πŸŒ™ Ketika Tarawihku Menyala

Awalnya niatnya sederhana.
“Malam ini harus khusyuk. Fokus. Total.” bisik ku pada hati.

Tapi realitanya? Rakaat pertama masih mantap.
Rakaat kedua mulai terasa betisku berbisik. Rakaat keempat lutut mulai negosiasi.
“Ini masih panjang ya?” nakalnya pikiranku kemana-mana.

Di rakaat keenam, otak mulai semakin kreatif. Syaithon mengajak bercanda, ...
Kenapa tadi makan gorengan cuma dua?
Kenapa, yaa sandal masjid selalu lebih nyaman dari sandal sendiri? Uhuk ... Kenapa anak kecil di sebelah energinya seperti belum puasa? (Ish fokuuus mulai goyah)

Namun anehnya … justru di situ hangatnya terasa. Melihat ibu-ibu yang tetap berdiri meski usianya tak muda.
Melihat bapak-bapak dengan sarung sederhana bersahaja tapi wajahnya penuh harap.
Melihat anak kecil yang belum paham arti tarawih, tapi sudah belajar berdiri bersama sejajar.

Tarawihku bukan soal kuat-kuatan berdiri paling lama. Bukan juga soal paling depan safnya. Ini tentang hati yang memilih datang, meski badan lelah, kerjaan menunggu, dan kasur di rumah lebih menggoda.

Ada rasa yang sulit dijelaskan ketika salam terakhir diucapkan. Lelahnya nyata.
Tapi damainya juga tak kalah kenyataannya.
Seperti ada lampu kecil yang dinyalakan dalam dada. Mungkin itulah “menyala” yang sebenarnya.
Bukan api keimanan yang membakar, tapi cahayanya  begitu menguatkan.

Dan malam itu aku sadar,
yang Allah lihat bukan seberapa sempurna gerakanku— tapi seberapa sungguh aku melangkah menuju-Nya.

Tarawihku menyala.
Bukan karena aku kuat.
Tapi karena aku mau datang dengan kesadaran untuk menyalakan keimanan yang apinya harus terus dibesarkan dalam kesadaran.

Godaan hormon, kemalasan, dan  kewanitaan bukan alasan untuk melambai pada kamera kehidupan, mengibarkan bendera putih bukti syaithon pemenang Ramadan yang ditunggu 11 bulan lamanya. Huhuuu. Lawan!!

#day7
#tarawihmenyala
#tantanganmenulisramadan2026
#nurulamanahpublishing
#misjuli


Posting Komentar

0 Komentar