Kamis, 18 Oktober 2018

Pentingnya Melatih Kemandirian Sejak Dini

Stemit.com


Kalau Emak sebagai orangtua selalu dengan mudah memberi pertolongan kepada anak, sesungguhnya kita sudah berkontribusi untuk membuatnya gagal berkembang. Mengapa?

Karena anak tidak pernah dilatih dan diberi kesempatan  untuk belajar mengatasi setiap permasalahan yang terjadi. Dan anakpun dalam alam sadarnya tidak ada keinginan kuat untuk berpikir dan berkembang, karena ada "malaikat penolong" nya yang setiap saat bersedia menolongnya. 

Lupa, bahwa emak tidak selamanya kuat, sehat daaaaaan Hidup terus bersamanya. Semua orangtua pada dasarnya sayang anak, tapi sayang sekarang? Atau nanti? Karena bagaimana jika kemandirian tidak hadir sementara usia itu rahasia Allah?

Menyiapkan anak sejak dini untuk mandiri adalah demi kebaikan orang tua itu sendiri. Melihat mereka mampu melakukan sendiri tanpa bantuan saat kita repot atau jauh dari orang tua adalah satu kebanggaan tersendiri.

Memang bukan hal mudah, instan, dan harus dilakukan secara terus menerus tanpa kenal lelah. Tapi, percayalah jika itu dilakukan dengan ikhlas dan yakin mereka bisa, kita pasti akan mendapatkan hasil yang membanggakan mereka di saat dan waktu yang tepat.

Dengan memberi kepercayaan dan mengajaknya berdiskusi, berbicara tujuan melatih mereka mandiri, bisa membuat anak justru lebih bersemangat dan ingin menunjukkan kemampuan itu.


Kesalahan itu pasti selalu ada. Namun dengan kerjasama yang baik, pemberian hukuman dan hadiah, memberikan pujian saat anak bisa melakukan kemandirian,  percayalah. Hasil tidak akan menghianati usaha kita mendidik mereka. Jangan pernah lelah dan teruslah menjadi suporter terbesar kemandirian anak, karena itu sangat bermanfaat, dibutuhkan oleh anak kita ke depan.

#edisiparentingkemandirian

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.


Langit Berkah RezekiNya Bertanda


Pixabay.com

Ketika pintu langit menyapa
Sesungguhnya senyum-Nya sedang ditebar
Memberi tanda keberkahan sedang dialirkan
Bagai air yang terus mengalir tanpa henti

Ketika bumi terpayungi awan keemasan
Sungguh coklatnya merekah nikmat
Memeluk mahluk didalamnya untuk bermesraan dalam kencan indah
Humusnya merona cantik seiring nyanyian hujan

Pelangipun ikut tersenyum manja
Dalam buaian cerianya matahari
Usainya tinggal dituai
Berkah demi berkah bulir rezeki tertabur

Maka nikmat mana lagi yang tertolak langit???
Sedang berkahNya tak henti mengalir . .

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Saatnya Moni Sekolah



Pixabay

Moni adalah gadis mungil yang sejak kecil sudah ditinggal ibunya ketika lahir. Karena ayahnya harus bekerja, Moni tumbuh bersama neneknya yang hidup dengan sangat sederhana di desa.

Walau hidup dengan nenek, karena kesederhanaan tidak lantas membuat Mini tumbuh menjadi anak yang manja. 

Justru, nenek melatihnya untuk menjadi anak yang kuat dan siap dalam kondisi apapun.

Ayah Moni adalah anak tunggal dari nenek dan alm kakeknya, yang juga hidup dengan sederhana. Beliau terpaksa meninggalkan Moni di desa untuk tinggal bersama ibunya. Ayah percaya, Moni akan baik-baik saja dalam pengasuhan ibunya. Terbukti, ayah adalah contoh asuhan nenek yang menjadikannya laki-laki yang kuat walau istrinya meninggalkan dirinya dan Moni.

Ternyata, keyakinan ayah Moni tepat, karena nenek selain memiliki teman dalam pengasuhannya setelah ditinggal alm suaminya. Moni benar-benar dididik seperti anaknya sendiri, hanya berbeda dipanggilannya saja. Dulu ayah memanggil nenek ibu, kini Moni memanggilnya nenek sebagai orang tua pengganti ibunya yang sudah meninggal.

