KONTRAK BELAJAR DI AWAL TAHUN AJARAN



Sekian tahun mengabdi di dunia pendidikan dan melakukan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) bersama siswa di kelas, membuat saya terus belajar. Bagaimana menciptakan pembelajaran di kelas yang BERMAKNA. Dalam artian bermakna adalah, siswa mengingat pelajaran matematika yang selama ini dianggap momok atau horor bagi yang masih mengalami kesulitan.

Kenyataannya, masih 75 persen merasakan matematika itu pelajaran yang sulit. Tentu, sebagai guru dan pendidik, saya merasa prihatin. Tantangan untuk saya bagaimana menakhlukkan masalah ini dari tahun ke tahun. Jangan sampai saya mengajar hanya sebagai kesia-siaan saja adanya.

Sesuai tujuan saya di awal sebagai pendidik adalah, ingin menanamkan prinsip bahwa matematika itu mudah. Jargon SAY EASY FOR MATHEMATICS, sangat ingin saya mindset kan pada pesdik saya. Menanamkan mudah berhitung sejak dini adalah cita-cita saya, yang menjadi alasan untuk memilih menjadi seorang guru matematika.

Kontrak belajar di awal tahun ajaran, ketika bertemu dengan siswa-siswa baru yang diamanahi kepada saya adalah suatu hal yang penting. Dengan adanya perjanjian atau kontrak belajar di awal, membangun kesepakatan, mengenalkan cara mengajar, dan metode belajar yang akan dijalani selama setahun ke depan. Rule-rule atau peraturan apa saja yang dikehendaki kedua belah pihak juga sebagai syarat mutlak dalam kelas saya.

Mengenal dan memahami karakter belajar siswa atau peserta didik (pesdik) juga menjadi bagian dari kontrak belajar saya. Mulai dari menghafal nama, mengenal sifat dan cara belajarnya itu bagian dari memahami karakter. Tantangannya adalah dengan mengajar banyak kelas (kebetulan saya mengampu di tujuh kelas jurusan akutansi, otomotif, dan TKJ).

Waktu setahun belumlah cukup sebenarnya memahami tujuh kelas, apalagi memahami siswa perwalian saya di kelas 12 TKRO atau otomotif ini. Satu saja butuh waktu apalagi tujuh kelas ya. Bersyukur jumlah siswa kelas saat ini tidaklah terlalu gemuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah sekarang sudah membatasi minimal 40 orang pesdik.
Tahun 2000 saya pernah mengajar di kelas yang jumlahnya sekitar 50-60 sekelas, terutama di sekolah negeri yang saat itu masih menjadi favorit orangtua dan siswa. Tapi, seiring dengan pergantian kurikulum dan kebijakan, jumlah itu mulai dibatasi. Berbeda dengan di swasta, masih bebas mengatur jumlah siswa. Beruntung kini, sekolah tempat saya mengabdi memahami syarat jumlah rombel dalam tiap kelasnya.

Pentingnya kontrak belajar adalah upaya agar KBM dalam kelas bisa berjalan dengan kondusif dan lebih terpantau pembelajarannya. Terlebih, mengampu pelajaran Matematika. Cita-cita menjadi dan memberikan Matematika sebagai pembelajaran bermakna bukanlah hal yang mudah, tapi bukan tidak mungkin.

Dengan banyak sharing, mengikuti pelatihan-workshop, dan aktif di komunitas guru mata pelajaran hal ini bisa mensuport cita-cita menjadi pembelajaran yang bermakna di Matematika. Biasanya refleksi atau evaluasi diri dalam pembelajaran saya kaji ulang di setiap semester akhir. Dilihat dari antusias pesdik selama KBM berlangsung, hasil evaluasi pembelajaran, serta komunikasi yang terjalin menjadi tolok ukur saya.

Dengan gaya belajar pesdik yang berbeda-beda merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Bicara tentang gaya belajar bisa belajar dari teman saya ini.

https://educationartikeltips.blogspot.com/2019/03/mengenal-gaya-belajar-anak-membantu.html

Bagaimana mengolaborasikan pembelajaran pesdik dengan aneka ragam gaya belajarnya, sehingga mampu menyatukan segala perbedaan. Itu butuh kerjasama dan motivasi tak henti saya sebagai seorang guru sekaligus pendidik. Berbicara dan berdiskusi layaknya teman, di saat-saat tertentu sangat dibutuhkan. Agar pesdik tidak merasa takut atau boring (bosan) dengan metode belajar yang saya laksanakan selama ini. Sehingga tujuan belajar tercapai, hasil yang diinginkan juga bisa maksimal.

