Makanan kecil yang paling ditunggu saat berbuka itu apa sih? Ayoo, masih ada yang inget nggak? Apaa? Kolak? Kolak apa yang paling dinanti?

Kok jadi tebak-tebakan sih? Jadi gini ya friends, tadi tuh pulang ngajar aku melihat orang dagang berjejer di pinggir jalan. Apalagi kalau bukan jajanan makanan menjelang berbuka. Padahal baru jam dua  loh!

Nah, tetiba mataku terantuk pada sosok lelaki tua yang sedang berdagang juga dengan pikulan tetapi jualan kolak. Langka kan? Ish, bikin galfok saja yaa!. Masa sih masih ada jualan kolak pakai pikulan di zaman now?

Ingatanku lalu melayang, ke masa kecilku yang membahagiakan, walau tinggal di daerah hitam di timurnya Jakarta. Walau berusaha menjadi anak baik, tapi keisengan anak-anakku sering muncul. Maklum agama kami di keluarga adalah kejawen, jadi mengaji dan sholat bukan sesuatu hal yang wajib dan ditakuti.

Loh apa hubungannya? Dulu menjelang Maghrib kami selalu menanti jajanan berbuka apa saja yang kami suka. Nah, saat itu ada jajanan kolak yang sangat disukai oleh orang di kampung tempat tinggalku. Penjualnya adalah seorang kakek tua yang sangat baik kepada siapapun pelanggannya. Lalu hubungannya dengan keisenganku apa dong?

Gini, dulu kolak yang dijual kakek itu sangat laris manis semanis aku, ahayyy. Namanya kolak biji salak katanya. Sederhana dari ubi juga dicampur tepung sagu, tapi di tangan beliau makanan sederhana itu jadi berbeda. Endes banget. Siapapun ketagihan, mau di makan panas atau dingin, beliau selalu menyediakan es bagi yang menginginkannya.

Nah saking laris, terkadang aku sering lupa membayar. Tuh! Iseng, kan? Akhirnya baru inget kalau sudah malam selesai terawih atau sampai di rumah. Jelaslah, si kakek sudah nggak ada, mungkin beliau juga terawih kali ya? Wong laris manis banget keluar jam 4 jam 7 sebelum isya sudah ludes, sebanyak apapun bawaannya.

Baru besoknya kubayar duakali lipatnya. Itupun dengan ancaman mama, "inget ya mbak! Harus dibayar, jangan sampai nggak". Mautkan? Mama selalu mengajarkan biar susah tapi jangan sampai berbohong apalagi pura- pura lupa nggak bayar. Apalagi dengan pedagang setua kakek itu, usia yang seharusnya sudah beristirahat di rumah ketimbang kerja keras seperti itu membawa pikulan berat.

Dulu mah belum banyak ruko, istilahnya. Lagi pula, apa kakek itu mampu? Sewa ruko? Entahlah, apa ruko sudah populer zaman itu? Intinya, siang ini melihat kolak laki-laki tua itu membawaku pada nostalgia yang nakal buatku. Tapi jangan salah loh ya, aku sudah tobat sejak SMP begitu mengenal mengaji di ustadzah dekat rumahku yang baru pindah, beliau mengajariku banyak hal terutama menyangkut Akhlakul Karimah.

Friends, punya pengalaman kecil yang nakal kaya aku? Mau dibagi di sini? Hayuuuk di ceritain dosa masa lalu he he.

#Daythree
#RWC2019
#OneDayOnePost