Cerita sebelumnya: 
https://www.misjuli.com/2019/10/tahta-cinta-yang-kupertahankan-4.html

Intinya papah tidak mengijinkan aku untuk menikah saat ini, dan tidak juga bersama Reza yang berbeda suku dengan kami. Mamah sangat memegang teguh persahabatan nya dengan bude Madiun demikian aku menyebutnya. Menjodohkan anak ke tiganya dengan ku, huft. Aku tak suka dengan perjodohan ini. 

Sejak itu papah dan mamah melarangku pulang dengan Reza. Dan memintaku fokus pada kuliah (pilihan papah, yang ingin salah satu anaknya jago matematika). Begitu juga sebaliknya sudah 3 bulan beliau berdua tak pernah menengokku. Seakan ada gencatan suara antara kami. Maafkan aku ma-pa, aku terlanjur mencintai Reza, ikhlaskan lah kami menempuh jalan halal.

Lalu apa yang kulakukan? Hal yang sama melarang Reza datang ke kost-kostan ku. Menghindari fitnah yang sedemikian kejam. Apalagi, ada kakak kelas yang mengejarku pula. Mas Mulyono namanya, berkali-kali memintaku menerima pertemanannya. Lucu ya, padahal kan sudah berteman, pertemanan yang seperti apa lebihnya? 

Kusibukkan diri dengan mengajar di SMP Al-Irsyad walau sebagai guru Biologi tak apalah. Juga menjadi guru TPA di masjid Al-Ghifari Kampus IPB. Serta mengaji lebih khusyuk pada murobbi perempuan. Sambil konsultasi apa yang harus kami lakukan untuk meluluhkan hati orang tuaku. Beliau menyarankan untuk meminta pada sang Ilahi Robbi yang memiliki daya upaya kekuatan. 

Aku juga menyempatkan diri ke mbakku sulung yang sedang kuliah di Semarang Undip saat itu. Bukan solusi yang kudapat, malah aku dikatakan kegatelan duh malunya saat itu. Hampir teman mbak se kost-an mendengar teriakkan beliau. Aku hanya bisa menangis memberi penjelasan atas nama agama rasanya sulit sekali. 

Sering saat Dhuha, sunnahnya, dan tahajudnya aku berlama-lama mengadu pada-Nya. Meminta jalan keluar keadaan ini. Aku percaya Allah memproses hijrahku dengan tidak serta merta. Pasti berproses, namun aku tak ingin melepaskan Reza dari hatiku. Aku menemukan sosok kakak, sahabat, teman, dan segalanya dalam dirinya. Persahabatan yang terjalin sejakku SD kelas 6 sampai kini umurku 20 bukanlah hal mudah terlewati. 

Aku berusaha menahan, ketika Reza telpon bahwa dia rindu ingin sekali bertemu denganku. Aku bilang bersabarlah pasti ada waktu dan jalannya. Yakinlah. 
"Saya nggak kuat San, ada hal yang ingin diceritakan. Saya kangen bercerita sama kamu sambil makan," bikin sakit sekali hati ini, tapi aku harus kuat. Dia belum muhrimku, pikirku tegas. 

Aku malu juga mengatakan bahwa keadaanku sangat prihatin, menahan lapar karena harus irit biaya makan. Uang beasiswa yang hanya 25 ribu sebulan tak cukup untuk makan dan kebutuhan kuliah. Itu saja sudah kukurangi dengan penghasilan mengajar dan jualan jilbab pinjaman kakak kelas teh Evelin. Biasanya Reza selalu memberikan uang tambahan makan dan pegangan jajan, selain kiriman mamah papah. Kali ini sudah tiga bulan aku berpuasa dan banyak jalan kaki. 

Positifnya, bacaan Alquran ku nambah, hafalan juga begitu. Kuikuti pengajian di belakang kampus utama, belajar kitab gundul. Kitab kuning juga kujamah. Ternyata banyak pelajaran penting dari kyai. Berangkat setelah sholat tahajud 4 pagi jalan kaki sejauh 2 km, awalnya takut, tapi karena ramai banyak yang ngaji pagi, persis kota Santri.  Lalu mengaji setengah jam kami sholat subuh berjamaah di sana. Baru setelah itu ngaji kitab gundul dan kitab kuning. Menenggelamkan hati pada lezatnya mengaji ilmu-Nya. 

Sebuah telpon masuk dari papah, mengabarkan mamah masuk rumah sakit karena sesak napas katanya. Otakku buntu tak mampu berpikir panjang.  Walau terjadi perselisihan seperti ini, mendengar mamah sakit itu rasanya hatiku perih. Beliau yang selama ini selalu tegar dan tangguh mendampingi papah, tumbang dan masuk rumah sakit. Pasti ada sesuatu, pikirku. 

Bersambung ...