Jam 16.45 grup WhatsApp komplek mulai ribut. Kompor takjil war mulai menyala sumbunya.
“Bu, ada es buah baru buka di ujung gang!”
“Kolaknya tinggal 3 cup!”
“Gorengan baru diangkat!!”
Mis Juli yang tadinya masih santai, mendadak berubah jadi atlet lari jarak pendek segera menuju food court dadakan Ramadan di Masjid Al Ikhlas. Kerudung dipakai asal, dompet diselipkan, dan misi suci pun dimulai: Operasi Takjil War.
Sampai di lokasi… Astaghfirullah!!
Antrian sudah melingkar seperti sembako gratis atau nonton konser idola.
Ibu-ibu berdiri dengan wajah tenang, tapi matanya awas.
Satu tangan pegang uang.
Satu tangan siap menyambar.
Aku berdiri di belakang, sambil berdoa dalam hati,
“Ya Allah, sisakan aku pastel dua dan risol satu. Itu saja.”
Tiba-tiba terdengar suara,
“Kolaknya habis yaaa!”
Dalam sekejap, aura berubah.
Ada yang menghela napas panjang.
Ada yang pura-pura tegar.
Ada yang langsung pindah lapak dengan langkah cepat tapi elegan.
Aku tetap bertahan. Target minimal: gorengan.
Dan benar saja. Saat penjual baru mengangkat bakwan dari wajan, tangan-tangan bergerak cepat. Aku sempat ragu sepersekian detik… dan bakwan terakhir berpindah ke tangan ibu di depanku.
Kami saling tatap. Dia tersenyum.
Aku tersenyum.
Di dalam hati?
“Ya Allah, ini ujian.”
Akhirnya aku pulang dengan satu plastik sederhana:
tempe goreng tiga, tahu isi satu, dan es lilin rasa melon.
Di jalan pulang, aku bertemu seorang anak kecil.
Dia menatap plastik di tanganku dengan mata berbinar.
Bukan lapar yang berlebihan,
hanya tatapan sederhana anak yang menunggu waktu berbuka.
Entah kenapa, tanpa banyak pikir,
aku menyerahkan dua tempe goreng itu padanya.
“Buat buka ya…”
Dia tersenyum lebar.
Senyum yang mengalahkan semua kolak dan bakwan di dunia.
Sampai rumah, suami bertanya, “Dapet apa?”
Aku angkat plastik yang tersisa. “Kemenangan… walau tipis.” Kami tertawa.
Maghrib pun tiba.
Takjil sederhana itu terasa luar biasa nikmat.
Bukan karena isinya mewah,
tapi karena perjalanan kecil sebelum berbuka itu mengajarkan satu hal:
Kadang kita berangkat dengan niat menang.
Tapi pulang dengan hati yang lebih lapang.
Dan mungkin… itulah takjil terbaik hari ini.
#day5
#TantanganMenulisRamadan
#takjilwar
#nurulamanahpublishing
#misjuli

0 Komentar