Kamis, 07 Februari 2019

AKHIRNYA



"Alhamdulillah, selamat tinggal S-1" Hari ini sulungku seakan berteriak pada chat WA kami sore kemarin. Akupun membalas chatnya dengan ucapan hamdalah yang sama. 

Sujud syukur dan terimakasih atas nikmat-Mu ya Allah, atas usainya perjuangan sulungku Abang Kemal Fathurrahman menyelesaikan kuliahnya di S-1 Ilmu Komunikasi Telkom Bandung, setelah berjibaku dan melewati jalan terjal berliku.

Empat semester terlewati dari waktu semestinya, dan itu tidak membuatku gundah. Hanya, bisa dalam sedih dan terus memotivasinya untuk segera menyelesaikan. Bukan hal mudah, melewatkan kedewasaannya muncul dengan kesadaran. Perdebatan, pertengkaran, Baper, dan sejuta rasa meningkahi perjalanan menujunya. 

Namun, kepada-Nya aku berpulang. Kuadukan segala tangis dan permohonan untuknya. Aku tahu, tak mudah baginya melewati masa pencarian jati dirinya episode ke sekian.

Hingga terucap sendiri kata-kata nya.
"Ibu, Abang bosan jadi mahasiswa abadi. Abang ingin selesai, maafkan Abang, bantu Abang melewati ini semua," Tangisnya pecah di telpon terakhir jelang tekatnya menyelesaikan.

"Iya, apa sih yang nggak buat Abang? Bukankah ibu dan adik-adik adalah suporter terbesar dalam hidupmu selama ini. Ayo berjuang!" Kataku menenangkan

Juga bukan hal mudah melewati perjuangan 4 semester terakhir ini jadi total 12 semester yang dijalani. Biaya, tenaga, waktu, dan air mata turut mewarnai hari-hari nya. Namun, kesadaran itulah yang membuatku bahagia. Akhirnya kujemput kedewasaannya yang penuh hikmah. Semoga Allah terus membimbingmu menjadi qurrota ayyunku  dan adik-adik mu bang dunia akhirat, lirihku dalam bisikkan doaku.

Dan, sore ini sepulang mengambil SKL nya ini kulihat ketenangan luar biasa. Ucapannya terasa haru:
"Terimakasih ibuuuu" sedikit, tapi sungguh dalam dan bermakna bagiku. Andai pembaca merasakan sedikit saja yang kurasakan saat itu, sungguh, geletar haru dan bahagia itu menjalar hingga ubun-ubun kepalaku. Terimakasih ya Allah, akhirnya. Usai juga perjuangannya tanpa huru-hara, tanpa tragedi yang melukakan siapapun di antara kami.

Aku tak ingin menghakiminya, biarlah seberat apapun aku tetap mendukungnya dan menjadi ibu yang berbesar hati mendampingi masa-masa beratnya. Biarkan ini jadi ladang amalku dan bagian doaku yang akan diaamiiinkan  Allah. Langkah ini lebih baik daripada memilih berperang dan ikut menyalahkan. Dialah kelak yang akan menggantikan aku bagi adik-adik nya. Aku ingin dia tetap mencontoh sikap bijaksana ku, bukan aroganku yang memaksa tanpa memahami.

Hari ini? BAHAGIA tak bisa kubohongi, ketiganya adalah mutiaraku terbesar. Alasan terkuat bertahan dalam melewati kerasnya membesarkan tanpa dukungan manusia dan keluarga. Akhirnya, satu persatu miracle-Nya mulai kutuai setelah yakin, bahwa Allah takkan pernah berdiam atas usaha maksimal yang kuletakkan dalam diam. Tak perlu gembar-gembornya, yang menimbulkan apapun. Prasangka baik selalu kukedepankan, keyakinan menjadi panglima kesabaran yang kugenggam dalam lautan doa yang terus kularungkan.

Ya Allah, hanya ini yang mampu kupersembahkan pada-Mu. Atas segala nikmat-Mu yang begitu indah kau limpahkan pada hamba-Mu yang dhoif ini. Maafkan atas ketidaksabaran, keluhan, tangisan, dan apapun yang menunjukkan kelemahan ku sebagai manusia. Satu hal yang kuyakini, Engkau selalu bersamaku setiap saat dan setiap waktu

Bekasi, 5 Februari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Darinya Kubelajar Keikhlasan dan Ketulusan Bersedekah

Aku biasa memanggilnya dengan panggilan mbak is. Simpel ya ... Padahal nama lengkapnya nggak ada sedikitpun mengandung Is . Dimana let...