Menjemput Takdir Poligamiku (2)



Tiga jagoan juga yang memahami, mensuport bahkan menjadi obat dikala hati dan pikiran ingin terjun bebas meng-enolkan keadaan. Atau lari dari kenyataan. Sampai, ketika mereka berkata, 
"Jemputlah bahagiamu Bu" baik tersirat maupun tersurat. 
Padahal nak, kalau kalian tahu, hati ini sudah beku dan mati rasa. Telah ku hapus mahluk yang bernama suami dalam kamus pikiran ibumu ini. Biarlah kujalani sisa hidup mendampingi kalian dan cucuku kelak. Batinku!

Walau tak dapat dipungkiri perasaan-perasaan ingin ditemani ibadah di sisa perjalanan hidup. Karena aku sadar, ketiganya pasti akan meninggalkan rumah satu-persatu. Aku tak mau memberatkan bahkan membebani anak-anak ku dengan kesendirianku.

Hadirmu, seakan membangunkan macan tidurku. Yang berkali-kali dicoba dibuka oleh siapapun. Entah bagaimana caramu, aku menyetujui pertemuan kita. Saat itu penilaian ku sebagai perempuan. Kamu jutek mas, pandangan mu yang setengah sinis. Padahal saat itu aku pulang dari mengajar di sebuah kampus. Heran, rasanya hilang peranku sebagai dosen, aku lemah untuk tertantang menahlukkan mu. Namun, entah pesonamu cukup membius keperempuan-ku untuk terbangun dari tidur panjang kebekuan rasa.

Dan, saat ciumanmu begitu saja kuterima entah, setan mana yang mampu membuatku menikmati sentuhan bibirmu. Ya Allah, runtuh juga kesendirian yang kupertahankan dengan atau tanpa mahluk bernama suami. Laki-laki yang bukan muhrim ku, bahkan suamiku, kubiarkan menyentuh ku. Apa yang terjadi padaku, tak sadar aku menangis. Entah apa yang kutangisi. Dan kamu mas, tiba-tiba tersadar dengan isakku.

"Kenapa Bu? Begitu lembutnya pertanyaanmu justru makin membuatku terisak. Kamu membangunkan macan tidurku mas. Entah sudah sekian belas tahun kujaga kebekuan ini. Tapi mengapa aku hanyut oleh ciumanmu astaghfirullah. Malu dan nafsu bercampur baur menerpa pikiranku. Di situ dengan bijak kau peluk aku. Ah betapa nyaman kurasakan dalam pelukanmu mas, batinku tak dapat ku sembunyikan.

Saat itu laki-laki itu tersadar, siapa perempuan yang tengah dihadapinya. Aku perempuan yang kau anggap tangguh dan kuat, kenyataan nya rapuh. Sentuhan itu membuatku rapuh. Sentuhan yang . . .setelah 13 tahun aku lupakan. Sentuhan yang,  membangkitkan kembali birahiku dalam pesonamu mas. Kita pulang ya, kuantar kamu kerumah. Maafkan aku membuatmu merasa bersalah.

Kami sempat makan sate tempat favorit kesukaanku. Matamu tak henti memandangku. Seakan tak percaya, aku mudah kembali cair saat  kamu mengajakku bicara panjang lebar, sambil makan. Entah sampai berapa lama kita di sana, sejam atau dua jam entahlah. Sampai pengunjung berangsur kosong, padahal padat sekali tadinya. Maklum, malam Minggu. Tanganmu tak henti menggenggam tanganku. Aku malu, berkali-kali kutarik, aku sudah tidak muda lagi mas sepertimu, aku janda anak tiga, bisikku. 

" Apa yang salah?" Katanya . . .Aku laki-laki normal, sendiri dan kamu juga sendiri. Tidak ada yang salah toh?" Katanya.
Aku tak mampu menolaknya.
Sejak itu, ada yang berbeda denganku. Seperti gadis ABG langkahku penuh ceria dan semangat. Tiga bulan komunikasi kami sangat intens. Namun, mulai bulan ke-5 kamu tak lagi hadir dalam hidupku. Menghilang tanpa beban, bahkan dua nomer ponselpun tak bisa ku hubungi. Semangatku mulai hilang, aku menanti dalam gelisah, entahlah. 

Baru kali ini aku merasakan kehilangan. Kehilangan yang entah membuatku jadi amat perasa. Baper kata anak-anak muridku.
Aku sudah berusaha untuk menghilangkan segala rasa yang kemudian timbul akibat kehilangan. Mau kucari kemana? 

Bahkan ketika dia meminta untuk aku mengenal nya tak ingin kubahas sedikitpun. Aku hanya ingin hadirnya, tapi tak ingin mengenalnya lebih dalam tentang keluarganya sekalipun. Aku kesepian? Tidak juga. Kesibukanku amatlah padat, hampir jarang kosong. Namun entahlah, hadirmu itu bagaikan semangat yang tak dapat kulukiskan dengan kata. Obat lelahku adalah telponmu dan hadirmu sesekali. Itu cukup bagiku.


Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Posting Komentar

0 Komentar