Ada yang berbeda di Ramadan ini dengan hari-hari lainnya. Biasanya tidak selalu aku datang kepada Al-Qur’an dalam keadaan kuat.
Kadang, justru dalam lelah, pikiran yang penuh, dan hati yang sedang mencari arah.
Aku membukanya pelan hampir di ujung sisa waktu. Bukan sekadar membaca. Tapi seperti seseorang yang sedang memegang tangan paling setia dalam kehidupan keislamanku sejak kujemput hidayah 1990 di IPB 36th lalu. Saat mantap kutinggalkan Islam Kejawen yang menjadi didikan mamah papah bercampur kehadiran di gereja pada Desember setiap tahunnya.
Ada hari-hari ketika dunia terasa bising. Target menumpuk. Tanggung jawab memanggil. Perasaan pun tak selalu stabil.
Namun setiap kali huruf-huruf itu mengalir, ada sesuatu yang ikut ditata. Napas menjadi lebih panjang. Hati menjadi lebih luas. Luka menjadi lebih bisa dipahami. Al-Qur’an bukan hanya bacaan.
Ia pegangan. Saat ragu datang, ia menguatkan.
Saat kecewa menyapa, ia menenangkan.
Saat ego meninggi, ia merendahkan dengan cara yang lembut. Keindahan iman itu ternyata sederhana. Bukan selalu tentang air mata yang deras. Bukan pula tentang ibadah yang terlihat besar.
Ini tentang kesadaran.
Bahwa aku hamba, hidup ini titipan, segala yang Allah atur, tak pernah salah arah.
Dan di antara sunyi malam Ramadan, ketika ayat-ayat itu kulantunkan menyentuh dada,
aku merasakan sesuatu yang tak bisa dibeli oleh apa pun. Kelezatan iman.
Tenang.
Penuh.
Cukup.
Al-Qur’an di tanganku,
dan aku tidak lagi merasa sendirian menjalani universitas kehidupan sejak 36th lalu, meraja dalam ketenangan.
#misjuli
#day8
#nurulamanahpublishing
#tantanganmenulisramadan2026
#alquranpeganganku

0 Komentar