Ketika Lapar Mengajarkan Kesabaran Tak Bertepi

Hari itu perutku terasa lebih perih dari biasanya. Bukan karena tak ada makanan. Di meja sudah ada kurma dan segelas air. Waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi. Namun entah mengapa, lapar sore ini terasa berbeda. Lebih tajam dan dalam. Seolah ikut membawa beban yang tak terlihat.

Seharian Mis Juli menahan diri, haus,  lelah. Menahan emosi yang hampir saja tumpah karena hal-hal kecil. Saat jarum jam bergerak lambat menuju maghrib, aku sadar yang paling sulit dari puasa bukanlah tidak makan. Tapi menahan diri ketika kita merasa paling berhak untuk meluapkan segalanya.

Lapar mengajarkanku tentang batas. Bahwa aku ini manusia mudah rapuh. Sedikit saja tenaga berkurang, sabar ikut menipis. Sedikit saja haus, kata-kata bisa jadi lebih tajam. Di situlah aku mengerti, mungkin Allah tidak sedang menguji kuatnya tubuhku.
Tapi lembutnya hatiku.

Saat perut kosong, ego sebenarnya ingin menang.
Ia ingin dimengerti, didahulukan, dibenarkan.
Namun puasa berbisik pelan,
“Tahan… bukan itu tujuanmu.”

Ketika lapar mengajarkanku,
aku mulai memahami mereka yang hidupnya memang selalu kekurangan, bukan hanya menahan dari fajar hingga maghrib, tetapi karena memang tak ada pilihan.

Aku belajar bahwa syukur bukan muncul saat kenyang, tapi lahir ketika kita sadar, bahwa setiap suap adalah nikmat, bukan hak. Beberapa menit sebelum adzan, aku menengadahkan tangan.
Bukan untuk meminta makanan segera.
Tapi untuk meminta hati yang lebih lapang.

Jika aku bisa sabar saat lapar, maka juga saat kecewa. Jika aku bisa menahan diri dari air,
maka seharusnya lebih tahan diri dari kata yang melukai.

Begitu adzan yang terdengar, kurma pun terasa sangat manis. Air terasa sangat hidup di kerongkonganku. Namun yang paling mengenyangkan bukanlah makanan di meja.
Melainkan kesadaran bahwa hari itu, aku tidak hanya menahan lapar saja.
Aku sedang belajar menjadi manusia yang lebih kuat. Dan mungkin, itulah tujuan sebenarnya dari rasa perih yang seharian menemani.

#day14
#TantanganMenulisRamadan2026
#nurulamanahpublishing
#ketikalaparmengajarkan
#misjuli

Posting Komentar

0 Komentar