Nenek adalah perempuan tangguh, walau umurnya sudah hampir 60 tahun masih mampu melakukan pekerjaan sendiri walau tanpa bantuan siapapun. Kecuali saat sakit, tetanggalah yang menjadi teman, saudara sekaligus kerabatnya yang mau membantu keseharian nenek. Hadirnya Moni juga menjadi pelipur lara nenek setelah ditinggal alm suaminya, dan ayahnya Moni yang setelah menikah harus tinggal di kota sebagai tempat mencari penghidupan lebih baik.

Saat ini Moni sudah berusia 6 tahun. Kemandirian sangat terpancar di sikap kesehariannya dengan tingkahnya yang selalu riang. Setiap pagi begitu mendengar suara azan dan bunyi alat masak di dapur berbunyi, bagai suara merdu alarm  bagi Moni untuk bangun. Setelah mandi dan sholat subuh, Moni segera membantu neneknya di dapur. Nenek keseharian berjualan nasi liwet sederhana, untuk dijual lagi kepada para buruh pabrik yang sudah sepuluh tahun ini berdiri megah di desa.

Rumah nenek yang strategis sangat mudah dilewati para buruh yang terkadang tidak sempat sarapan dari rumah. Para buruh kebanyakan adalah ibu-ibu muda dan gadis-gadis putus sekolah. Moni sudah sangat cekatan membantu nenek berjualan. Tidak jarang, pembeli dibuat gemas dengan tingkahnya yang lucu tapi sangat mandiri.

Hampir tidak pernah merepotkan nenek, di saat pembeli berebut untuk minta dilayani. Bahkan, Monilah yang membantu agar nenek tidak kewalahan menghadapi pembeli yang terdiri dari perempuan itu. 

Sore hari menjelang maghrib, biasanya Moni bersama teman-teman desa lainnya berangkat pergi mengaji. Sering Moni melihat, banyak temannya yang membawa PR saat menunggu antrian membaca dari ustazahnya.

Hati Moni sering iri dan ingin bersekolah seperti teman-teman lainnya. Tapi Moni tahu, hal itu tidak mungkin. Keuangan nenek sangatlah pas-pasan untuk hidup mereka berdua. Ayah Moni belum tentu pulang sebulan sekali, hanya sebagai buruh tukang di proyek pembangunan di kota besar. 

Ayah Moni pernah berjanji padanya, kelak ingin Moni bersekolah lebih tinggi jika sudah terkumpul rezekinya.

Namun, hingga sebesar ini janji itu belum juga terwujud. Yang bisa Moni lakukan hanyalah belajar mandiri dengan melihat teman-temannya saat mengaji. Ustazah pernah bilang padanya, bila dia bersungguh-sungguh berdoa akan dikabulkan Allah di saat yang tepat.

Maka yang Moni lakukan adalah sholat dengan sungguh-sungguh dan berdoa dengan khusuk. Berdoa untuk kesehatan nenek dan ayah yang dicintainya, juga rezeki agar ayahnya segera bisa menyekolahkannya seperti teman-teman di desa lainnya.
Suatu hari, tak disangka ayahnya pulang dari kota. Wajahnya sangat bahagia, seakan tidak sabar untuk bertemu dengan anak semata wayangnya. 

Ternyata, ayah memberi kejutan pada Moni selama ini. Ayah sudah menghitung umur Moni, dan kapan harus mulai bersekolah tanpa diminta. Beliau tahu, Moni anak yang baik dan tidak pernah menyusahkan dirinya dan nenek yang sudah membesarkannya selama ini.

Moni memang tidak memiliki kalender atau televisi di rumah. Jadi jarang bagi Moni mengerti hati dan tanggal. Hati Moni sangat bahagia, ayah membawa perlengkapan sekolah dan uang untuk mendaftar ke sekolah besok. Ayah sengaja mengambil cuti beberapa hari untuk menemani nenek ke sekolah dekat pabrik satu-satunya di desa ini. Rupanya, nenekpun sengaja merahasiakan rencana ini sebagai hadiah bagi gadis mungil ini. Tak terasa air mata Moni menetes tanpa bisa ditahan.

