Kursi Paling Sunyi Saat Bukber


Undangan buka bersama itu terdengar biasa saja baginya. Semua orang antusias dan grup pun menjadi lebih ramai dari biasanya. 

Menu dibicarakan panjang lebar. Ia hanya menyimak tanpa komentar. Bukan karena tak peduli. Tapi karena sedang menghitung sisa uang di dompetnya. Beberapa bulan terakhir, hidupnya sedang Allah sempitkan. Usaha belum pulih. Kebutuhan rumah terus berjalan.

Ada tanggungan yang tak bisa ditunda. Ia hampir memutuskan tidak datang. Ego kecilnya berbisik,
“Tak usah hadir kalau tidak bisa terlihat pantas.”
Namun hatinya menjawab pelan,
“Datanglah... Jangan jadikan kekurangan sebagai alasan memutus silaturahmi.” Dan Ia pun datang.

Di meja itu, semua tampak berlimpah. Pesanan datang silih berganti. Tawa mengisi ruangan. Ia duduk di kursi paling ujung. Ketika daftar pesanan beredar, tangannya kaku. Ia hanya memilih yang paling sederhana. Bahkan nyaris membatalkan.

Sesungguhnya tak ada yang mengejek dan mempermalukannya. Tapi justru di situlah ujiannya. Bukan diuji oleh orang lain tapi oleh egonya sendiri. Ego yang ingin dianggap setara. Ego yang takut terlihat kurang. Ego yang diam-diam ingin diakui lewat apa yang dibayar.

Saat azan berkumandang, semua menunduk. Doa-doa dipanjatkan. Ia berdoa lebih lama. Bukan minta rezeki yang melimpah. Tapi minta hati yang tidak iri. Meminta jiwa yang tidak membandingkan dan kekuatan untuk tidak merasa kecil hanya karena keadaan.

Dan, di situlah ia sadar. Selama ini, yang membuat manusia lelah bukanlah kekurangan, tapi karena gengsinya sendiri yang tak mudah ditundukkan. Bukan sempitnya rezeki, tapi hati yang belum siap menerima kenyataan. 

Malam itu ia pulang dengan perut biasa saja. Namun kali ini hatinya lebih luas dari sebelumnya. Ternyata, menjadi kuat bukan saat kita mampu membayar semuanya. Tapi saat kita tetap tenang ketika tak mampu membayar ego sendiri.

Dan mungkin… di antara meja yang penuh itu, yang paling Allah muliakan bukan tentang siapa paling banyak memesan. Melainkan yang paling keras menundukkan dirinya sendiri. 

Bekasi, 24 Februari 2025

#day6 
#nurulamanahpublishing 
#TantanganMenulisRamadan2026 
#bukberyuk
#misjuli

Posting Komentar

0 Komentar