Rumah dalam Ingatan, Menenun Rindu di Ambang Pintu


Mis Juli ditakdirkan memiliki orang tua sambung setelah Mamah dan Papah wafat pada tahun 2001, sekitar 25 tahun yang lalu. Namun, tongkat pengasuhan kemudian dilanjutkan oleh Bude dan Pakde dari jalur Mamah.

Dengan niat tulus, mereka menjadikan aku dan adik-adikku tetap merasakan kasih sayang keluarga, walau jarak sering memisahkan rindu kami. Namun jarak itu tidak pernah menjadi penghalang bagiku untuk terus meminta restu dan doa dari mereka.

Sejak tahun 2014, ketika aku ditakdirkan bertemu pakde budeku, setiap Lebaran Mis Juli selalu memilih pulang ke Wates Kabupaten Jogjakarta. Sekaligus menengok kakak angkatku, Mbak Jatu, beserta keluarganya di Kota Jogjakartanya.

Bersyukur rasanya, Allah masih mempertemukanku dengan orang-orang yang bersedia melimpahkan kasih sayang, meski tidak terikat oleh hubungan darah.

Perjalanan silaturahmi itu bagai karpet merah ukhuwah yang tak bisa diabaikan. Walau hanya bertemu satu atau dua hari saja, wangi rindu Bapak, Ibu, dan kakak serasa terus menggema dalam ingatan di sepanjang perjalanan hidup.

Di Bekasi, aku menjalani hari-hari dengan segala perjuangan mengejar masa depan. Sementara di sana, mereka menjadi sumber semangat dan penguat ukhuwah dalam hidupku.

Perjalanan pulang biasanya kulanjutkan dengan menyambangi keluarga besar almarhum Mamah dan Papah di Semarang yang masih ada dan tersebar di beberapa tempat. Rasanya seperti kembali menghidupkan cinta dan kasih sayang silaturahmi yang dahulu dijaga oleh kedua orang tuaku.

Doaku, semoga semua ini bisa menjadi pelajaran bagi tiga jagoanku dan keponakan-keponakanku, bahwa silaturahmi harus tetap dijaga selama kita masih mampu melakukannya.

Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat kita dilahirkan, tetapi juga tempat di mana kasih sayang selalu menunggu untuk kita pulang.

#day22
#TantanganMenulisRamadan2026
#rindupulang
#nurulamanahpublishing
#MisJuli 

Posting Komentar

0 Komentar