Moni berjanji, akan berusaha dan belajar dengan giat. Agar ayah dan nenek bangga dengannya, dan bisa membahagiakan mereka berdua. Saatnya Moni sekolah, dalam mimpinya Moni sudah memakai seragam sekolah yang dibelikan ayahnya.

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Sabtu, 13 Oktober 2018

Dia Penjual Kue Baskom


Pixabay.com



Sebut saja namanya Anisa. Nama yang cukup indah sebenarnya, diambil dari nama surat dalam Al-Qur'an. Namun setelah remaja, sifat dan perangainya tak lagi mencerminkan Al-Qur'an.

Sejak ibunya mengajak pindah ke Sukabumi, Anisa tak mampu lagi menutupi rasa kecewa karena harus hidup sederhana. Anak perempuan satu-satunya yang terbiasa berlimpah materi dan kasih ayah ini harus belajar hidup sederhana. Ayahnya telah berpulang, suami yang menikahinya di usia belia dan menghadiahinya kemewahan telah menceraikan Anisa karena bangkrut dan harus pulang ke negaranya di Arab Saudi. Anisa ditinggalkan begitu saja tanpa kesan dan pesan. Untung belum ada anak diantara mereka sebagai pengikat.

Karena pernah menikah, biasa hidup mewah, dan kurangnya pendidikan membuat Anisa mudah terbawa pada pergaulan kurang baik di desa tempat tinggalnya kini. Dia lebih banyak bergaul dengan wanita-wanita Borjuis dan wanita malam. Nasehat ibunya tidak pernah digubrisnya. Bahkan bentakan saudara laki-laki nya pun tidak mampu mengurangi kebiasaannya untuk keluar malam.

Keluarganya tidak pernah mengetahui, jika Anisa kini lebih dikenal sebagai penjual baskom. Lebih tepatnya wanita penjual kue baskom sekaligus bisa dibeli kemolekan tubuhnya. Demi memenuhi keinginannya untuk terus hidup dalam gelimang uang, membuat Anisa gelap mata. 

Disamping terbiasa digauli suami, ternyata demi rupiah Anisa mau disetubuhi oleh laki-laki manapun yang mampu membayar dan memberi kemewahan untuk dirinya.
Berganti-ganti pasangan dijalani, seolah tidak takut akan adanya hari akhir dan kematian. Terlebih dia masuk ke komunitas wanita yang mau di kawin kontrak oleh mereka pedagang timur tengah selama berada di Indonesia. Begitu kontrak habis, seperti piala bergilir akan ada laki-laki lain yang menjadi gantinya. Ibunya hampir tak pernah dikunjunginya. Vila adalah tempat tinggalnya mereguk kenikmatan dan kemewahan.

Namun, akhirnya kejayaan Anisa harus tumbang dan berakhir dengan tragis. Anisa divonis terkena penyakit kelamin yang mematikan. Sempat dirawat di rumah ibunya selama dua Minggu, akhirnya harus menghembuskan napasnya dipangkuan ibunya yang selama ini tak pernah didengar nasehatnya. Ketulusan ibunya untuk merawat bungsu dan anak perempuan satu-satunya.

Ada kisah menarik dan bisa menjadi inspirasi bagi pemudi zaman sekarang. Saat dikuburkan hingga selesainya, tidak ada masalah berarti. Ibunya bersama ketiga kakak laki-laki dan para istrinya tetap setia mengiringi prosesi penguburan sampai selesai. Namun, ada kejadian menarik yang cukup menyayat hati siapapun yang hadir di sana.

Begitu para tetangga beranjak pergi, tiba-tiba ibunya berteriak histeris. Dia memaksa anak-anak lakinya untuk membongkar kuburan adik perempuannya itu. Walau diberi pengertian, tetap saja ibu tetap memaksa untuk dibongkar kuburan Anisa. Ada apakah gerangan, dengan naluri seorang ibu?

Penjaga kuburan pun terpaksa membantu membongkar bersama kakak laki-laki Anisa. Disaksikan ibu dan ipar-ipar perempuannya. Hal mengejutkan terjadi begitu melihat kain kafan Anisa sudah tidak karuan bentuknya. Bukan hanya pocongnya saja yang terbuka, tetapi kain kafan itu sudah terbuka lebar hingga ke ujung kakinya.

