Susan hanya bisa menatap wajah di hadapannya dengan diam. Sepagi ini kantornya sudah kedatangan masalah. Masalah yang datang dari seorang gurunya, bukan sibuk mengajar malah melaporkan pekerjaan rekan kerja sesama kelas  dua.

"Sekarang, Ms Muji inginnya bagaimana? Kan Luis tanggung jawab ibu! Masa harus Ms Fitri yang menangani siswa di kelas? Kita semua sudah punya tanggungjawab masing-masing, Ms." tutup Susan dengan pungkas.

"Ah, Ms Susan memang selalu membela. Mentang-mentang temennya," katanya dengan sengit.

"Loh, kok begitu komentarnya Ms, nggak boleh begitu! Saya menyampaikan sesuai profesionalisme kerja saja. Sejujurnya, Ms nggak mampu menghadapi Luis kan? Mengapa harus menyalahkan Ms Fitri?" sanggah Susan lagi.

"Tapi, Ms Fitri kan pegangan Luis waktu kelas satunya, tentu dia lebih paham dan mampu memegangnya. Kembalikan saja ke kelas beliau" celetuk Ms Muji dengan tanpa dosa.

Belum sempat Susan untuk menjawab, tiba-tiba gawainya bergetar. Diliriknya layar tertera, Amar! Ada apa pagi-pagi ini menghubunginya. Waktu yang tidak tepat, hatinya sedang kesal dengan guru yang katanya senior ini, tapi ternyata mau lepas tangan terhadap siswa berkebutuhan khusus di kelasnya. Sesuai kesepakatan setelah naik kelas dua, wali kelasnya adalah beliau. Setelah sebelumnya koar-koar dihadapan yayasan bahwa dia mampu 
menangani siswa khusus ini. 

Selama di kelas satu, dia selalu mengkritik dan menyalahkan Ms Fitri selaku wali kelasnya. Kini, di kelas dua setelah diserahkan ke Ms Muji, ternyata . .
 .
"Ya mas, waalaikumusallam apa kabar? Ada yang bisa kubantu?" katanya sopan menjawab salam Amar.

Sementara Susan sibuk mengatur hatinya yang begitu berdegup kencang. Susah payah Susan menahan senyumnya seperti ABG yang baru saja ditelpon pacar. Bisa tersebar luas gosip yang akan diterimanya, Ms Muji adalah guru yang lebih suka mencari sesuatu untuk digosipkan ke teman-teman genknya. Bangkunya diputar untuk menghindar terlihat raut wajahnya yang berbunga-bunga saat itu. Ah Amar, mengapa aku jadi kangen sama kamu sih, rutuk Susan tanpa sebal.

"Apa? Kamu sudah di sana? Memang kamu nggak kerja? Mengapa sepagi ini? Aku sudah di sekolah untuk bekerja, Mas" Susan begitu kaget. Rupanya Amar sudah berada di depan rumahnya. Susan harus segera pulang untuk menghindari fitnah. Tapi langkah pertama tentu harus mengusir guru senior usil ini dahulu. Setelah berjanji untuk segera tiba di rumahnya, Amar menutup telponnya.

"Baik Ma Muji, kita akan lanjutkan lagi di rapat mingguan kita Jumat besok ya. Karena kita tidak ada titik temu, kita akan selesaikan dengan bertemu segitiga langsung dengan Ms Fitri. Terimakasih buat pengertiannya, mohon segera bertugas lagi di kelas, anak-anak sudah menunggu sejak tadi, ok?" tutup Susan pembicaraan dipercepat.

"Saya ada tamu di rumah sudah menunggu, kasihan nggak ada orang. Saya harus menemui dulu setelah itu kembali lagi ke sekolah, oke ya!" tanpa meminta persetujuan Ms Muji, Susan segera mengambil kunci motornya di meja.

Rasanya ingin segera terbang secepat kilat bagai gadis ABG yang diapeli pacarnya. Langkahnya sedemikian tidak teratur, begitu terburu-buru. Disempatkannya mampir ke ruang TU, pamit pada salah satunya tentang keperluannya. Tak dipedulikan godaan Eneng yang selalu usil menggodanya. Begitu juga ketika melewati satpam. Bang Dasril seperti biasa sigap membukakan gerbang untuknya.

"Terimakasih ya bang, jangan lupa ditutup lagi, kalau ada tamu atau bapak Purwanto sampaikan saya ada keperluan keluarga dulu yang harus diselesaikan" Susan dengan senyum ramah dan sopan.

"Siap Ms, jangan lupa oleh-olehnya ya he he" goda Bang Dasril seperti biasa. Alhamdulillah walau berat menjadi kepsek bagi guru senior, namun rekan kerja lain seperti TU, Satpam, dan OB kebersihan begitu welcome padanya. Selain siswa, merekalah justru yang membuatnya bertahan.