Lelaki Tak Bertuan (1)

                             Pixabay

Susan hanya terdiam, saat laki-laki itu masih menunggunya di ujung telpon. Entah apa yang harus dikatakan padanya. Walau ingin sekali mengatakan hal yang kasar, namun Susan tidak pernah mampu mengatakannya.


"Mis katakan, bagaimana selanjutnya?"
"Mis, . . ." Dia terus memanggil 
"Iya sudah ya, aku harus pulang sudah pukul empat sore, anak-anak privat pasti sudah menungguku" Elaknya cepat-cepat
"Mis,. . . .ayolah katakan sesuatu sebentar saja"
"Assalamualaikum, . .."

Duh mengapa dia harus kembali hadir. Kemana saja dirimu selama ini mas, batin Susan tak mengerti. Betapa aku selama ini menunggu kehadiranmu, setelah . . . kenangan malam itu yang sangat romantis dan takkan pernah dilupakan seumur hidupnya. Ya Allah seharusnya hujan, tutupi tangisanku doanya kali ini. Susan masih tak mengerti mengapa tangisnya terus tersendat, namun air mata justru menggenang. Mana helm lupa dibawa lagi, panas-panas begini menangis itu enggak enak. Hufff. Kacamatapun tak terbawa, berpacu dengan debu dan airmata yang terus merebak di matanya.


Sampai di rumah, si kecil menyambutnya dengan senyum yang merekah. 
"Ummi pulang, bawa apa umm? Hafizh sudah mandi" Katanya begitu ceria. Segera dipeluknya bungsu dengan erat sekali. Seakan lama sekali tak bertemu, si kecil meronta manja. 
"Ummi Hafizh sakit . . . Ummi kenapa kok nangis," katanya dengan mata yang sedikit heran memandang Susan.


Belum sempat dijawab, suara roda berputar menghentikan keinginan Susan untuk menjawab pertanyaan Hafizh. 
" Ayah, sudah makan?" tanya Susan pada sosok laki-laki di hadapannya. 
"Sudah, kenapa pulang terlambat, Umm?" 
"Iya yah, tadi banyak sekali pekerjaan di sekolah" jawab Susan tanpa melihat wajah suaminya.


Setelah menitipkan Hafizh kepada suster yang mengurus suaminya, dia segera mendorong kursi roda itu ke depan TV. Tempat kesayangan suaminya sejak 6 bulan belakangan ini. Diabetes sudah mulai merenggut bagian tubuhnya yaitu kaki. Setelah sempat divonis harus diamputasi, kini kakinya lemas tidak bisa digerakkan dengan kuat seperti dulu.


Sambil menyiapkan susu dan obat yang harus diminum suaminya, pikiran Susan melayang pada suara yang terus diingatnya di telpon tadi. Suara yang dirindukan sekaligus dibencinya. Hhhhh segera ditepisnya perasaan itu. "Ya Allah, rumit sekali perasaan ini ..." batin Susan terus melayang. Setelah siap semua yang dibutuhkan, Susan mulai menyuapi pelan-pelan makanan khusus Faisal suaminya.


Sejak sakit terakhir ini dan tangisan ketiga anaknya, Susan benar-benar melakukan itu semua dengan ikhlas. Selain sebagai jalan untuk menebus kesalahannya dan keadaan keluarga yang sudah terlanjur rusak sejak tahun   2002. Walau ketiga anak Susan baru detil memperhatikan ini, namun mereka menyadari ada hal yang berbeda dengan Ummi dan ayahnya.


Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Posting Komentar

0 Komentar