Tampak di sana, di bagian kemaluan Anisa segerombolan serangga hitam berkumpul penuh hingga menutupi. Ibu dan kakaknya panik dan berusaha mengusir serangga tersebut. Sang ibu pingsan, begitu melihat kenyataan bahwa bagian kemaluan putri bungsunya menjadi bolong karena daging nya banyak termakan serangga hitam tadi. Allah tunjukkan kekuasaannya sebagai ibroh bagi siapapun yang masih hidup.

Bagi para penzina, Allah bayar tunai langsung di hari kematiannya. Berupa balasan bagi mereka yang menjual kemolekan tubuhnya pada laki-laki yang bukan halal untuknya. Juga bagi mereka yang tidak pernah mau mendengarkan nasehat ibunya. Hal yang samapun terlihat pada bagian payudaranya. 


Bagian-bagian yang selama ini memberikan kenikmatan pada laki-laki pengggilir tubuh Anisa. 
Subhanallah, berita itu cepat sekali tercium tanpa bisa dicegah dan tentunya membuat sang ibu malu dan sedih. Sungguh menjadi pelajaran bagi wanita manapun. Baik pemudi maupun wanita dewasa yang mengambil pergaulan bebas tanpa mau terikat aturan agama. Jika Allah sudah berkehendak seperti itu apa yang bisa dilakukan?

Masih sempatkah diberi waktu untuk bertobat? Wallahu alam bishowab.
Semoga anak-anak  dan keluarga kita terhindar dari hal-hal tidak baik dalam pergaulan. Melibatkan Allah selalu dalam penjagaan terbaik. Karena hanya Allah penjaga terbaik yang kita andalkan, dengan doa-doa terbaik seorang ibu sejak bayi dilahirkan. Memberikan bekal agama yang kuat dan selalu menjadi orang terdekat yang bisa memberikan motivasi dan pendidikan yang terbaik. 


#kisahinspiratif
#diambildarimajalahummitahun1990
Bekasi, 13 Oktober 2018

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Generasi Industri 4,0 Sesungguhnya?


Pixabay.com



"Bu setelah lulus SMK Abang atau adek kerja dulu ya?"
"Boleh, tapi syaratnya setahun kemudian kuliah!"

Itu yang kusanpaikan kepada anak-anak di rumah. Belajar dari pengalaman, dan sulung yang mengambil SMA. Generasi Industri 4,0 saat ini lebih banyak praktek dan aplikasi langsung pada pekerjaannya. Melatih mereka untuk mandiri dan fight agar siap menjadi warga dunia yang terus bergerak.

Benar lulusan SMK sudah pasti siap kerja, tetapi jika tidak diimbangi dengan belajar dan aplikasi langsung, hanya menciptakan pengangguran dan robot-robot karyawan yang kurang mengambil inisiatif kurang kreatif. Itu mengapa keseimbangan bisa didapat dari pengalamannya bekerja.

Karena hasil belajar harus dipraktekkan langsung agar tahu dimana kekurangannya.  Begitu juga belajar tidak melulu teori jika tidak dipraktekkan. Jangan sampai mereka hanya kuliah saja, tetapi belum atau kurang pengalaman. Sedangkan dunia industri saat ini mencari orang yang minimal sudah punya pengalaman.

Juga jangan sampai mereka hanya memilih bekerja saja, tanpa dikuatkan dengan teori dan ilmu. Sehingga, hasil pekerjaan kurang maksimal dan karir pun hanya terbatas pada fisik semata. Walaupun dia nantinya menambah dengan kursus-kursus atau ketrampilan tambahan lainnya. Namun, tuntutan saat ini, untuk berkarir minimal ada ijasah penguat tambahan lainnya bukan hanya sekedar lulusan SMA atau SMK saja.

Ujung-ujungnya? Hanya menjadi operator dan kacung di negeri sendiri. Sementara para pejabat, pemangku kebijakan, ataupun leadernya diambil dari pemilik Ijasah lebih tinggi, walaupun dari segi praktek kurang. Itu kenapa saran saya sebagai pendidik yang terjun di lapangan, sebaiknya lulusan SMK setelah bekerja menambah ilmunya dengan kuliah lagi untuk meningkatkan kompetensi dan kemampuannya agar lebih baik lagi masa depannya.

