Hidayah Datang di Waktu yang Tak Terduga



Sejak sore Hp kumatikan karena low dan harus kucharge pulang dari mengajar sore ini. Rasanya malas sekali untuk menyalakan kembali, pekerjaan input raport mid semester satu ini masih tiga kelas lagi. Pulang sekolah ini aku hanya memiliki tanggungan dua kelas privat. Semuanya SD kelas enam. Jadi setelah itu jam kosong dan harus kupaksa menyelesaikan raport ini.

Teringat himbauan wakil kurikulum tempatku mengajar. Agar secepatnya nilai raport per mata pelajaran diserahkan ke wali kelas masing-masing. Kesibukanku sebagai pembina pramuka-paskibra-PMR-belanegara dan K-7 sungguh menyita waktu dan perhatianku. Jadi pantas kalau nilai-nilai belum selesai.

Usai sholat maghrib kunyalakan hp. Iseng, takut ada yang menghubungi, siapa tahu job lumayan, kan? Pikirku. Baru saja kunyalakan, masuk sebuah panggilan dari WhatsApp. Sulung rupanya, duh kangennya dengan anak satu ini.

"Ibu, Abang kangen . . ." Katanya tiba-tiba.
"Tumben anak ibu ngomong begitu" Kataku menggoda.
"Bu jangan marah, Abang mau ngomong" Katanya lagi.
"Iya"
"Bu, Abang sebenarnya sejak Minggu belum makan tahu nggak Bu?" Katanya sendu. Mashaallah hatiku rasa teriris.
"Kenapa bang? Ada apa? Sampai segitunya!" Berondongku.

Lalu mengalirlah sebuah curhatan dan kesedihan, yang aku saja sebagai orang tua tidak tega mendengarnya. Tetapi, sulungku adalah laki-laki yang harus kuat menghadapi segala cobaan. Kelak dia akan menghadapi ujian kehidupan sesungguhnya, sebagai imam untuk anak istrinya kelak. Sepeda motornya yang selama ini digunakan sebagai "kakinya" di Bandung hilang diambil orang. Motor itu dibeli dari temannya dengan mencicil dan separuh dari uangku, ibunya.

Hampir setahun belakangan ini pula, motor itu jadi alatnya untuk mencari uang tambahan untuk bekal hidupnya selama di Bandung. Menjadi ojek online adalah profesi tambahan, sambil menuntaskan kuliahnya yang tertunda selama empat semester ini. Baru belakangan dia menyadari, bahwa hidupnya sangat tidak terarah dan berantakan.


Alhamdulillah anakku tidak nakal dan tergoda perbuatan apapun menurut pengakuannya. Namun, memang satu hal yang tidak bisa ditutupi dari karakternya. Malas, menggampangkan, dan mau enak. Terlena dengan keadaan dimana tergiur godaan untuk menjadi freelance di sebuah perusahaan. Dengan keuangan yang lumayan membuatnya tergoda untuk mengabaikan kuliah dan ibu serta adik-adik nya.


Baru setelah kutangisi, dan teguran dari kampus bahwa dia sudah masuk jatuh deadline baru terasa. Di situ perjalanan sesungguhnya kehidupan baru dimulainya. Setelah Juni tahun lalu kuberi warning. Agar segera menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai mahasiswa dan anak. Rupanya, hasil dari pengabaiannya selama ini membuahkan banyak hasil yang harus dituai. Allah berikan ujian-ujian yang buatnya jadi jatuh bangun.


Dari skripsi yang dipersulit dan harus ganti tema, ditegur berkali-kali oleh pembimbing, sampai kehabisan uang untuk keperluan penyelesaian skripsi itu. Sebagai orang tua yang menuntutnya untuk menyelesaikan, berusaha sekuat tenaga membantu keuangan. Walau harus dengan kerja ekstra, demi sulung selesai.

Sebenarnya aku nggak tega, tapi sulungku adalah laki-laki. Kesulitan itu belum seberapa dan babak baru untuk mendewasakannya. Aku bersyukur atas hikmah yang Allah berikan.

Dan kini, baru di mulutnya keluar kata-kata galau dan kesedihan yang hampir tujuh bulan ini dipendamnya sendiri. Duh, rasanya kalau dekat ingin kupeluk dia, sebagai bentuk bahwa aku mendukung dan supportnya. Tapi karena jauh, aku hanya bisa menenangkan dan memberinya semangat. Dia tidak pernah tahu air mata ini terus menetes. Biarlah, pahit memang nak, tapi yakinlah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia.


Baru kali ini dia menumpahkan kesedihan dan kekhawatirannya. Bahwa dia takut kehilangan aku ibunya. Dia minta maaf berkali-kali, karena selama ini mengabaikan ibu dan adik-adiknya yang selama ini justru adalah suporter terbesar dalam keadaan sulitnya. Ya sudah, ini lebih mahal ketimbang harta benda yang hilang dan kami keluarkan selama ini.


"Enggak apa-apa bang, lebih baik kita kehilangan harta benda, asal jangan kehilangan akhlak, akidah, dan keimananmu. Harta masih bisa kita cari, tapi jika ketiganya hilang kemana mencari? "Kataku bijak akhirnya.


Bahagia itu di sini, di saat aku hampir kehilangan harapan untuk sulung berubah, ternyata Allah jawab dengan hidayah yang datang untuknya. Segera kuusaikan telponnya, walaupun sulung masih berat dan masih ingin bicara walau sudah setengah jam lebih berbicara padaku. Aku harus mengajar privat dan sholat isya. Dalam sholatku, aku bersyukur sambil meneteskan air mata berkali-kali. Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal Maula wanikman Natsir.


Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Posting Komentar

0 Komentar