Mudik adalah ritual khusus yang kujadikan agenda tahunan setiap Lebaran. Sebuah perjalanan untuk meraih rindu dan kasih sayang mereka yang berjauhan jarak kilometer dengan kami di Bekasi ini.
Pendar mata bahagia orang tua, wangi masakan bacem bebek khas yang menyambut kepulangan, serta rajutan komunikasi berjam-jam seakan menuntaskan rindu yang lama terpendam. Kabar bahagia dari adik-adik laki-laki terkasih dan keluarga besar almarhum Papah dan Mamah yang senang melihat kami pulang, seakan menghadirkan kembali bayangan kedua orang tuaku saat masih hidup.
Sejak awal perjalanan, aku selalu mempersiapkan mudik dengan nyaman. Dulu, ketika anak-anak belum menikah, sehari setelah Lebaran kami langsung pulang ke kampung halaman. Kini keadaan berbeda. Ada anak dan menantu yang menginap di rumah mengunjungi kami, apalagi anak sulung kini tinggal di Bali bersama istrinya.
Biasanya pada hari ketiga atau keempat Lebaran, barulah aku memulai perjalanan. Apalagi jika keluarga besar Papah yang kini sudah mencapai generasi kelima mengadakan halal bihalal. Biasanya dari Jogja aku langsung melanjutkan perjalanan ke tempat keluarga yang mendapat giliran menjadi tuan rumah.
Tahun ini rencananya di Klaten. Aku sudah mengatakan kepada suami bahwa setelah pulang ke Jogja, kami akan sekalian menghadiri halal bihalal di Klaten. Keuntungannya, kami bisa bertemu dengan seluruh keluarga yang tinggal tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah. Terbayang jika tidak ada halal bihalal, berapa banyak tempat yang harus kami datangi satu per satu.
Tinggal keluarga besar Mamah di Semarang yang biasanya hanya berkumpul di kota itu saja. Biasanya halal bihalal diadakan di rumah Om atau Bulek, adik tertua Mamah. Namun sejak Om Gito meninggal dua atau tiga tahun terakhir, halal bihalal menjadi lebih pasif. Omku yang almarhum ini adalah sosok yang dituakan dan sangat didengar oleh kami semua. Pandemi Covid-19 pada tahun 2023 merenggut Om Gito dari kami, akibat penyakit gula yang sudah cukup tinggi.
Namun hidup terus berjalan. Tekadku untuk menyambungkan silaturahmi keluarga besar Mamah dan Papah akan terus kuagendakan. Dengan menjaga silaturahmi ini, semoga kekerabatan tidak terputus hingga ke anak cucuku kelak.
Sejauh apa pun perjalanan yang harus ditempuh, mudik adalah rindu silaturahmi yang terus bergema.
Karena sejauh apa pun kita merantau, selalu ada jalan pulang yang bernama rindu.
#day23
#TantanganMenulisRamadan2026
#mudikiturindu
#nurulamanahpublishing
#misjuli

0 Komentar