Satu hal lagi adalah, menanamkan jiwa wirausaha juga menjadi poin utama dalam pendidikan saya di rumah bersama tiga jagoan. Karena, dunia usaha tidak selamanya membuat mereka Seattle sebagai karyawan. Jika mereka memiliki kemampuan dan ketrampilan lebih, serta kemampuan untuk melihat peluang usaha, bisa menjadi bekal mereka untuk fight di dunia industri 4,0 ini.

Tentunya, tak lupa memberikan kesadaran. Bahwa melibatkan Allah dalam hidup dan kehidupan mereka adalah yang utama. Kematian itu pasti, jadi tidak melulu mengejar dunia. Mempersiapkan mereka untuk bisa menyeimbangkan dunia akhirat jika sewaktu-waktu umur memanggil. Muda bukan berarti belakangan dipanggil, begitu juga tua bukan berarti lebih dahulu. Umur tidak pernah ada yang tahu, kapan dan siapa saja yang mendapat giliran panggilan.

Dunia yang diusahakan mati-matian tidak akan berarti apa-apa jika sholat dan Al-Qur'an ditinggalkan. Dua senjata yang membuat nyaman dan tenang jika kita berpegang pada-Nya. Tentu bukan hanya omdo belaka, ini juga jadi muhasabah saya sebagai orang tua mereka, memberikan contoh adalah yang utama. Sudah sejauh mana menyiapkan mereka bekal menjadi 'anak atau orang tua Sholeh' sebagai amal yang takkan pernah terputus walau Allah nanti memanggil? Mikirrrr

#muhasabahpagi
#merenungsejenak

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Di Rumah Pendidikan Mereka Bermula Sesungguhnya



Rumah ini terasa sepi, anak-anak sudah dewasa dan suamiku pulangnya malam. Rumah sebesar ini rasanyanya hening, di saat murid privat tak lagi bersamaku. Aku memang berprinsip tidak akan mencari murid, hanya mereka yang butuh yang pasti akan datang.

Bimbingan belajar Nurul Amanah yang kudirikan sejak 2007 ini sudah menelurkan lulusan yang tak terhitung. Baik yang cuma sebentar belajar, hingga mereka yang terus menerus belajar sampai merek lulus SMA atau SMK. Seperti tujuan di awal, aku mendirikan bimbel ini adalah untuk menyalurkan ilmu dan meningkatkan kemampuan  siswa yang merasa kurang dengan bekal dari sekolah.

Selain itu, tujuanku adalah sambil mendidik anak-anak ku sendiri hingga mereka lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi berikutnya. Kenyataannya memang aku memegang sendiri pendidikan tambahan mereka di luar sekolah seperti mengaji, dan pelajaran-pelajaran dasar. Alhamdulillah, ketiganya lulus dengan nilai matematika yang lumayan di atas rata-rata.

Dasar ilmu yang kumiliki adalah Pendidikan Matematika. Berbekal pengalaman merasakan belajar matematika itu kurang karena guruku di sekolah kurang menguasai dan sebagian membuatku memandang minus pada pelajaran matematika, aku tertantang untuk menjadi guru matematika setelah lulus dari D-3 pendidikan Matematika.

Sempat kurang percaya diri, menghindari, bahkan tidak fokus dan sempat menekuni dunia TPA taman pendidikan Al-Qur'an. Namun akhirnya sejak 2003 mantap menekuni secara profesional dan mendalam. Akhirnya begitu fokus, bahkan ketiga buah hati bisa kululuskan dengan nilai terbaik.
Kini ketiganya sudah beranjak dewasa, sulung sudah  hampir selesai setelah terlena oleh pekerjaan dan membuatnya molor 4 semester. Sampai ketika dia sudah berteriak, "Bu Abang lelah jadi mahasiswa" baru kini bersungguh-sungguh menyelesaikan sidangnya Oktober ini, inshaallah. Tengah tak terasa sudah semester tujuh setelah sempat bekerja satu tahun baru melanjutkan kuliah.

Ini memang permintaanku, setalah aku mengabulkan keinginan mereka untuk bekerja dulu baru kuliah. Begitu juga dengan bungsu, setelah setahun bekerja dan diangkat menjadi karyawan tetap mengikuti permintaanku untuk melanjutkan kuliah. Aku memang menyemangati ketiganya, bahwa kelak mereka akan menjadi imam dan kepala keluarga. Harus bisa fight di dunia yang sudah bergerak di generasi industri 4,0.

