme tidak selalu cukup digaungkan di tengah konflik. Pada akhirnya, ucapan sering menjadi titik awal perbedaan, perselisihan, bahkan perdebatan. Bagi Mis Juli, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Namun, tidak selalu demikian bagi orang lain. Dengan keluarga dekat saja bisa terjadi perbedaan, apalagi dengan orang yang bukan siapa-siapa.

Akhirnya, konflik seakan tak berkesudahan, walaupun Mis Juli sudah berusaha mengurangi perdebatan dan perselisihan. Ujungnya, sebagian besar rasa sakit pada tubuh dan pikiran ternyata memberi kontribusi besar terhadap kondisi kesehatan fisik kita. Hal ini tidak dapat dipungkiri.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Mis Juli berusaha membebaskan pikiran agar tidak menjadi sumber penyakit yang menimbulkan banyak korban.

Sering kali, memaafkan harus dilakukan secara sepihak. Walaupun berat, hal itu tetap harus dilakukan daripada menunggu orang lain melakukan hal yang sama kepada kita.

Proses benar-benar memaafkan ini Mis Juli lakukan dalam setiap praktik SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) setelah sholat, juga dalam setiap sujud dan afirmasi keikhlasan memaafkan. Hal ini pula yang Mis Juli terapkan kepada pasien saat mereka menjalani terapi atas sakit fisik yang dirasakan. Alhamdulillah, metode ini cukup ampuh sebagai cara menelusuri sumber sakit yang paling awal, yang Mis Juli sebut sebagai proses “Kupas Bawang.”

Dalam tubuh manusia ada segumpal hati. Ketika hati dipenuhi kesedihan dan beban emosi, tubuh bisa menjadi lebih rentan. Kondisi tersebut dapat melemahkan sistem imun sehingga bakteri dan virus lebih mudah menyerang.

Memang benar, setiap yang bernyawa pasti akan wafat sesuai dengan ketentuan waktu dari Allah. Namun bukan berarti kita menyerah pada sakitnya. Yang kita mohonkan kepada Allah adalah husnul khatimah, dengan bekal anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, serta amal saleh yang terus mengalir.
Karena itu, memaafkan segala masalah, kejadian, dan perselisihan—dengan siapa pun—perlu kita lepaskan. Dengan kesadaran penuh dan keikhlasan, kita meminta kepada Allah agar dimampukan untuk memaafkan dan menyerahkan semuanya kepada-Nya.

Biarkan selanjutnya menjadi urusan mereka dengan Allah. Sementara kita, sebagai manusia, sudah memilih untuk memaafkan dan melepaskannya.
Biarlah Allah yang menyelesaikan sisanya.

Yang terpenting adalah kita sudah selesai di hati sendiri—agar tubuh, jiwa, dan raga tetap sehat, hingga tiba saatnya Allah memanggil kita pulang.
Yakinlah.

#day21 
#TantanganMenulisRamadan2026 
#memaafkanmelepasbeban 
#nurulamanahpublishing 
#misjuli 

Posting Komentar

0 Komentar