Aku selalu meminta kepada-Nya agar alarm sepertiga malam bisa kuraih setiap kali menjelang tidur. Meski berat, aku berusaha melawan dinginnya malam dan kegelapan yang menggoda untuk tetap terlelap. Padahal berkali-kali tanda itu datang, membangunkanku dengan lembut.
Namun kelemahan sering mengikat. Kelopak mata terasa lengket setelah bangun dari kamar mandi untuk menunaikan hajat kecil ataupun besar. Niat yang semula ingin berdua dengan Sang Khalik perlahan kalah oleh rasa kantuk.
Cemen… iya.
Seperti petarung yang gagal mengalahkan dirinya sendiri, aku sering melewatkan janji sunyi itu. Dan setiap kali terbangun lebih pagi dari seharusnya, penyesalan selalu datang. Tangis kecil menyertai kesadaran bahwa kesempatan itu kembali terlewat.
Padahal kenikmatan di atas sajadah—meski berjarak—mampu mempertemukanku dengan-Nya. Dalam doa, jarak dan waktu seperti dilipat oleh satu kata yang sama: Aamiin.
Aku adalah seseorang yang terkadang kesulitan mencintai orang-orang terdekatku dengan sempurna. Maka kupilih jalur langit untuk meraih cinta mereka—melalui doa-doa yang kupanjatkan di sela-sela perenungan Ramadan ini.
Barangkali jarak adalah cara Allah menjaga kualitas cintaku kepada manusia. Sebuah perjalanan panjang untuk mengembalikan hati-hati itu melalui doa yang merekatkan.
Sebab halal belum tentu menjamin seseorang menjadi pemilik hati yang abadi. Apalagi jika cinta hanya disandarkan pada hak dan kewajiban yang sama-sama dituntut untuk dipenuhi.
Maka rindu ini kutitipkan di sujud-sujudku yang sama.
Di sana aku menyempurnakan kewajiban tunduk di hadapan-Nya.
Ketika manusia tak mampu kutaklukkan dengan pengabdian yang telah berjalan lebih dari satu dasawarsa, kepada-Nya lah kuserahkan segala urusan.
Di atas sajadah yang berjarak ini, aku merajut rintihan doa. Memohon agar Allah mempertemukan hati pada titik terbaiknya. Bukan di kedai kopi dunia, tetapi di dalam manifestasi doa yang terus kuulang—tanpa takut kehilangan, tanpa terikat oleh kemelekatan yang rapuh.
Ramadan tahun ini masih tentang bentangan jarak yang sama.
Di sini aku menatap langit yang juga kau tatap.
Namun dengan rukuk dan sujud yang terpisah ruang.
Ada sekat yang belum boleh kita runtuhkan.
Ada garis yang belum saatnya kita seberangi.
Namun di atas sajadah yang berjarak ini aku menyadari sesuatu yang indah: cinta paling romantis tidak selalu tentang kedekatan fisik.
Ia adalah ketika namamu kusebut dengan fasih di hadapan Sang Pemilik Semesta, tepat saat dahiku menyentuh bumi.
Meski sajadah kita tak bersisian, bukankah kita sedang menuju arah yang sama?
Kita hanya sedang melipat jarak melalui jalur langit, membiarkan malaikat menjadi kurir rindu yang paling jujur.
#day19
#TantanganMenulisRamadan2026 #sajadahberjarak
#nurulamanahpublishing
#misjuli

0 Komentar