Dimana persaingan dan tantangannya semakin berat jika kita tidak mau belajar. Belajar memang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, alangkah baiknya jika selagi muda mereka bisa menyelesaikan s-1 selagi aku masih hidup dan menjadi saksi pendewasaan mereka. Berharap bisa terus menjadi manfaat bagi anak-anakku dan keluarga, menunggui mereka ketiganya menikah dan memberiku cucu adalah keinginan yang terdalam.

Semoga Allah mengabulkan permohonanku dan mengijinkan aku mendampingi mereka hingga mereka memberiku cucu kelak, generasiku berikutnya yang lebih baik dan Sholeh dari ketiganya.

#generasijuli
#ibusekolahpertamaanak

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.

Jumat, 12 Oktober 2018

15 Tahun Aku Dibesarkan Oleh Pembunuh Ayahku

Ditinggal oleh ayah yang sangat menyayangiku sebagai anak tunggal dalam keluarga, adalah sebuah pukulan berat. Terlebih enam bulan kemudian, ibuku yang sangat mencintai ayah juga tak sanggup kehilangan dan menyusulnya dengan cara bunuh diri.

Tidak ada satupun yang mau merawat dan membesarkan ku setelah ditinggal kedua orang tuaku. Kakek, dan bibiku tidak ada yang mau dan sanggup merawat ku dengan seribu alasan. Saat itu, aku merasa seperti anak yang tak berguna dan hanya pembawa sial bagi siapapun. Tak tahu harus apa, sementara rumah ini terlalu besar untukku sendiri di usia yang belum genap 10 tahun.

Akhirnya adik ayahku, paman memutuskan untuk membawaku pulang ke rumahnya. Aku hanya bisa diam dan mengikuti langkah paman. Setibanya di rumah paman, kulihat pemandangan yang menyedihkan. Ternyata dengan dua anak laki-laki dan istri paman selama ini hidup dalam kekurangan. Namun, semangat mereka untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya dan aku patut kuacungi jempol.

Aku bertekad untuk belajar dengan giat dan berusaha maksimal. Karena sadar bahwa aku bukanlah anak kandung paman. Jadi aku harus bisa membalas budi paman dan bibi yang telah mau merawat dan membesarkan ku. Menjadi orang tuaku melanjutkan kasih sayang yang telah hilang setelah kematian mereka berdua.

Ketika masuk SMA, paman memutuskan untuk menghentikan sekolah anak pertamanya, karena nilainya tidak cukup untuk masuk ke perguruan tinggi. Beliau mengajaknya untuk bekerja di bengkel untuk menemaninya, untuk membiayai sekolahku dan anak kedua paman. Keduanya sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, karena sangat menjagaku.

Selesai kuliah, aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke program pasca sarjana. Namun, mengingat biaya tidak sedikit dan kasihan dengan paman dan kakak lakiku yang pertama, aku akhirnya mengurungkan keinginan mengambil kesempatan itu. Aku memutuskan untuk bekerja di luar kota yang menjanjikan gaji lumayan.

Setelah dua tahun bekerja, aku mulai mengenal laki-laki yang sangat ingin menjadikanku istri. Terlebih, setelah memutuskan untuk berhijab aku tak ingin berpacaran. Begitu juga calonku, tidak ingin mempermainkan diriku sebagai seorang muslimah. Setelah enam bulan saling mengenal dengan baik, laki-laki itu melamarku dan akupun langsung menyetujui lamarannya.

Kuajak calon suamiku untuk menemui paman, bibi dan kedua kakakku saat pulang ke kampung halamanku. Alhamdulillah semua mendukungku dan mengijinkan calon suamiku menikahiku. Bibiku, dengan sedih menangis dihadapan calonku. Beliau bagiku sudah seperti ibuku sendiri. Karena dengan tulus mau melanjutkan kasih sayang ibu yang telah pergi meninggalkan ku untuk menyusul kematian ayah.