Eits jangan salah juga, mengajar di SMK dan di SMA tentu berbeda cara dan tujuan belajar mereka. Ini harus dipahami oleh para stakeholder yang berada di lingkungan SMK tempat saya mengabdi.

Posting Komentar

24 Komentar

  1. Setuju, sebagai guru, kita memang harus selalu belajar untuk mengupgrade kemampuan kita dalam mengatur KBM. Apalagi di kelas ada tiga puluhan anak dengan gaya belajar yang berbeda beda. Nice sharing, Misjuli

    BalasHapus
  2. Minimal 40 pesdik itu perkelas mis? Atau perangkatan? Memang ya perlu diadakan kontrak belajar nih biar terpantau pembelajarannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau skala nasional minimal satu rombel adalah 36 mbak

      Hapus
  3. Semoga dimudahkan dalam menjalankan amanah menjadi pendidik ya Mis..terutama Matematika yang memang dianggap banyak peserta didik susah dan menakutkan.
    Bagus sekali metode mengajar Mis Juli, Insya Allah pesdik yang diajar jadi mudah paham dan mengerti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiiin yra mbak selalu melibatkan Allah dari upaya menerima amanah setiap tahunnya

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  4. Aku pernah Miss, menjadi siswa SD dengan jumlah murid 60 orang. Sedih banget rasanya. Bangku dan meja terasa sempit dan kelas begitu berisik. Matematika buat anak-anak SD rata-rata menjadi mata pelajaran favorit. Ketika beranjak besar menjadi nggak disukai, mungkin karena materinya sudah semakin kompleks, ya. Butuh tenaga pengajar yang bisa membuat matematika terasa asyik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar itu banyak terjadi di sekolah-sekolah negri kita mbak

      Hapus
  5. Setuju banget Mis kalau di awal tahun pembelajaran itu mesti ada kontrak belajar biar KBM lebih terarah. daaan...saya juga sepakat banget sama jargonnya SAy Easy for Mathematics. huhuy I love Math!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bagaimana dengan mindset itu bagaimana guru bisa menyemangati bahwa matematika itu adalah mudah tergantung kita gurunya

      Hapus
  6. Jika sudah ada kontrak belajar di awal jadi semacam pegangan ya, miss buat anak-anak. karena terkadang mereka akan lost kontrol gitu. Semangat ya Miss. jadikan Matematika sahabat anak-anak

    BalasHapus
  7. Semangat Mis. Perlu banget tuh ada kontrak belajar u para pesdik. Jadi semua ada pegangan, baik guru maupun murid. Semoga sukses ya Mis dengan metode mengajar Math nya. Huhui aku termasuk tim yg doyan Math lhoo. Waktu SMA mau aja tuh latihan 50 soal Goneometri. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah asyik dong kenapa nggak diterusin sayang he he

      Hapus
  8. AKu termasuk suka Matematika. Dulu tapi, nek sekarang ya enggak, wkwkwkwk. Anak sekarang juga perlu dipaparkan bahwa Matematika itu Mudah. TApi guru memang harus lihai melakukan pendekatan itu. Tentunya dengan tips dan trik yang sudah mereka kuasai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar mbak Damar dan itu tugas kita bersama sebenarnya tapi utamanya adalah kerjasama

      Hapus
  9. Setuju banget mis, apalagi untuk pelajaran matematika yang sring bikin horor anak dididk, kayak aku misalnya hiks. Semangat ya miss, mendidik calon generasi gemilang :)

    BalasHapus
  10. Wih masyaallah, hebat banget bun. Jadi guru itu gak mudah loh apalagi guru matematika. Semoga murid2nya bisa menyerap ilmu dari gurunya dengan baik selain itu bisa memahami matematika. Sehingga jargon matematika itu mudah bisa terealisasikan. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiiin inshaallah doanya semoga tetap istiqomah

      Hapus
  11. Semoga sukses terus ya, miss. Mendidik anak memang bukan oekerjaan mudah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inshaallah mbak pastinya tapi bukan tak mungkin bukan?

      Hapus