Tiba hari pernikahan kami, paman dan keluarganya hadir sebagai waliku. Setelah akad nikah dan akan melanjutkan resepsi, kulihat paman menangis seperti tak sanggup melihat pernikahanku. Tentu aku bingung ada apa? Bibi yang segera menyusul paman juga bingung. Dibawanya aku ke sebuah ruangan oleh paman disaksikan bibi. Suamiku memberi kesempatan kami untuk berbicara bertiga saja.

Lalu paman dengan terisak menyampaikan sebuah rahasia yang selama 15 tahun dipendamnya. Sebuah rahasia tentang kematian ayahku yang mendadak mengalami kecelakaan yang berakibat kematian. Di situ, paman mengatakan, bahwa sebelumnya paman dan ayahku mendapat pembagian warisan dari kakekku. Namun, ayahku mendapat pembagian paling besar sehingga paman merasa tidak adil. Ayahkupun tidak peka dengan perasaan, padahal keluarga paman hidup dalam kekurangan.

Pada suatu hari menjelang kematiannya, pamanku ingin memberi pelajaran kepada ayahku, dengan mengendurkan rem motornya. Namun, demi menyelamatkan paman sebagai adiknya, ayahku memilih banting stir ke pembatas jalan. Fatal justru mengenai kepalanya dan langsung meninggal seketika di tempat.

Aku yang mendengar rahasia itu menjadi shock dan tak tahu harus berbuat apa. Aku menangis sejadi-jadinya karena merasa pamanlah penyebab kematian ayah dengan sengaja. Sehingga akupun harus kehilangan kedua orang tuaku kini. Namun, mengingat resepsi akan berlangsung aku berusaha menahan emosiku saat itu.

Tiga hari kemudian, aku mengajak suamiku untuk kembali pulang kampung menyusul paman dan keluarga yang sudah lebih dulu pulang sehari setelah pernikahan kami. Aku memang sempat tak bercerita, karena bingung harus bagaimana. 

Sesampainya di sana, aku dan paman bertengkar hebat. Bibipun ikut menyalahkan paman sampai pingsan berkali-kali tak sanggup melihat kemarahan ku. Kedua kakak laki-laki ku marah dan menganggap bahwa aku tidak berperasaan.

Mereka memintaku untuk bisa menerima ini semua sebagai bagian dari takdirNya. Suamiku yang mendengar semua pembicaraan kamipun, berusaha melerai dan menyadarkanku. Bahwa kematian itu Allah yang berkehendak. Jalannya lewat pamanku, yang awalnya hanya berniat memberi pelajaran pada ayahku. Ternyata, berakibat pada kematian.

Sehebat apapun rencana manusia jika Allah belum berkehendak tentu tidak akan ada kematian ayah. Namun, Allah lebih sayang pada ayah yang harus meninggal dengan cara seperti itu. Begitu juga ibu yang menyusul, karena rapuh imannya merasa cintanya pergi. Lalu ibu bunuh diri, padahal bukan itu yang Allah kehendaki. Semua punya waktunya kapan pergi atau mati, namun bukan diminta atau mematikan diri sendiri. Dan itu sudah berlalu.

Suamiku sambil memeluk dengan sayang mengatakan, bahwa rencana Allah lebih indah untuk umatnya. Pasti ada hikmahnya. Kalau tidak, tentu kami tidak akan pernah bertemu dan menikah. Itu adalah jalan dan bagian dari perjalanan hidupku. Suamiku mengajakku untuk memafkan paman dan keluarganya, dan melupakan semua sakit hatiku. Mungkin buatku pamanku adalah pembunuh, tapi mereka telah menebusnya dengan membesarkan ku dan merawat kulit Dengan amat baik.

Saat itu aku masih terpukul dan marah, namun baktiku sebagai istri membuatku harus merenungi semua kata-katanya. Belajar memaafkan dan menerima takdir Allah atas hidupku. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih ikhlas melepas kematian orang tuaku selama ini. Karena bagaimanapun, Allah pemberi hidup manusia Dia juga yang berhak mengambilnya. Melalui jalan yang dikehendakinya. Tugasku hanya berusaha menerima takdir.

Semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari kisah nyata kehidupanku.

Postingan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community'.
Diambil dari kisah inspiratif tribunnews.com

Pentingnya Melatih Kemandirian Sejak Dini

Stemit.com Kalau Emak sebagai orangtua selalu dengan mudah memberi pertolongan kepada anak, sesungguhnya kita sudah berkontribusi un...